Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Raut
0
Suka
6,742
Dibaca

Aku selalu memperhatikan wajah orang.

Bukan karena aku suka menatap, tapi karena dari sana, aku bisa tahu apa yang tidak mereka katakan.

Ada orang yang tersenyum, tapi matanya seperti sedang berlari.

Ada pula yang tertawa, tapi dagunya bergetar pelan, menahan sesuatu yang ingin tumpah.

Dan ada juga yang diam, tapi di setiap garis di pipinya, ada kisah yang belum sempat selesai.

Kau dulu sering bilang aku terlalu peka.

“Tidak semua hal harus kamu baca dari wajah orang,” katamu.

Tapi aku tidak bisa berhenti.

Karena waktu itu, aku belajar bahwa raut adalah tempat di mana manusia paling jujur dan paling rapuh.

Aku ingat raut wajahmu di hari terakhir.

Bukan marah, bukan sedih, tapi seperti seseorang yang baru saja menyerahkan sesuatu yang berharga tanpa tahu apakah akan dikembalikan.

Matamu tampak tenang, tapi aku tahu itu tenang yang dibuat-buat.

Seperti laut yang memantulkan cahaya sore indah, tapi menyembunyikan pusaran di dalamnya.

Aku tidak menahanmu waktu itu.

Bukan karena aku rela, tapi karena aku takut membaca raut wajahku sendiri di matamu.

Takut melihat bayangan seseorang yang terlalu berharap.

Sekarang, setiap kali bercermin, aku mencari raut itu.

Kadang ada, kadang hilang.

Wajahku berubah seiring waktu, tapi mataku tetap sama menyimpan seseorang yang tak lagi menatap balik.

Orang bilang waktu bisa menghapus segalanya.

Tapi tidak untuk raut.

Ia tinggal di sana, diam di bawah kulit, seperti rahasia yang menolak mati.

Hari ini aku melihat seseorang yang mirip denganmu di stasiun.

Bukan dari pakaian atau suara, tapi dari cara ia menatap jendela datar, tapi dalam.

Raut yang sama, seolah menyimpan seluruh percakapan yang tidak pernah selesai.

Aku tidak memanggil.

Aku hanya menatap, membiarkan waktu lewat di antara kami.

Ada yang aneh dari manusia, ya?

Kita lupa suara, lupa sentuhan, tapi tidak pernah benar-benar lupa raut seseorang yang pernah kita cintai.

Wajah mereka terus muncul di cermin, di mimpi, di orang asing yang tak tahu apa-apa tentang kita.

Malam ini, aku menatap pantulan wajahku di jendela.

Di luar, lampu kota berpendar lembut.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat raut yang berbeda lebih tenang, tapi tidak lagi kosong.

Mungkin bukan karena aku sudah melupakanmu, tapi karena aku mulai belajar menerima bahwa tidak semua wajah yang hilang perlu ditemukan kembali.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Raut
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Temanku Om-Om
Geovania Loppies
Novel
Wira
Nazarulloh R
Novel
Gold
Guru Para Pemimpi
Mizan Publishing
Flash
Marsha
Faristama Aldrich
Flash
Bronze
Teduh Terang
B12
Flash
Bronze
Kau tau aku mencintaimu?
Sicksix
Flash
CERITA CINTA DARI SMA KU
Mu Xuerong
Novel
Aisyah Humaira
Roffiey Zain
Novel
Bronze
Dua Jingga
Nurmalasari
Flash
Tak sama
Anisa Dhea Pratiwi
Cerpen
BUNGA KUNING KAMBOJA BALI
Lian lubis
Novel
Revenge In Love
AgathaQuiin20
Novel
Hallo, Cinta Yang Kutulis Di Catatan Fisika
Mba Rerima
Skrip Film
KOFFEIN, less or more you still needed
Evy Andriani
Rekomendasi
Flash
Raut
lidia afrianti
Flash
Cinta Tanpa Pamrih
lidia afrianti
Flash
Suar
lidia afrianti
Flash
Ternyata Kita Pembohong
lidia afrianti
Flash
Jejak
lidia afrianti
Flash
Kenapa kita kura-kura
lidia afrianti
Flash
SELF
lidia afrianti
Flash
Apakah kamu pernah mencintaiku?
lidia afrianti
Flash
Hari Ketika Aku Mati Sebentar
lidia afrianti
Flash
Kalau saat itu aku tidak diam. . .
lidia afrianti
Flash
10 Days Without Permission
lidia afrianti
Flash
Rumus Manual ayah
lidia afrianti
Flash
Kesempatan Kedua
lidia afrianti
Flash
Aku, Cinta Dan Kamu
lidia afrianti
Flash
Khas Jatuh Cinta
lidia afrianti