Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Republik Kucing
5
Suka
16,489
Dibaca

Aku lahir di belakang gedung kosong yang suram, berlapis debu tebal dan kardus lembap. Ibuku bilang kami keturunan kucing kampung yang tak pernah diberi nama. Namun, kami sering dipanggil “brengsek”, “dasar liar”, atau “husss, pergi!” Aku pikir nama-nama tersebut cukup indah, sampai aku mendengar manusia memanggil kucing di rumah mereka dengan suara lembut: “Chiko… Marvel… Jolie…”

Nama mereka terdengar begitu manis dan suci. Mereka punya identitas jelas, sementara aku hanya punya segenggam harga diri.

Suatu malam, di atas gunungan sampah, sekelompok kucing berkumpul. Seekor jantan hitam berdiri di gundukan paling atas. Matanya menyerupai bara bekas pembakaran.

“Saudara-saudara senasib,” laungnya, “berapa lama lagi kita akan jadi bayangan di bawah kaki manusia? Manusia hanya memilih yang lucu dan bersih. Mereka memberi nama pada kucing yang duduk di pangkuan mereka, tapi menendang kita yang menatap dari luar jendela.”

Seekor betina buntung berteriak, “Mereka mensterilkan kita agar tak beranak. Mereka sebut itu cinta, padahal itu ketakutan.”

Sorak-sorai menggema, memecah udara kering. Semuanya mengungkapkan kisah getir menjadi kucing yang tak dianggap.

Aku, kucing abu-abu bernama Rey—nama yang kupilih sendiri—hanya menonton di barisan paling belakang. Aku mendengarkan. Aku memperhatikan dengan saksama.

Mereka mendeklarasikan Serikat Kucing Independen. Mereka berkata bahwa akan membangun Republik Kucing, di mana setiap bulu dihargai sama adil, tak peduli dari salon atau selokan.

Mereka punya rencana untuk mengkudeta manusia, mengambil alih kuasa dunia. Tentu saja, bukan dengan senjata, melainkan dengan naluri. Ada cakar, gigitan, bahkan mungkin dendam.

***

Sisa hujan masih membekas di aspal. Tekad menyala, mengalirkan cahaya dan keberanian. Kami menyerbu saat manusia terlelap bersama para kesayangan mereka.

Gerombolan dari pasar, pelabuhan, dan kuburan hewan berjalan senyap laksana kabut. Kami masuk melalui genteng, menuruni atap, dan menerobos jendela. Kami jatuhkan vas bunga, gulingkan akuarium, tumpahkan susu yang selama ini bukan untuk kami.

Kami siap. Namun, ada derap yang tak diundang. Ramai. Berduyun-duyun. Mereka merapat, membentuk barisan seperti benteng kerajaan.

Rupanya kucing-kucing rumahan berupaya melindungi tuannya. Kami tak menduga aksi kami berhembus ke telinga mereka.

Seekor Persia putih melangkah ke depan. Bulunya berkilau bagai kapas yang tak pernah tersentuh debu.

“Hentikan!” katanya. Lembut, tetapi tegas. “Manusia bukanlah musuh. Mereka adalah teman.”

Kami tertawa. Ucapannya sangat menggemaskan.

“Sudah pasti kau akan bilang seperti itu. Kau minum dari mangkuk porselen, sedangkan kami dari genangan yang tak mengenal tempat. Apa yang kau tahu tentang rasa lapar?” balas pemimpin kami, kucing hitam, menyeringai sinis.

Persia itu gemetar. “Aaa… aku tahu. Aku juga tahu hangatnya tangan manusia. Mereka selalu memangkuku dengan penuh kasih. Telapak mereka mungkin pernah menjadi cap dalam tubuh kita, tapi masih ada jari-jari mereka yang mengelus dengan tulus,” belanya, sedikit terbata.

Pertarungan pun pecah. Bulu-bulu berterbangan bak salju palsu. Kucing rumah mencakar dengan takut-takut, sementara kucing jalan mengaum dengan lapar yang sudah lama menggerogoti perut.

Kejar-mengejar terjadi. Di bawah lampu taman, perkelahian bergejolak layaknya revolusi yang gagal disyairkan.

Seekor kucing tua muncul dari bawah gorong-gorong. Separuh wajahnya hilang, satu matanya buta. Suaranya serak seakan kehabisan daya.

