Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Bulan ke-10
10
Suka
14,482
Dibaca

Oktober berjalan seperti bilah waktu yang mengikis tanpa kompromi. Angka-angka di kalender merosot satu per satu, tak menunggu siapa pun. Jalan yang kutempuh kian menyempit, dan aku tidak tahu langkahku menuju ujung bahagia atau kembali ke pangkal luka.

Aku menoleh ke belakang. Ada jejak yang masih membekas: keputusan yang salah, kata-kata yang tak sempat ditarik kembali, dan wajah-wajah yang tinggal dalam ingatan. Beberapa membuat dada terasa sesak, sebagian lain justru menjadi alasan untuk tetap berdiri.

Enam kali kabisat berlalu, 9.489 hari mendekap, menemani kesendirian. Aku berhenti menghitung sejak lama, tetapi angka itu muncul lagi. Ia selalu masuk ke celah mimpiku. Ia mendatangiku dalam gelap, seolah mengingatkan cara waktu berputar. Kehilangan dan tumbuh menjadi satu bagian kehidupan yang tak terpisahkan.

Masalahnya, aku tak memiliki banyak kenangan untuk dijadikan alas, untuk digenggam sebagai semangat. Malam terakhir bersama Ibu, ucapannya masih jelas di telinga, bagai sembilu yang menyerat di bawah telapak kakiku.

"Besok pagi Ibu yang akan antar kamu ke sekolah. Cepat tidur!" ucapnya sambil membelai rambutku. Membisikkan janji semerdu sisa hujan di musim kemarau.

Namun, esok yang datang justru sebuah pengingkaran. Aku yang harus mengantar Ibu tidur. Untuk selamanya.

Ayah? Aku hanya mengenalnya dari album foto yang berkerak. Tidak begitu jelas. Lusuh dan buram.

Dulu aku mencarinya dengan marah, dengan rindu, dengan segala tenaga. Akan tetapi, pencarianku berakhir di atas pusara Ibu. Aku berhenti. Lelah. Menerima. Beberapa pintu memang sengaja menutup dirinya dari dalam. Tak akan terbuka jika pemiliknya tak ingin, sekeras apa pun aku mengetuk dan mendorongnya.

Seandainya Ibu masih ada, aku akan memaksanya menjawab pertanyaanku: “Mengapa dulu Ibu mau dinikahi Ayah? Mengapa Ayah tak pulang saat aku lahir?”

Aku tahu Ibu akan memberikan senyuman tipis, dan mengarahkan pandangan pada langit-langit yang mengelupas. Setelahnya, menjawab dengan alibi, merangkai kalimat-kalimat cinta. Ia juga akan berkata bahwa aku hartanya yang paling berharga. Sementara, tangisnya di belakangku tak pernah reda.

Wanita sebaik dirinya semestinya tidak bertemu dengan Ayah. Tak ada derita untuknya. Tak ada label jahat bagi Ayah. Tak ada yang pergi, sebab aku pun tak ada.

Hidup tak selamanya berdiri tegak seperti angka satu. Lebih seringnya, ia bulat seperti angka nol, berotasi dalam garis edar yang sama.

Kini, aku bertahan karena tak ada lagi yang bisa kulakukan selain itu. Dunia berjalan dengan wajahnya yang datar. Ia tidak peduli, tidak memberi jeda, tidak menanyakan kesiapanku. Kadang, ia melemparkan harapan, lalu menariknya kembali. Kadang, ia membiarkan aku berdiri sendirian di tengah keramaian. Tak ada tempat berbagi, tak ada yang mengelus pipi.

Dewasa, rupanya, hanya nama lain dari kesepian yang panjang. Ketegaran bukan pilihan gagah, melainkan cara berdamai dengan takdir. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (3)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Guardian Angel
amor
Flash
Bulan ke-10
Jasma Ryadi
Novel
Remember
Dreamer
Novel
Bronze
Something with you
nazar aulia hidayah
Novel
Kesempatan Yang Berulang
Kiky
Novel
Mimpi Kupu-Kupu
Gita Kwok
Novel
Vina's Secret
Resti Telasih
Novel
Nana's Agreement
Ayuning Dian
Novel
Bronze
My First Love
Ign Joko Dwiatmoko
Novel
Itu kau
Farida Rach
Novel
Bronze
Di Balik Senja
Kepo Amat
Novel
Dia Adalah Senja
Syifa Maziyyah
Novel
Bu
imajihari
Novel
Remaja Terbenam
Aya Fairuz
Novel
Satu Langit Dua Cerita (Kosakata Cinta di La Sorbonne)
Martha Z. ElKutuby
Rekomendasi
Flash
Bulan ke-10
Jasma Ryadi
Flash
Lintang
Jasma Ryadi
Flash
Semangkuk Bakso
Jasma Ryadi
Flash
Layangan di Langit Hitam
Jasma Ryadi
Flash
Museum Kenangan
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Anita dan Penghuni Lain
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Menjadi Umbi-Umbian?
Jasma Ryadi
Flash
Kamar 304
Jasma Ryadi
Flash
Aku dan Sebatang Rokok di Tangannya
Jasma Ryadi
Flash
Mereka Bilang Aku Setan
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Ketika Kata-Kata Kembali
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Mereka yang Masih di Dalam
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Jatuh Cinta di Tahun Kelima
Jasma Ryadi
Flash
Telepon
Jasma Ryadi
Flash
Mengapa Harus Ada Cinta dalam Pernikahan
Jasma Ryadi