Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Thriller
Keadilan Terakhir
1
Suka
5,690
Dibaca

Ini adalah surat terakhirku.

Aku ingat ketika duduk di kursi belakang mobil. Ayah mengemudi, Pak Hendra—polisi yang selama ini melindungi usaha Ayah—duduk di sampingnya. Adikku di sebelahku, tangannya gemetar. Kami tahu semuanya akan berakhir malam itu.

Ayah menurunkanku di rumah tua milik nenek yang sudah lama kosong. "Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana," katanya. Aku menelepon Ibu dengan suara tercekat: usaha Ayah sudah terendus. Kami menunggu dalam ketakutan.

Kabar datang dini hari. Adikku tewas. Pak Hendra terluka di perut. Ayah selamat.

Pak Hendra mengaku. Dialah yang menikam adikku karena panik. Kecelakaan. Ia menyerahkan diri, mengambil semua kesalahan. Bisnis Ayah aman. Entah kesepakatan apa yang mereka buat, tapi Ayah pulang dengan luka-luka di lengan.

Teriakan histeris Ibu tentang kematian adikku lebih menyakitkan dari apapun. Ia memeluk Ayah dan menangis di bahunya. Kami mengubur adikku dalam diam.

Tiga bulan kemudian, Pak Hendra mengirimiku surat dari penjara.

"Maafkan aku. Aku tidak bisa menyelamatkan adikmu. Ayahmu yang menikamnya. Adikmu mengancam akan membongkar semuanya. Aku mencoba melerai, tapi aku terlambat. Ayahmu menikamku agar terlihat seperti aku yang membunuh. Aku memilih mengaku karena keluargaku sudah dibayar. Aku lelah. Tapi kau berhak tahu."

Dunia runtuh untuk kedua kalinya.

Aku menghadap Ibu dengan surat itu. Tanganku gemetar saat memberikannya. Ia membaca, wajahnya pucat. Lalu ia melipat surat itu perlahan.

"Kita tidak bisa mengubah apapun sekarang," katanya pelan. "Ayahmu sudah memberikan kita kehidupan yang layak."

Ia membakar surat itu di wastafel.

Malam itu, aku menunggu Ibu tidur. Aku tidak bisa membiarkan wanita yang memilih diam itu terus bernapas. Pisau dapur terasa berat di tanganku. Darah mengalir di lantai kamar mandi, sama seperti darah adikku di gudang itu.

Ayah berteriak ketika menemukannya pagi harinya. Polisi datang. Aku tidak lari.

Di ruang interogasi aku mengaku. Aku ceritakan semuanya. Tentang narkoba, tentang adikku, tentang Pak Hendra, tentang Ayah yang sebenarnya pembunuh. Mereka mencatat semuanya.

Tapi tanpa bukti, tidak ada yang bisa dilakukan. Pak Hendra sudah divonis. Kasusnya ditutup.

Ayah datang menjengukku sekali. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya menatapku lewat kaca. Lalu ia pergi dan aku tahu ia akan hidup bebas.

Jadi kuminta tali ini. Kusimpan di balik baju. Malam ini, aku akan menggantung diriku di sel tahanan ini. Aku akan mati menggenggam foto adikku.

Kuharap kematianku menjadi kesaksian yang tidak bisa dibakar Ayah. Kuharap ini adalah keadilan terakhir yang bisa kuberikan untuk adikku.

Surat ini ditemukan di sel tahanan bersama tubuh terdakwa. Kasus ditutup sebagai bunuh diri. Ayahnya hadir di pemakaman, mengenakan jas hitam dan berdiri paling depan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Flash
Keadilan Terakhir
Sekar Kinanthi
Flash
Bingkisan Hitam
Varenyni
Cerpen
Bronze
Paris, 4 Mei
Rere Valencia
Flash
Kasus 99
Allamanda Cathartica
Flash
Sandiwara Berdarah
Allamanda Cathartica
Flash
Bronze
Lift 19:25:49
Afri Meldam
Novel
Bronze
Pembunuhan sang Ratu
Dimas Adiputra
Novel
ARCANA DOMUS
KIN DOUTZEN
Novel
INSIDER TRADING
Vitri Dwi Mantik
Flash
Malang Tak Berbau
Fianaaa
Skrip Film
BAGAIMANA?
Nafika Riyanti
Novel
Gold
Carmine
Noura Publishing
Flash
Bronze
Mimpi Jangkrik
Afri Meldam
Flash
Bronze
Tokek
hidayatullah
Novel
Bronze
Di Bawah Langit Kelam Jakarta
tokohfiksi_
Rekomendasi
Flash
Keadilan Terakhir
Sekar Kinanthi
Flash
Rumah yang Tidak Boleh Kutinggali
Sekar Kinanthi
Flash
Tirai Merah
Sekar Kinanthi
Cerpen
Garis Luka: Prequel Ketika Langit Salah Dengar
Sekar Kinanthi
Cerpen
Heaven is Troubled
Sekar Kinanthi
Cerpen
Reuni Dua Jiwa
Sekar Kinanthi
Flash
Jebakan Cinta Sang Pewaris
Sekar Kinanthi
Flash
Selamanya 24 di 24 November
Sekar Kinanthi
Novel
Jebakan Cinta Sang Pewaris
Sekar Kinanthi
Flash
Kasus Terakhir Rissa
Sekar Kinanthi
Flash
Rumah yang Retak
Sekar Kinanthi
Flash
Hati yang Ingin Pulang
Sekar Kinanthi
Cerpen
Halaman Terakhir
Sekar Kinanthi
Flash
7 Menit yang Tersisa
Sekar Kinanthi
Flash
Benang Merah
Sekar Kinanthi