“Aku Kalam,” ujarnya, berdiri di antara kami. “Dulu, aku juga sama seperti kalian. Aku hidup dari tong sampah, mencuri ikan, dan menunggu sisa tulang. Aku benci manusia. Tapi suatu hari, seorang anak kecil membungkusku dengan handuk. Dia memandikanku, lalu menjemurku di bawah matahari. Aku bisa bertahan karena uluran tangannya.”

Kami terdiam. Tak ada yang menjawab.

Hujan kembali turun. Deras dan keras. Cucurannya menghapus jejak darah yang sempat menetes ke tanah.

Kalam menatap kami satu per satu. Matanya kosong, tetapi tampak begitu jernih. “Manusia memang pilih kasih. Mereka hanya mencintai keindahan dan kepatuhan. Tapi tidakkah kita juga begitu? Kita memilih untuk membenci sebelum mencoba memahami. Lantas, apa bedanya kita dengan mereka?”

Ia kemudian berjalan ke arah Persia putih. “Dan kau, jangan terlalu bangga dengan namamu. Nama bukan jaminan cinta, melainkan hanya tanda bahwa kau pernah dibutuhkan.”

Suasana hening total. Titik-titik air bahkan membisu di atas punggung kami.

Dari kejauhan, ada pintu rumah terbuka. Seorang anak kecil keluar, berlari sambil membawa piring besar. Butiran-butiran kemerahan tertata di atasnya. Aromanya menggugah dan mewah. Ia meletakkannya di hadapan kami. Setelah itu, ia mengusap kepala kami, dan masuk lagi ke rumahnya dengan meninggalkan senyuman.

Kami semua menatap piring itu. Putih. Tenang. Pinggirannya memantulkan wajah-wajah kami yang bersih, yang kotor, yang cacat, dan yang sebagian tak memiliki tujuan hidup.

Aku mendekat, tetapi bukan untuk mencicipinya. Aku hanya ingin melihat diriku.

Ketika wajahku memantul tipis di sela para kucing, entah mengapa, aku merasa muak. Bukan kepada manusia. Bukan pada kucing rumah. Aku muak pada dunia yang memaksa setiap makhluk hidup membuat kubu.

Aku berpaling, melangkah pergi. Di belakangku, pertarungan telah usai. Kucing-kucing menjilati luka masing-masing. Beberapa menangis tanpa suara.

Malam kian basah. Cahaya kian pasrah. Aku terus berjalan menerjang laju angin—menyeberangi jembatan, ladang, dan rel kereta—mencari tempat yang tak ada manusia. Hanya ada kucing, kucing, dan kucing.

Mungkin tempat itu tak pernah ada. Akan tetapi, aku tidak akan pernah berhenti mencari demi mengibarkan benderaku sendiri.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Pinjaman Berbunga Cinta
SURIYANA
Flash
Republik Kucing
Jasma Ryadi
Cerpen
Dua Puluh Enam Makam Tanpa Nama
Muhammad Ilfan Zulfani
Flash
Cheese Lovers
Hans Wysiwyg
Novel
Bayang Cinta Di Balik Tirai
Gie
Flash
BEAUTY STANDARD
M Fadly Hasibuan
Flash
Bronze
Pasti ada bagus nya
Eva yunita
Novel
Detik
Vidharalia
Novel
Gold
KKPK Marley Days With Me
Mizan Publishing
Skrip Film
Semesta dalam Elegi Biru
Hasna Khairunisa
Flash
Burung-Burung Baiduri
Silvia
Flash
Di Antara Altar dan Mimbar
Rahmi Azzura
Novel
Bronze
Tetes Embun
Elawati
Flash
Di Balik Jari-jari
Martha Z. ElKutuby
Flash
SHIKI -Tanda Kepemilikan- pt.1
Kosong/Satu
Rekomendasi
Flash
Republik Kucing
Jasma Ryadi
Flash
Tiga Ketukan Sunyi
Jasma Ryadi
Flash
Mengapa Harus Ada Cinta dalam Pernikahan
Jasma Ryadi
Flash
Dekapan yang Hilang
Jasma Ryadi
Flash
Aroma Pukul Tiga Pagi
Jasma Ryadi
Flash
Bu, Mengapa Orang-Orang Mati?
Jasma Ryadi
Flash
Di Tepi Jurang
Jasma Ryadi
Flash
Layangan di Langit Hitam
Jasma Ryadi
Flash
Badut Biru
Jasma Ryadi
Flash
Telepon
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Kota Kosong
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Semangkuk Mi Ayam Sebelum Mati
Jasma Ryadi
Flash
Anatomi Tempat Tidur
Jasma Ryadi
Flash
Residu
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Ketika Milo Mati
Jasma Ryadi