Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Terompah Penyambung Hidup
2
Suka
4,868
Dibaca

Aku bergegas memasuki pintu masjid. Namun, seseorang di luar  membuatku menghentikan langkah. Tepat saat imam mengucap i’tidal rakaat pertama, dia menghambur lantai. Aku jadi ingat sandal-sandal jamaah yang sering hilang, terompah kulit buaya milik bapak salah satunya. 

Sesuai dugaanku, dia pergi setelah menyadari aku mengawasi aksinya. Aku naik pitam, tidak akan membiarkannya kabur. Aku pastikan dia akan mendapatkan pelajaran.

Aku berlari sampai sebuah gang kecil bercabang. Saat hampir menarik kaos hitam pencuri itu, terdengar suara berderit dari arah berbeda. Seorang ibu kepayahan mendorong kursi roda, aku tidak tega, lantas ikut mendorong. 

Jejak pencuri itu hilang di ujung gang. Aku kesal, berharap dia belum jauh, dan ada petunjuk lain untuk menemukannya.

“Mau permak sendal, Bang?” 

Seseorang menyapa, tepat saat aku sampai di rumah si ibu. “Permak Sandal Oji”, tertulis di sebuah plang. Ini menyedihkan, tapi bapak inilah pencuri yang mengambil sandal-sandal di masjid tadi. Aku bersiap menarik kerah kaosnya, dan meninju hidungnya.

“Doakan bapak, ya, Tiara.” Pencuri itu mengelus kepala adik cantik yang duduk di kursi roda. 

Aku terenyuh, semua orang memang sedang bertahan hidup di zaman yang serba sulit.

Menelantarkan anak-istri adalah maksiat. Makan sesuatu yang haram juga maksiat. Tidak berubah nilai maksiat hanya karena membandingkan dua jenis kemaksiatan. Sama-sama perbuatan yang Allah benci.

Ini bukan perkara sok suci, jusru ini tentang kerugian. Jika diteruskan, mereka akan kehilangan berkah hidup. Tidak ada tempat bagi cahaya di cermin yang kotor.

 “Pak, yang ini. Saya ambil.”

Aku membeli tanpa menawar, dengan harga yang lebih mahal. Tidak apa, win-win solution. Aku berhasil mendapatkan terompah kulit buaya milik bapak, sekaligus mengetahui identitas pencuri sandal yang meresahkan. 

Aku menepuk dahi, berlari. Aku adalah masbuk yang melewatkan sholat subuh berjamaah, demi mengejar pencuri. Ini juga maksiat, “astaghfirulloh.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Terompah Penyambung Hidup
Binar Bestari
Flash
Anak-anak Pelukis Perang
Desy Andriyani
Flash
Bronze
Monoton
Noveria
Novel
ARISTOCRAT
Earl Atlas
Flash
Sebatang Paku
Hans Wysiwyg
Flash
Reverse #2 : Mata
Yesno S
Cerpen
Bronze
Cara Membatalkan Pinjaman Pinjam Yuk
Manuskrip
Flash
Bronze
Desa Ular Kayu
Silvarani
Cerpen
Bronze
Guru Pagar Integritas
Muhammad Ari Pratomo
Flash
Hidung buntu
Mahmud
Cerpen
Bronze
SRIGALA BERDZIKIR DI AKHIR WAKTU
Ranang Aji SP
Flash
Bronze
Desa Naga Api
Silvarani
Flash
Di Balik Jalan Sumatera
Vynka Madani Siagian
Cerpen
Bronze
Bedog Cepot
Moch Agni Nuryahya
Cerpen
Bronze
TRIAL ON MERAPI (Sintas Universe)
Keita Puspa
Rekomendasi
Flash
Terompah Penyambung Hidup
Binar Bestari
Flash
Perempuan: Joki Tong Setan
Binar Bestari
Flash
Kepingan Malam
Binar Bestari
Cerpen
Bronze
Curcollatte
Binar Bestari
Flash
Cinta dan Pelepah Kurma
Binar Bestari
Flash
Kotak Hitam & Selembar Uang
Binar Bestari
Flash
Kembalinya Theresia
Binar Bestari
Flash
Broken Wedding
Binar Bestari
Flash
It's Oke
Binar Bestari
Flash
Doa Meminta Keburukan
Binar Bestari
Flash
Diculik Jodoh
Binar Bestari
Flash
Ibu Setengah Hari
Binar Bestari
Flash
Bronze
Sketsa Wajah Halwa
Binar Bestari
Flash
Kopi 10 Menit
Binar Bestari
Flash
Labirin Luka
Binar Bestari