Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Ramai
1
Suka
2,924
Dibaca

Kafe itu selalu penuh menjelang malam. Lampu-lampu kuning menggantung rendah, menciptakan bayangan lembut di atas meja-meja kecil. Suara cangkir beradu, pintu terbuka-tutup, tawa yang datang dan pergi. Semua terasa hidup dan asing.

Aku duduk di pojok yang sama seperti dulu, tempat kita biasa bertukar cerita. Di depanku, secangkir kopi sudah kehilangan asapnya. Aku menatap permukaannya yang tenang, seolah di sana ada jawaban dari semua yang tidak sempat kita bicarakan.

Lucu, ya. Dulu aku tidak tahan berada di tempat ramai seperti ini. Kau yang memaksaku datang pertama kali, bilang bahwa suasana bising bisa menenangkan. “Keramaian itu cara dunia menyembunyikan kesedihan,” katamu sambil tertawa kecil. Aku mengiyakan, meski tidak benar-benar mengerti. Sekarang, setelah kau pergi, aku baru tahu maksudnya.

Ada dua orang di meja sebelah, sedang berdebat tentang hal sepele. Aku bisa mendengar setiap kata, tapi tak satu pun masuk ke kepalaku. Semua suaranya kabur, seperti gema dari dunia lain. Aku hanya mendengar satu suara-suaramu menggema dari dalam kepalaku, lembut, pelan, dan sangat hidup.

“Kalau suatu hari aku tidak di sini lagi,” kau pernah berkata, “datanglah ke tempat ramai. Di sana kamu bisa pura-pura lupa.”

Aku mencoba. Sungguh.

Tapi setiap kali musik mulai, setiap kali seseorang memanggil nama yang mirip denganmu, dunia mendadak membeku. Aku berhenti bernapas, menunggu kemungkinan yang tidak akan datang.

Mungkin begini rasanya kehilangan: dunia terus berjalan, tapi waktumu berhenti di satu titik yang tak bisa kamu ulangi. Aku masih di sana, di hari ketika kau tersenyum terakhir kali, di antara suara kendaraan, dan langit yang terlalu biru untuk hari perpisahan.

Seseorang menabrak kursiku, meminta maaf singkat, lalu pergi lagi. Aku mengangguk tanpa bicara. Tidak ada yang tahu aku sedang berusaha keras menahan diri agar tidak menangis di tengah keramaian.

Lucu sekali aku pernah berpikir kesepian itu hanya milik orang yang sendirian. Tapi ternyata, kesepian sejati justru hidup di tempat paling bising.

Aku melihat ke arah pintu. Setiap kali terbuka, aku menunggu wajahmu muncul di antara orang-orang asing. Tapi yang datang hanya bayangan. Mungkin aku memang terlalu lama menunggu sesuatu yang tidak akan kembali.

Kopi itu akhirnya kuminum. Rasanya pahit, tapi hangat sedikit di tenggorokan. Seperti perasaan yang tidak pernah benar-benar pergi hanya bertransformasi jadi kenangan yang lebih bisa kuterima.

Di luar, hujan mulai turun. Suaranya menenggelamkan semua percakapan di dalam kafe. Untuk sesaat, dunia menjadi lebih tenang. Aku menutup mata, membiarkan air mataku jatuh bersamaan dengan suara hujan.

Ramai sekali malam ini.

Namun hanya aku yang tahu: di tengah segala suara, aku sedang berbicara dengan seseorang yang sudah lama diam.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Gold
Sembilu
Bentang Pustaka
Flash
Ramai
lidia afrianti
Novel
Our Secret Love
Mutiara Putri Muskha
Novel
Selatan : Sebelas Anak Sultan
Alwinn
Novel
LARA 1998
WiRahayuSsi
Novel
Bronze
Neglected
Putri Lailani
Novel
HURT ME
Anastasya putri
Novel
Kersen Merah Jambu
Fasihi Ad Zemrat
Flash
Pengagum rahasia mu
Anisa Dhea Pratiwi
Novel
that moment when you realized you're (not) in love
kvease
Flash
Cerita Tentang Hujan
bomo wicaksono
Flash
Bronze
YANG KAYA ITU BAPAK KU BUKAN AKU
Okhie vellino erianto
Cerpen
Bronze
kutukan Bulan
Taufik reja waluya
Novel
My Aurora
Ryesana
Novel
Slipped Away
Dominique and Aurel
Rekomendasi
Flash
Ramai
lidia afrianti
Flash
10 Days Without Permission
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Jejak Yang Tak Terhapuskan
lidia afrianti
Flash
Balasan Surat Untukmu, Sean
lidia afrianti
Flash
Terapi kota
lidia afrianti
Flash
Bronze
Luapan Luka Luna
lidia afrianti
Flash
Tumbuhan Pemakan Rahasia
lidia afrianti
Flash
Apakah kamu pernah mencintaiku?
lidia afrianti
Flash
Sisa Di Gelas
lidia afrianti
Flash
Jika Sudah Lupa, Mari kita Bertemu
lidia afrianti
Flash
Aku berhenti bicara sekarang
lidia afrianti
Flash
Bronze
Hilang di Kota Virtual
lidia afrianti
Novel
Wandering Toward You
lidia afrianti
Flash
Seandainya kita berjuang sedikit lagi
lidia afrianti
Flash
My Battery
lidia afrianti