Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Tiga Ketukan Sunyi
0
Suka
7,590
Dibaca

Pukul empat lewat lima belas menit. Selalu di angka tersebut. Ketukan di pintu dapur bergema pelan, tiga kali, lalu hilang. Tidak ada angin. Tidak ada langkah. Hanya suara teratur dan sabar, seolah tahu aku masih terjaga.

Sudah seminggu sejak Ibu dimakamkan. Rumah terasa sunyi dan sempit. Tak ada lagi pagi yang mengepul dengan aroma sereh dan salam. Namun, wangi minyak kelapa masih samar-samar mengisi udara. Kemudian, ketukan itu datang.

Semasa hidupnya, Ibu selalu menaruh gunting kecil dan parasani di bawah bantalnya. Katanya, agar tidur bisa lelap dan tak tersesat. Juga, untuk mencegah mimpi buruk ikut terbawa ke alam nyata.

Aku sempat menggugat hal itu. Aku bilang perbuatannya masuk ke ranah syirik. Ia terlalu banyak menyimpan kegelisahan sendiri. Akan tetapi, ia menyangkalnya dengan keras, “Ini namanya nyareat, Gus. Biar tidur kita nggak diganggu setan.”

Mungkin Ibu benar. Itu warisan leluhur. Hanya saja, aku tak akan pernah mengikuti caranya. Tak akan pula mendebatnya lagi.

Malam ketiga, aku masuk ke kamarnya. Aku lihat dua benda itu saling menempel di bawah bantalnya. Ada hasrat untuk menyingkirkannya, tetapi urung kulakukan. Entah mengapa, aku takut Ibu marah kepadaku.

Aku duduk di ruang tengah. Bukan berniat menunggu. Hanya belum menemukan cara untuk memejamkan mata.

Ketukan itu memanggil dari luar. Kutarik daun pintu perlahan. Tidak ada jejak yang tertangkap, kecuali piring kosong di meja bersama cangkir yang berembun. Padahal, aku ingat betul sudah membereskan dapur, dan menyimpan semua perabot ke lemari.

Aku terhenyak kala mendapati sidik jari di pinggir piring dan cangkir itu. Kurus. Kecil. Mirip dengan jari-jari Ibu.

Benarkah Ibu belum meninggalkanku sepenuhnya? Ataukah ia tidak tahu ke mana harus pulang? Entah.

Malam-malam berikutnya aku memilih menutup telinga. Aku tak peduli pada suara-suara yang datang di waktu yang berulang. Namun, di malam ketujuh aku menyerah.

Aku mulai menyiapkan secangkir teh dan sepiring nasi di meja makan, setiap malam. Jika benar itu adalah Ibu, maka ia tak perlu lagi mengetuk pintu. Tak perlu lagi khawatir kepadaku.

Aku akhirnya benar-benar menunggu. Aku berdiri di ambang pintu sambil menghitung angka yang berputar di dinding.

“Bu, kalau itu Ibu, masuk saja,” ucapku, mendahului ketukan yang akan menyapa.

Tidak ada jawaban. Tidak ada bunyi tangan yang mengadu dengan kayu.

Aku masuk ke kamar. Salat, lalu beristirahat sejenak. Merebahkan segala keganjilan dalam doa.

Aku pikir semuanya selesai. Aku ke dapur, menyiapkan sarapan untuk diriku sendiri. Kulihat cangkir di atas meja bertambah. Satu yang sengaja kusiapkan semalam, satunya lagi berisi teh yang tinggal setengah. Di atas piring, nasi berubah menjadi gunting kecil dan parasani.

Pandanganku terpaku. Mungkin Ibu memang belum pergi. Ia masih ada sini, masih memperhatikanku.

Tiba-tiba dari arah kamarku terdengar tiga kali ketukan. Tenang. Lembut. Disertai panggilan halus namaku, seperti seorang ibu yang tahu anaknya masih pura-pura tidur.

“Bu, aku baik-baik saja,” seruku.

 

Glosarium:

·      Parasani: persani; semprani; magnet.

·      Syirik: perbuatan menyekutukan Allah dengan yang lain.

·      Nyareat: syareat; melaksanakan syariat; berupaya mencari sesuatu (dalam konteks ketenangan batin atau kesembuhan).

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Tiga Ketukan Sunyi
Jasma Ryadi
Novel
Gold
Fantasteen Pangeran Mimpi Zera
Mizan Publishing
Cerpen
Bronze
Sawan Mayit
Zee Lesta
Novel
Di Antara Rumah yang Kosong
Imajiner
Novel
DELAPAN
Ceko Spy
Flash
Bayangan di Lorong Sekolah
Haris Hidayat
Flash
Bronze
Makhluk Bertaring di Bibir Sumur
Abdi Husairi Nasution
Skrip Film
HIDUP DENGAN MAYAT
Herman Sim
Novel
Lantai 4 (End)
Faizal Ablansah Anandita, dr
Cerpen
Bronze
Ada Pocong di Kamarku
Abdi Husairi Nasution
Cerpen
Bronze
Rumah Misteri
SUWANDY
Novel
Lemari Tua
Monica Melinda
Cerpen
Bronze
Kutukan Keluarga III : Pageblug
Nisa
Cerpen
Bronze
Jejak Sekuntum Mawar
Dwi Fitriani
Flash
Bronze
Aku Wis Tekan.
Rere Valencia
Rekomendasi
Flash
Tiga Ketukan Sunyi
Jasma Ryadi
Flash
Semangkuk Bakso
Jasma Ryadi
Flash
Sisa Rindu
Jasma Ryadi
Flash
Mengasuh Sabar
Jasma Ryadi
Flash
Warisan Keris
Jasma Ryadi
Flash
Sosok yang Lain
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Tidak Menikah?
Jasma Ryadi
Novel
Akar di Kepala Ibu
Jasma Ryadi
Flash
Diam yang Menghukum
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Kota Kosong
Jasma Ryadi
Flash
Dahlia
Jasma Ryadi
Flash
Republik Kucing
Jasma Ryadi
Flash
Residu
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Rasa yang Tak Bisa Kembali
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Izinkan Aku Menginap Semalam
Jasma Ryadi