Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Aku atau Dia
19
Suka
21,779
Dibaca

"Aku serius. Tahun depan kita ikat hubungan ini dengan akad. Aku ingin bersamamu selamanya. Aku ingin semua cintaku berlabuh di dirimu."

Itu ucapannya. Hangat. Haru. Membelaiku penuh rasa bahagia. Aku merasa dipilih, dicinta, dan dijaga. Hidup yang sebelumnya penuh luka seolah menemukan obat terbaik yang ada di bumi.

Aku belajar percaya pada janji. Aku mulai berani merancang bayangan masa depan. Rumah sederhana, taman kecil, dan tangan yang menua bersama. Tawa dan canda menghiasi hari, mengusir sepi yang coba menghampiri.

Sayangnya, laki-laki rupanya pandai merusak mimpi. Ia membangun skenario seindah cerita dongeng. Menjadikanku peran utama, tetapi dirinya sendiri memilih membuat cerita yang lain. Janjinya hanyalah angin yang singgah sebentar, menyejukkan, lalu pergi tanpa bekas.

Semua yang kulihat sebagai kepastian, ternyata angan yang masih tertinggal di dunia khayal. Harapanku tercerai-berai. Hidupku seakan menjadi ruang imajinasi yang panjang.

Sebuah surat undangan bertamu ke rumahku. Amplopnya bercorak biru, dibalut pita emas, dan dilukis dengan huruf-huruf berwarna perak. Saat melihat inisial nama di sampul, napasku sedikit tersendat, dada seperti dihujani beban yang berat. Ada yang berteriak dari dalam. Sebuah firasat.

Benar. Namanya tertulis jelas. Hanya saja, bukan bersanding denganku, melainkan dengan perempuan lain.

Mataku mendadak gelap. Kakiku lunglai, tak bertenaga. Aku terduduk, memegang kertas penuh penyangkalan. Aku ingin meremasnya hingga kenyataan pun turut hancur. Akan tetapi, kenyataan terlalu keras. Semua keterangan yang tertera begitu menegaskan, begitu mengenaskan.

Aku ditipu. Mungkinkah? Bukankah dia telah mengatakan ribuan kali bahwa aku satu-satunya; bahwa hanya aku kekasih yang bertahta di dalam hidupnya?!

Aku ingin marah, tetapi yang datang hanya air mata. Aku ingin mengutuk, tetapi lidahku kelu. Pikiran mencercaku. Katanya, aku bodoh, aku terlalu dibutakan cinta hingga tak bisa membaca tanda-tanda.

***

Malamnya aku terbaring, memeluk diriku sendiri. Rasa sakit menolak reda, bahkan mulai menggumpal menyerupai dendam. Aku akan membalasnya. Aku akan menghancurkan hidupnya. Namun, haruskah aku menambah kesakitanku?

Ia tak menjawab panggilan teleponku, tak merespon pesan-pesanku sejak siang. Aku butuh lebih dari sekadar penjelasan. Bukan surat undangan yang datang melalui perantara.

Sedih, kecewa, perih. Memang, langkah belum jauh, tetapi tetap saja trauma perlahan menjalar. Luka mengendap, menjadi jurang yang tak ada dasarnya. Semakin aku jatuh, semakin erat pilu mendekap.

Aku coba bangkit, bersandar di jendela. Ingatan membuka lembaran-lembaran cerita. Sekilas aku melihat ia turun dari motor, menjemputku. Suaranya menggema merdu di telingaku.

Mengapa? Mengapa orang yang kukira obat justru meracuniku dengan luka yang hebat?

Sejuta tanya menghantam isi kepala. Satu tanya mencabik batin: Dia berselingkuh atau aku yang jadi selingkuhannya?

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Bronze
Marmoset karya Clarice Lispector penerjemah ahmad muhaimin
Ahmad Muhaimin
Flash
Aku atau Dia
Jasma Ryadi
Flash
The Pie
Adam Nazar Yasin
Skrip Film
Daun di Antara Mawar & Melati (Script)
Rika Kurnia
Flash
Rapat OSIS
Salmah Nurhaliza
Flash
Banjir yang Tidak Jadi Datang
Art Fadilah
Flash
Enam Bulan Seumur Hidup
L
Flash
Rahasia nasi goreng emak
Singkat Cerita
Flash
Bronze
IMAJINASI
Anjrah Lelono Broto
Flash
Suami Terba(l)ik
Hans Wysiwyg
Flash
Bronze
CINTA PERTAMA
darayynt
Cerpen
Bronze
Kisah Ibu
Dingu
Novel
Kamu
MS Wijaya
Novel
LAUT DAN UDARA
ajitio puspo utomo
Novel
Bronze
Rawan
Eko Hartono
Rekomendasi
Flash
Aku atau Dia
Jasma Ryadi
Flash
Ketika Dosa Berbau
Jasma Ryadi
Flash
Tatapan dari Jendela
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Di Radio Sekolah
Jasma Ryadi
Flash
Jangan Menimpali!
Jasma Ryadi
Flash
Aroma Semur
Jasma Ryadi
Flash
Bu, Mengapa Orang-Orang Mati?
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Penelitian di Dimensi Lain
Jasma Ryadi
Flash
Teras
Jasma Ryadi
Flash
Diam yang Menghukum
Jasma Ryadi
Flash
Di Tepi Jurang
Jasma Ryadi
Flash
Gema yang Redup
Jasma Ryadi
Flash
Mereka Bilang Aku Setan
Jasma Ryadi
Flash
Gerimis yang Percuma
Jasma Ryadi
Flash
Tiga Ketukan Sunyi
Jasma Ryadi