Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Thriller
Keadilan Terakhir
1
Suka
6,794
Dibaca

Ini adalah surat terakhirku.

Aku ingat ketika duduk di kursi belakang mobil. Ayah mengemudi, Pak Hendra—polisi yang selama ini melindungi usaha Ayah—duduk di sampingnya. Adikku di sebelahku, tangannya gemetar. Kami tahu semuanya akan berakhir malam itu.

Ayah menurunkanku di rumah tua milik nenek yang sudah lama kosong. "Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana," katanya. Aku menelepon Ibu dengan suara tercekat: usaha Ayah sudah terendus. Kami menunggu dalam ketakutan.

Kabar datang dini hari. Adikku tewas. Pak Hendra terluka di perut. Ayah selamat.

Pak Hendra mengaku. Dialah yang menikam adikku karena panik. Kecelakaan. Ia menyerahkan diri, mengambil semua kesalahan. Bisnis Ayah aman. Entah kesepakatan apa yang mereka buat, tapi Ayah pulang dengan luka-luka di lengan.

Teriakan histeris Ibu tentang kematian adikku lebih menyakitkan dari apapun. Ia memeluk Ayah dan menangis di bahunya. Kami mengubur adikku dalam diam.

Tiga bulan kemudian, Pak Hendra mengirimiku surat dari penjara.

"Maafkan aku. Aku tidak bisa menyelamatkan adikmu. Ayahmu yang menikamnya. Adikmu mengancam akan membongkar semuanya. Aku mencoba melerai, tapi aku terlambat. Ayahmu menikamku agar terlihat seperti aku yang membunuh. Aku memilih mengaku karena keluargaku sudah dibayar. Aku lelah. Tapi kau berhak tahu."

Dunia runtuh untuk kedua kalinya.

Aku menghadap Ibu dengan surat itu. Tanganku gemetar saat memberikannya. Ia membaca, wajahnya pucat. Lalu ia melipat surat itu perlahan.

"Kita tidak bisa mengubah apapun sekarang," katanya pelan. "Ayahmu sudah memberikan kita kehidupan yang layak."

Ia membakar surat itu di wastafel.

Malam itu, aku menunggu Ibu tidur. Aku tidak bisa membiarkan wanita yang memilih diam itu terus bernapas. Pisau dapur terasa berat di tanganku. Darah mengalir di lantai kamar mandi, sama seperti darah adikku di gudang itu.

Ayah berteriak ketika menemukannya pagi harinya. Polisi datang. Aku tidak lari.

Di ruang interogasi aku mengaku. Aku ceritakan semuanya. Tentang narkoba, tentang adikku, tentang Pak Hendra, tentang Ayah yang sebenarnya pembunuh. Mereka mencatat semuanya.

Tapi tanpa bukti, tidak ada yang bisa dilakukan. Pak Hendra sudah divonis. Kasusnya ditutup.

Ayah datang menjengukku sekali. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya menatapku lewat kaca. Lalu ia pergi dan aku tahu ia akan hidup bebas.

Jadi kuminta tali ini. Kusimpan di balik baju. Malam ini, aku akan menggantung diriku di sel tahanan ini. Aku akan mati menggenggam foto adikku.

Kuharap kematianku menjadi kesaksian yang tidak bisa dibakar Ayah. Kuharap ini adalah keadilan terakhir yang bisa kuberikan untuk adikku.

Surat ini ditemukan di sel tahanan bersama tubuh terdakwa. Kasus ditutup sebagai bunuh diri. Ayahnya hadir di pemakaman, mengenakan jas hitam dan berdiri paling depan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Flash
Keadilan Terakhir
Sekar Kinanthi
Flash
Bayangan Kasus 99
Allamanda Cathartica
Novel
Anak-anak Tanpa Cinta
Lilis Alfina Suryaningsih
Flash
Bronze
PSIKOPAT
Maldalias
Flash
Kepala
Afri Meldam
Novel
Flashback 1998
Melty S Riscahyanti
Komik
The Red String of Fate
Sastri Elva Liani
Novel
The Wintergreen
Iis Susanti
Novel
Meja Bundar
Hendra Purnama
Novel
Sinner
Kim Raeneul
Cerpen
Sintak Mangilas
Linggarjati Bratawati
Cerpen
05 Path to Happiness
Bima Kagumi
Novel
Bronze
Jeles
YK-Andriyana-RBD
Cerpen
Cintaku Padamu akan Selalu Bersemi
Heinrich Wilhelm Franz Schantzfeuer
Flash
Tamu Tak Diundang
Allamanda Cathartica
Rekomendasi
Flash
Keadilan Terakhir
Sekar Kinanthi
Flash
Keluargaku di Garis Takdir Lain
Sekar Kinanthi
Flash
Selamanya 24 di 24 November
Sekar Kinanthi
Flash
Selamat Ulang Tahun, Rara
Sekar Kinanthi
Flash
If I Saw You In Heaven
Sekar Kinanthi
Cerpen
The Unseen Hand: Prolog
Sekar Kinanthi
Flash
Tirai Merah
Sekar Kinanthi
Flash
Ternyata, Aku Cuma Punya Tuhan
Sekar Kinanthi
Flash
Jika Hidup adalah Cerita, Siapa Pembacanya?
Sekar Kinanthi
Flash
Benang Merah
Sekar Kinanthi
Flash
7 Menit yang Tersisa
Sekar Kinanthi
Cerpen
Luna: Bayangan yang Kembali (Prequel Luna: Jiwa yang Hilang)
Sekar Kinanthi
Flash
Hati yang Ingin Pulang
Sekar Kinanthi
Flash
Kasus Terakhir Rissa
Sekar Kinanthi
Flash
77 Questions Before I Was Born
Sekar Kinanthi