Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Self Improvement
Surat Untukmu Dariku
0
Suka
663
Dibaca

Kemeja putih, celana hitam, sepatu pantofel. Semuanya masih menatapku penuh tanya. Mungkin mereka ingin marah karena melihatku mendekam di dalam kamar. Atau mungkin mereka ingin mengutuk karena aku masih mengandalkan mereka.

Ketika teman-teman sudah hidup dalam kemapanan, aku masih bergulat menata arah. Kepala sesak oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak berhenti mendesak. Aku takut bertemu siapa pun. Aku tidak mampu mengeja namaku di depan mereka.

Aku tidak diam. Aku terus berusaha. Memupuk harapan. Menolak menjadikan sengsara sebagai tempat peristirahatan terakhirku.

Namun, aku butuh pelukan. Pelukan yang memberi ketenangan. Bukan cercaan yang membuatku merasa kalah dalam segala hal.

Hari-hariku sepi, tetapi bising. Pikiran gaduh. Batin riuh. Entah yang kubuat sendiri, atau yang menyusup bersama nasib buruk.

Aku duduk di ujung kasur lapukku. Kamar terasa lebih pengap dari biasanya. Udara seperti terperangkap dalam nestapa. Bernapas ibarat menggali lubang ke permukaan.

Kubuka lemari, kutelusuri berkas-berkas yang pernah menjadi tumpuan. Rasanya, aku sudah tidak sanggup lagi. Waktu seperti sudah terlalu tua untuk kugenggam. Takdir terlalu sulit untuk kubaca.

Aku menyerah, meski sebenarnya tak mau. Lantas, apa yang bisa kuperbuat, sementara gelap sudah terlampau pekat memayungi asa?

Sebuah amplop, berwarna putih dengan perangko bergambar rumah, tergeletak di atas meja. Berdebu dan pinggirnya menguning. Di ujung kanan atasnya tertulis: Untukku. Tanpa alamat, tanpa pengirim.

Aku tak ingat apa pun tentang amplop itu. Aku juga tak tahu dari mana ia datang.

Kusibak lipatan kertas di dalam amplop itu. Bunyinya seolah membangunkan kenangan yang telah lama tertidur. Tulisan rapat memenuhi setiap sisi surat yang tampak disobek dari tengah buku tulis.

Mataku menelusuri baris-baris itu perlahan. Kata demi kata mendekap lirih.

Kepada aku yang telah dewasa,

Kamu masih ingat mimpi kita, kan? Dulu aku bercita-cita jadi pengacara. Berdiri di depan ruang sidang, memakai jas rapi, membela orang-orang tak bersalah yang tak mampu bersuara. Aku membayangkan kuliah sampai S3, membaca buku sampai mata lelah. Aku suka melihat peta dunia, sambil berikrar bahwa suatu hari aku akan naik pesawat ke semua nama kota-kota yang kuhafal itu. Aku ingin melihat dunia yang luas, bukan sekadar jalan tanah kampung ini.

Sekarang aku tahu hidupmu berat. Aku tahu kamu penat hingga setiap napas terasa perjuangan panjang. Jika bertahan saja sudah susah, bagaimana mau mengejar mimpi besar?

Aku paham itu. Namun, aku ingin mengatakan kita tak perlu malu untuk mengakui kita tak sanggup menepati semua janji-janji masa kecil. Kita telah berupaya sekuat mungkin untuk mewujudukannya. Tetaplah berjuang dengan cara yang kita mampu hari ini.

Akan tetapi, ingat satu hal: mimpi itu bukan beban yang harus diselesaikan dalam sehari. Mimpi adalah arah. Ia tidak hilang hanya karena langkah kita melambat. Kita masih bisa menjadi versi itu, hanya mungkin jalannya berubah. Pengacara bukan sekadar profesi di gedung tinggi, belajar sampai S3 tidak mesti langsung semuanya, dan berkeliling dunia bisa dimulai dari membuka lagi buku satu per satu.

Jangan jadikan luka masa lalu alasan untuk membungkam harapan. Jangan biarkan rasa kalah menenggelamkan semangat kita. Kumohon, jangan tinggalkan aku. Jangan biarkan aku mati di dalam dirimu. Karena aku adalah alasan kamu yang masih berdiri. Kita bertahan bukan karena kuat tanpa cela, tetapi karena kita memilih untuk terus mencoba membangun mimpi-mimpi kita. Kita selalu percaya bahwa setiap keinginan pasti ada jalannya, dan setiap jalan memiliki waktunya tersendiri.

Hidupmu milikmu sendiri. Kamu tidak gagal. Kamu justru berhasil melewati semua yang seharusnya menghancurkanmu. Terima kasih karena telah memilih untuk tetap ada!

Dari,

Aku yang masih 10 tahun.

Wajah kecil nan polos seakan berdiri di hadapanku. Tersenyum. Mengulurkan tangan, mengajak bermain. Ia selalu ceria, penuh percaya diri. Tekadnya tak pernah padam, bahkan saat dunia terasa begitu buram.

Aku menunduk, mengingat semua hal yang sudah kulakukan. Kadang, semangatku menggebu-gebu. Kadang, aku pasrah, mendekati putus asa.

Paham. Tidak semua keinginan akan menjelma menjadi kenyataan. Akan tetapi, jika aku tidak bisa menggapai kesuksesan, jangan labeli aku dengan kegagalan. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Flash
Surat Untukmu Dariku
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Aroma rezeki depan Mesjid
Bang Jay
Novel
Bronze
Serigala Rimba Beton
Davie Al-Fattah
Cerpen
Hari Ini Aku Datang Lebih Awal
Aulia umi halafah
Cerpen
Pertunjukan Air Mata
Ictos Gold
Flash
Langkah Pertama
Penulis N
Novel
Diary Bipolar
Farikha Salsabilla Putri
Flash
Bronze
Dunia Tanpa Sapu
Titin Widyawati
Flash
Bronze
Gadis yang Mati di Atap
verlit ivana
Flash
Gadis Lentera
Alya Nazira
Flash
Topografi Luka
Wulan Kashi
Flash
Uang Panas
Hans Wysiwyg
Cerpen
Putus, Tapi Nggak Putus Asa
Tresnaning Diah
Novel
Kepin(?)
Saniatu Aini
Flash
Aruna dan Robin
Hans Wysiwyg
Rekomendasi
Flash
Surat Untukmu Dariku
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Rasa yang Tak Bisa Kembali
Jasma Ryadi
Flash
Senja yang Dilepas
Jasma Ryadi
Flash
Mengapa Harus Ada Cinta dalam Pernikahan
Jasma Ryadi
Flash
Aku dan Sebatang Rokok di Tangannya
Jasma Ryadi
Flash
Di Barisan Belakang
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Firasat Mimpi
Jasma Ryadi
Flash
Republik Kucing
Jasma Ryadi
Flash
Satu Langkah Setelah Luka
Jasma Ryadi
Flash
Sosok yang Lain
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Kota Kosong
Jasma Ryadi
Flash
Tuhan, Jadikan Hariku Senin Selalu
Jasma Ryadi
Flash
Sepatu Basah
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Kembalinya Sang Penari
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Potongan Tangan
Jasma Ryadi