Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Terompah Penyambung Hidup
2
Suka
3,948
Dibaca

Aku bergegas memasuki pintu masjid. Namun, seseorang di luar  membuatku menghentikan langkah. Tepat saat imam mengucap i’tidal rakaat pertama, dia menghambur lantai. Aku jadi ingat sandal-sandal jamaah yang sering hilang, terompah kulit buaya milik bapak salah satunya. 

Sesuai dugaanku, dia pergi setelah menyadari aku mengawasi aksinya. Aku naik pitam, tidak akan membiarkannya kabur. Aku pastikan dia akan mendapatkan pelajaran.

Aku berlari sampai sebuah gang kecil bercabang. Saat hampir menarik kaos hitam pencuri itu, terdengar suara berderit dari arah berbeda. Seorang ibu kepayahan mendorong kursi roda, aku tidak tega, lantas ikut mendorong. 

Jejak pencuri itu hilang di ujung gang. Aku kesal, berharap dia belum jauh, dan ada petunjuk lain untuk menemukannya.

“Mau permak sendal, Bang?” 

Seseorang menyapa, tepat saat aku sampai di rumah si ibu. “Permak Sandal Oji”, tertulis di sebuah plang. Ini menyedihkan, tapi bapak inilah pencuri yang mengambil sandal-sandal di masjid tadi. Aku bersiap menarik kerah kaosnya, dan meninju hidungnya.

“Doakan bapak, ya, Tiara.” Pencuri itu mengelus kepala adik cantik yang duduk di kursi roda. 

Aku terenyuh, semua orang memang sedang bertahan hidup di zaman yang serba sulit.

Menelantarkan anak-istri adalah maksiat. Makan sesuatu yang haram juga maksiat. Tidak berubah nilai maksiat hanya karena membandingkan dua jenis kemaksiatan. Sama-sama perbuatan yang Allah benci.

Ini bukan perkara sok suci, jusru ini tentang kerugian. Jika diteruskan, mereka akan kehilangan berkah hidup. Tidak ada tempat bagi cahaya di cermin yang kotor.

 “Pak, yang ini. Saya ambil.”

Aku membeli tanpa menawar, dengan harga yang lebih mahal. Tidak apa, win-win solution. Aku berhasil mendapatkan terompah kulit buaya milik bapak, sekaligus mengetahui identitas pencuri sandal yang meresahkan. 

Aku menepuk dahi, berlari. Aku adalah masbuk yang melewatkan sholat subuh berjamaah, demi mengejar pencuri. Ini juga maksiat, “astaghfirulloh.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Terompah Penyambung Hidup
Binar Bestari
Flash
DIA BUKAN MAVERICK
Hans Wysiwyg
Flash
Bronze
Werewolf: Adegan ke 2
Rere Valencia
Cerpen
PROJECT V
Permadi Adi Bakhtiar
Flash
Senandung Kerinduan di Balik Jendela November
Lukitokarya
Cerpen
Bronze
Kesatria Gelandangan
Syaras Qotimah
Flash
mata luka sengkon karta
pena aksara
Flash
Bronze
Republik Netizen
Silvarani
Novel
Apsara
Ghozy Ihsasul Huda
Flash
Kepingan Malam
Binar Bestari
Novel
Bronze
Surga yang Meleset
Nurul Arifah
Flash
Bronze
Virus
Afri Meldam
Cerpen
Bronze
Perwakilan Rakyat? No! Majelis Binatang? Yes!
Habel Rajavani
Novel
Bronze
A Hollow Gift
R.J. Agathias
Flash
Bronze
Desa Naga Api
Silvarani
Rekomendasi
Flash
Terompah Penyambung Hidup
Binar Bestari
Flash
Dompet Kulit di Stasiun
Binar Bestari
Flash
Labirin Luka
Binar Bestari
Flash
Kepingan Malam
Binar Bestari
Flash
Broken Wedding
Binar Bestari
Flash
Legasi Emak
Binar Bestari
Flash
Diculik Jodoh
Binar Bestari
Flash
Ibu Setengah Hari
Binar Bestari
Flash
Perempuan: Joki Tong Setan
Binar Bestari
Flash
Doa Meminta Keburukan
Binar Bestari
Flash
It's Oke
Binar Bestari
Flash
Rahasia
Binar Bestari
Flash
Kopi 10 Menit
Binar Bestari
Flash
Cuci Tangan
Binar Bestari
Flash
Kotak Hitam & Selembar Uang
Binar Bestari