Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Thriller
Keadilan Terakhir
0
Suka
5,504
Dibaca

Ini adalah surat terakhirku.

Aku ingat ketika duduk di kursi belakang mobil. Ayah mengemudi, Pak Hendra—polisi yang selama ini melindungi usaha Ayah—duduk di sampingnya. Adikku di sebelahku, tangannya gemetar. Kami tahu semuanya akan berakhir malam itu.

Ayah menurunkanku di rumah tua milik nenek yang sudah lama kosong. "Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana," katanya. Aku menelepon Ibu dengan suara tercekat: usaha Ayah sudah terendus. Kami menunggu dalam ketakutan.

Kabar datang dini hari. Adikku tewas. Pak Hendra terluka di perut. Ayah selamat.

Pak Hendra mengaku. Dialah yang menikam adikku karena panik. Kecelakaan. Ia menyerahkan diri, mengambil semua kesalahan. Bisnis Ayah aman. Entah kesepakatan apa yang mereka buat, tapi Ayah pulang dengan luka-luka di lengan.

Teriakan histeris Ibu tentang kematian adikku lebih menyakitkan dari apapun. Ia memeluk Ayah dan menangis di bahunya. Kami mengubur adikku dalam diam.

Tiga bulan kemudian, Pak Hendra mengirimiku surat dari penjara.

"Maafkan aku. Aku tidak bisa menyelamatkan adikmu. Ayahmu yang menikamnya. Adikmu mengancam akan membongkar semuanya. Aku mencoba melerai, tapi aku terlambat. Ayahmu menikamku agar terlihat seperti aku yang membunuh. Aku memilih mengaku karena keluargaku sudah dibayar. Aku lelah. Tapi kau berhak tahu."

Dunia runtuh untuk kedua kalinya.

Aku menghadap Ibu dengan surat itu. Tanganku gemetar saat memberikannya. Ia membaca, wajahnya pucat. Lalu ia melipat surat itu perlahan.

"Kita tidak bisa mengubah apapun sekarang," katanya pelan. "Ayahmu sudah memberikan kita kehidupan yang layak."

Ia membakar surat itu di wastafel.

Malam itu, aku menunggu Ibu tidur. Aku tidak bisa membiarkan wanita yang memilih diam itu terus bernapas. Pisau dapur terasa berat di tanganku. Darah mengalir di lantai kamar mandi, sama seperti darah adikku di gudang itu.

Ayah berteriak ketika menemukannya pagi harinya. Polisi datang. Aku tidak lari.

Di ruang interogasi aku mengaku. Aku ceritakan semuanya. Tentang narkoba, tentang adikku, tentang Pak Hendra, tentang Ayah yang sebenarnya pembunuh. Mereka mencatat semuanya.

Tapi tanpa bukti, tidak ada yang bisa dilakukan. Pak Hendra sudah divonis. Kasusnya ditutup.

Ayah datang menjengukku sekali. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya menatapku lewat kaca. Lalu ia pergi dan aku tahu ia akan hidup bebas.

Jadi kuminta tali ini. Kusimpan di balik baju. Malam ini, aku akan menggantung diriku di sel tahanan ini. Aku akan mati menggenggam foto adikku.

Kuharap kematianku menjadi kesaksian yang tidak bisa dibakar Ayah. Kuharap ini adalah keadilan terakhir yang bisa kuberikan untuk adikku.

Surat ini ditemukan di sel tahanan bersama tubuh terdakwa. Kasus ditutup sebagai bunuh diri. Ayahnya hadir di pemakaman, mengenakan jas hitam dan berdiri paling depan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Flash
Keadilan Terakhir
Sekar Kinanthi
Novel
The Guesthouse
Panji Pratama
Novel
Bronze
WAR-TEL 89
Rizal Syaiful Hidayat
Novel
Bronze
Krisis Moral
Dodi Spur
Novel
Lubang Kunci
Randy Arya
Flash
Akhir Sebuah Penantian
Suci Asdhan
Flash
Tak Ingin Tidur
Ejas Intan
Flash
Margaret
Celica Yuzi
Flash
DARKSIDE
Mr. Nobody
Novel
Gold
Angels and Demons (Republish)
Mizan Publishing
Novel
Under Garden Protection
AZ Zero Studio
Novel
Lepet
Ayu Fitri Septina
Novel
The Babad Noir Chronicles
Nikodemus Yudho Sulistyo
Flash
FINDING MICHAEL
Safinatun naja
Flash
KESERAKAHAN
Feffi
Rekomendasi
Flash
Keadilan Terakhir
Sekar Kinanthi
Flash
Jiwa yang Dikucilkan
Sekar Kinanthi
Flash
77 Questions Before I Was Born
Sekar Kinanthi
Flash
7 Menit yang Tersisa
Sekar Kinanthi
Flash
Di Balik Kamera
Sekar Kinanthi
Flash
Rumah yang Retak
Sekar Kinanthi
Cerpen
Basement In Heaven
Sekar Kinanthi
Cerpen
Bunga (di Retakan Dinding)
Sekar Kinanthi
Flash
Selamanya 24 di 24 November
Sekar Kinanthi
Cerpen
Heaven is Troubled 2
Sekar Kinanthi
Flash
Tirai Merah
Sekar Kinanthi
Flash
Jebakan Cinta Sang Pewaris
Sekar Kinanthi
Cerpen
Halaman Terakhir
Sekar Kinanthi
Flash
Jika Hidup adalah Cerita, Siapa Pembacanya?
Sekar Kinanthi
Novel
Jebakan Cinta Sang Pewaris
Sekar Kinanthi