Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Terompah Penyambung Hidup
2
Suka
4,257
Dibaca

Aku bergegas memasuki pintu masjid. Namun, seseorang di luar  membuatku menghentikan langkah. Tepat saat imam mengucap i’tidal rakaat pertama, dia menghambur lantai. Aku jadi ingat sandal-sandal jamaah yang sering hilang, terompah kulit buaya milik bapak salah satunya. 

Sesuai dugaanku, dia pergi setelah menyadari aku mengawasi aksinya. Aku naik pitam, tidak akan membiarkannya kabur. Aku pastikan dia akan mendapatkan pelajaran.

Aku berlari sampai sebuah gang kecil bercabang. Saat hampir menarik kaos hitam pencuri itu, terdengar suara berderit dari arah berbeda. Seorang ibu kepayahan mendorong kursi roda, aku tidak tega, lantas ikut mendorong. 

Jejak pencuri itu hilang di ujung gang. Aku kesal, berharap dia belum jauh, dan ada petunjuk lain untuk menemukannya.

“Mau permak sendal, Bang?” 

Seseorang menyapa, tepat saat aku sampai di rumah si ibu. “Permak Sandal Oji”, tertulis di sebuah plang. Ini menyedihkan, tapi bapak inilah pencuri yang mengambil sandal-sandal di masjid tadi. Aku bersiap menarik kerah kaosnya, dan meninju hidungnya.

“Doakan bapak, ya, Tiara.” Pencuri itu mengelus kepala adik cantik yang duduk di kursi roda. 

Aku terenyuh, semua orang memang sedang bertahan hidup di zaman yang serba sulit.

Menelantarkan anak-istri adalah maksiat. Makan sesuatu yang haram juga maksiat. Tidak berubah nilai maksiat hanya karena membandingkan dua jenis kemaksiatan. Sama-sama perbuatan yang Allah benci.

Ini bukan perkara sok suci, jusru ini tentang kerugian. Jika diteruskan, mereka akan kehilangan berkah hidup. Tidak ada tempat bagi cahaya di cermin yang kotor.

 “Pak, yang ini. Saya ambil.”

Aku membeli tanpa menawar, dengan harga yang lebih mahal. Tidak apa, win-win solution. Aku berhasil mendapatkan terompah kulit buaya milik bapak, sekaligus mengetahui identitas pencuri sandal yang meresahkan. 

Aku menepuk dahi, berlari. Aku adalah masbuk yang melewatkan sholat subuh berjamaah, demi mengejar pencuri. Ini juga maksiat, “astaghfirulloh.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Terompah Penyambung Hidup
Binar Bestari
Flash
Kesaksian Langit
Alita
Flash
Bronze
Tak Akan Pernah Terlupakan
silvi budiyanti
Flash
Bronze
JUSTICE
Shabrina Farha Nisa
Flash
Jalan Groove
Donny Setiawan
Flash
Bronze
Desert
Rama Sudeta A
Flash
Bronze
Kopi Bintang
Silvarani
Flash
First Meeting
Yue Andrian
Novel
Bronze
Jalan Pulang
Widiyati Puspita Sari
Novel
Remarkable
FS Author
Cerpen
Bronze
Samurai Inosuke
Nuel Lubis
Cerpen
The Storm Catcher
Fidiya Sharadeba
Novel
Gold
Wundersmith
Noura Publishing
Flash
Aksara Puisi
Ainun Zakiyah
Novel
Gold
The Lost Hero
Noura Publishing
Rekomendasi
Flash
Terompah Penyambung Hidup
Binar Bestari
Flash
Diculik Jodoh
Binar Bestari
Flash
Perempuan: Joki Tong Setan
Binar Bestari
Flash
Bronze
10 Years : 10 Minutes
Binar Bestari
Flash
Dompet Kulit di Stasiun
Binar Bestari
Flash
Bronze
Sketsa Wajah Halwa
Binar Bestari
Cerpen
Bronze
Curcollatte
Binar Bestari
Flash
It's Oke
Binar Bestari
Flash
Kopi 10 Menit
Binar Bestari
Flash
Doa Meminta Keburukan
Binar Bestari
Flash
Cuci Tangan
Binar Bestari
Flash
Kepingan Malam
Binar Bestari
Flash
Rahasia
Binar Bestari
Cerpen
Bronze
Elegi Sunyi
Binar Bestari
Flash
Kotak Hitam & Selembar Uang
Binar Bestari