Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Republik Kucing
5
Suka
14,115
Dibaca

Aku lahir di belakang gedung kosong yang suram, berlapis debu tebal dan kardus lembap. Ibuku bilang kami keturunan kucing kampung yang tak pernah diberi nama. Namun, kami sering dipanggil “brengsek”, “dasar liar”, atau “husss, pergi!” Aku pikir nama-nama tersebut cukup indah, sampai aku mendengar manusia memanggil kucing di rumah mereka dengan suara lembut: “Chiko… Marvel… Jolie…”

Nama mereka terdengar begitu manis dan suci. Mereka punya identitas jelas, sementara aku hanya punya segenggam harga diri.

Suatu malam, di atas gunungan sampah, sekelompok kucing berkumpul. Seekor jantan hitam berdiri di gundukan paling atas. Matanya menyerupai bara bekas pembakaran.

“Saudara-saudara senasib,” laungnya, “berapa lama lagi kita akan jadi bayangan di bawah kaki manusia? Manusia hanya memilih yang lucu dan bersih. Mereka memberi nama pada kucing yang duduk di pangkuan mereka, tapi menendang kita yang menatap dari luar jendela.”

Seekor betina buntung berteriak, “Mereka mensterilkan kita agar tak beranak. Mereka sebut itu cinta, padahal itu ketakutan.”

Sorak-sorai menggema, memecah udara kering. Semuanya mengungkapkan kisah getir menjadi kucing yang tak dianggap.

Aku, kucing abu-abu bernama Rey—nama yang kupilih sendiri—hanya menonton di barisan paling belakang. Aku mendengarkan. Aku memperhatikan dengan saksama.

Mereka mendeklarasikan Serikat Kucing Independen. Mereka berkata bahwa akan membangun Republik Kucing, di mana setiap bulu dihargai sama adil, tak peduli dari salon atau selokan.

Mereka punya rencana untuk mengkudeta manusia, mengambil alih kuasa dunia. Tentu saja, bukan dengan senjata, melainkan dengan naluri. Ada cakar, gigitan, bahkan mungkin dendam.

***

Sisa hujan masih membekas di aspal. Tekad menyala, mengalirkan cahaya dan keberanian. Kami menyerbu saat manusia terlelap bersama para kesayangan mereka.

Gerombolan dari pasar, pelabuhan, dan kuburan hewan berjalan senyap laksana kabut. Kami masuk melalui genteng, menuruni atap, dan menerobos jendela. Kami jatuhkan vas bunga, gulingkan akuarium, tumpahkan susu yang selama ini bukan untuk kami.

Kami siap. Namun, ada derap yang tak diundang. Ramai. Berduyun-duyun. Mereka merapat, membentuk barisan seperti benteng kerajaan.

Rupanya kucing-kucing rumahan berupaya melindungi tuannya. Kami tak menduga aksi kami berhembus ke telinga mereka.

Seekor Persia putih melangkah ke depan. Bulunya berkilau bagai kapas yang tak pernah tersentuh debu.

“Hentikan!” katanya. Lembut, tetapi tegas. “Manusia bukanlah musuh. Mereka adalah teman.”

Kami tertawa. Ucapannya sangat menggemaskan.

“Sudah pasti kau akan bilang seperti itu. Kau minum dari mangkuk porselen, sedangkan kami dari genangan yang tak mengenal tempat. Apa yang kau tahu tentang rasa lapar?” balas pemimpin kami, kucing hitam, menyeringai sinis.

Persia itu gemetar. “Aaa… aku tahu. Aku juga tahu hangatnya tangan manusia. Mereka selalu memangkuku dengan penuh kasih. Telapak mereka mungkin pernah menjadi cap dalam tubuh kita, tapi masih ada jari-jari mereka yang mengelus dengan tulus,” belanya, sedikit terbata.

Pertarungan pun pecah. Bulu-bulu berterbangan bak salju palsu. Kucing rumah mencakar dengan takut-takut, sementara kucing jalan mengaum dengan lapar yang sudah lama menggerogoti perut.

Kejar-mengejar terjadi. Di bawah lampu taman, perkelahian bergejolak layaknya revolusi yang gagal disyairkan.

Seekor kucing tua muncul dari bawah gorong-gorong. Separuh wajahnya hilang, satu matanya buta. Suaranya serak seakan kehabisan daya.

