Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Terompah Penyambung Hidup
2
Suka
5,805
Dibaca

Aku bergegas memasuki pintu masjid. Namun, seseorang di luar  membuatku menghentikan langkah. Tepat saat imam mengucap i’tidal rakaat pertama, dia menghambur lantai. Aku jadi ingat sandal-sandal jamaah yang sering hilang, terompah kulit buaya milik bapak salah satunya. 

Sesuai dugaanku, dia pergi setelah menyadari aku mengawasi aksinya. Aku naik pitam, tidak akan membiarkannya kabur. Aku pastikan dia akan mendapatkan pelajaran.

Aku berlari sampai sebuah gang kecil bercabang. Saat hampir menarik kaos hitam pencuri itu, terdengar suara berderit dari arah berbeda. Seorang ibu kepayahan mendorong kursi roda, aku tidak tega, lantas ikut mendorong. 

Jejak pencuri itu hilang di ujung gang. Aku kesal, berharap dia belum jauh, dan ada petunjuk lain untuk menemukannya.

“Mau permak sendal, Bang?” 

Seseorang menyapa, tepat saat aku sampai di rumah si ibu. “Permak Sandal Oji”, tertulis di sebuah plang. Ini menyedihkan, tapi bapak inilah pencuri yang mengambil sandal-sandal di masjid tadi. Aku bersiap menarik kerah kaosnya, dan meninju hidungnya.

“Doakan bapak, ya, Tiara.” Pencuri itu mengelus kepala adik cantik yang duduk di kursi roda. 

Aku terenyuh, semua orang memang sedang bertahan hidup di zaman yang serba sulit.

Menelantarkan anak-istri adalah maksiat. Makan sesuatu yang haram juga maksiat. Tidak berubah nilai maksiat hanya karena membandingkan dua jenis kemaksiatan. Sama-sama perbuatan yang Allah benci.

Ini bukan perkara sok suci, jusru ini tentang kerugian. Jika diteruskan, mereka akan kehilangan berkah hidup. Tidak ada tempat bagi cahaya di cermin yang kotor.

 “Pak, yang ini. Saya ambil.”

Aku membeli tanpa menawar, dengan harga yang lebih mahal. Tidak apa, win-win solution. Aku berhasil mendapatkan terompah kulit buaya milik bapak, sekaligus mengetahui identitas pencuri sandal yang meresahkan. 

Aku menepuk dahi, berlari. Aku adalah masbuk yang melewatkan sholat subuh berjamaah, demi mengejar pencuri. Ini juga maksiat, “astaghfirulloh.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Terompah Penyambung Hidup
Binar Bestari
Novel
Bronze
Jalan Pulang
Widiyati Puspita Sari
Flash
Aku Bermimpi Memiliki Kekuatan Gatotkaca
winda aprillia
Novel
TITIK BUTA
Shireishou
Flash
Mengejar Pesawat Pembawa Uang
Sena N. A.
Cerpen
Cahaya Aksara Dunia Maya
Adam Nazar Yasin
Cerpen
Anti Crown
Rexa Strudel
Novel
Gold
Magnus Chase and the Gods of Asgard
Noura Publishing
Cerpen
Bronze
Perwakilan Rakyat? No! Majelis Binatang? Yes!
Habel Rajavani
Novel
Bronze
MERANTAU
hendri putra
Novel
Remarkable 2: Special Bonus Prize
FS Author
Novel
Swara Guntur, 1998
Sayap Monokrom
Cerpen
Bronze
Pertarungan Demi Sebuah Nasib
Iman Ali Janovit
Flash
Terbuka
Mahmud
Novel
Tempat paling aman
Ris Aruni
Rekomendasi
Flash
Terompah Penyambung Hidup
Binar Bestari
Flash
Cahaya Di Atas Perahu
Binar Bestari
Flash
Legasi Emak
Binar Bestari
Flash
Kotak Hitam & Selembar Uang
Binar Bestari
Flash
It's Oke
Binar Bestari
Flash
Diculik Jodoh
Binar Bestari
Flash
Broken Wedding
Binar Bestari
Flash
Cuci Tangan
Binar Bestari
Flash
Bronze
10 Years : 10 Minutes
Binar Bestari
Flash
Ibu Setengah Hari
Binar Bestari
Flash
Perempuan: Joki Tong Setan
Binar Bestari
Flash
Kopi 10 Menit
Binar Bestari
Flash
Dompet Kulit di Stasiun
Binar Bestari
Flash
Labirin Luka
Binar Bestari
Flash
Kepingan Malam
Binar Bestari