“Aku Kalam,” ujarnya, berdiri di antara kami. “Dulu, aku juga sama seperti kalian. Aku hidup dari tong sampah, mencuri ikan, dan menunggu sisa tulang. Aku benci manusia. Tapi suatu hari, seorang anak kecil membungkusku dengan handuk. Dia memandikanku, lalu menjemurku di bawah matahari. Aku bisa bertahan karena uluran tangannya.”

Kami terdiam. Tak ada yang menjawab.

Hujan kembali turun. Deras dan keras. Cucurannya menghapus jejak darah yang sempat menetes ke tanah.

Kalam menatap kami satu per satu. Matanya kosong, tetapi tampak begitu jernih. “Manusia memang pilih kasih. Mereka hanya mencintai keindahan dan kepatuhan. Tapi tidakkah kita juga begitu? Kita memilih untuk membenci sebelum mencoba memahami. Lantas, apa bedanya kita dengan mereka?”

Ia kemudian berjalan ke arah Persia putih. “Dan kau, jangan terlalu bangga dengan namamu. Nama bukan jaminan cinta, melainkan hanya tanda bahwa kau pernah dibutuhkan.”

Suasana hening total. Titik-titik air bahkan membisu di atas punggung kami.

Dari kejauhan, ada pintu rumah terbuka. Seorang anak kecil keluar, berlari sambil membawa piring besar. Butiran-butiran kemerahan tertata di atasnya. Aromanya menggugah dan mewah. Ia meletakkannya di hadapan kami. Setelah itu, ia mengusap kepala kami, dan masuk lagi ke rumahnya dengan meninggalkan senyuman.

Kami semua menatap piring itu. Putih. Tenang. Pinggirannya memantulkan wajah-wajah kami yang bersih, yang kotor, yang cacat, dan yang sebagian tak memiliki tujuan hidup.

Aku mendekat, tetapi bukan untuk mencicipinya. Aku hanya ingin melihat diriku.

Ketika wajahku memantul tipis di sela para kucing, entah mengapa, aku merasa muak. Bukan kepada manusia. Bukan pada kucing rumah. Aku muak pada dunia yang memaksa setiap makhluk hidup membuat kubu.

Aku berpaling, melangkah pergi. Di belakangku, pertarungan telah usai. Kucing-kucing menjilati luka masing-masing. Beberapa menangis tanpa suara.

Malam kian basah. Cahaya kian pasrah. Aku terus berjalan menerjang laju angin—menyeberangi jembatan, ladang, dan rel kereta—mencari tempat yang tak ada manusia. Hanya ada kucing, kucing, dan kucing.

Mungkin tempat itu tak pernah ada. Akan tetapi, aku tidak akan pernah berhenti mencari demi mengibarkan benderaku sendiri.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Komik
Bronze
Happiness
Moh yoga
Flash
Republik Kucing
Jasma Ryadi
Novel
Gold
Teman Baru Winda
Mizan Publishing
Novel
DENDAM (kau buat ibu kami menangis, kuhancurkan keluargamu)
Zainur Rifky
Novel
Bronze
Sepincuk Pecel Semanggi
Yulistya Yoo
Skrip Film
Anoksia
Alfian N. Budiarto
Skrip Film
Siulan Malaikat
ANTON SYAHRONI
Flash
Nobody Cares Until You Succes
Dwi Budiase
Novel
Serpihan
Zhein24Art
Novel
keluarga
alditaher
Novel
Bulan Bening di Wajah Ibu
Yosep Rustandi
Skrip Film
Taksa
M Tioni Asprilia
Skrip Film
Love (To be) On Top
Nida C
Flash
Pilih Baju Lagi
Deden Darmawan
Novel
Bronze
I NEED YOU: The Dark Side of Teenagers
Alviona Himayatunisa
Rekomendasi
Flash
Republik Kucing
Jasma Ryadi
Flash
Satu Langkah Setelah Luka
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Data dan Mereka
Jasma Ryadi
Flash
Sepatu Basah
Jasma Ryadi
Flash
Telepon
Jasma Ryadi
Cerpen
Teman yang Tidak Datang ke Pemakaman
Jasma Ryadi
Flash
Aku atau Dia
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Jatuh Cinta di Tahun Kelima
Jasma Ryadi
Flash
Mengasuh Sabar
Jasma Ryadi
Flash
Semangkuk Bakso
Jasma Ryadi
Flash
Bu, Mengapa Orang-Orang Mati?
Jasma Ryadi
Flash
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Bingkai Tak Berujung
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Tanganku di Timur, Hatimu di Barat
Jasma Ryadi
Flash
Teras
Jasma Ryadi