Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Bulan ke-10
10
Suka
21,763
Dibaca

Oktober berjalan seperti bilah waktu yang mengikis tanpa kompromi. Angka-angka di kalender merosot satu per satu, tak menunggu siapa pun. Jalan yang kutempuh kian menyempit, dan aku tidak tahu langkahku menuju ujung bahagia atau kembali ke pangkal luka.

Aku menoleh ke belakang. Ada jejak yang masih membekas: keputusan yang salah, kata-kata yang tak sempat ditarik kembali, dan wajah-wajah yang tinggal dalam ingatan. Beberapa membuat dada terasa sesak, sebagian lain justru menjadi alasan untuk tetap berdiri.

Enam kali kabisat berlalu, 9.489 hari mendekap, menemani kesendirian. Aku berhenti menghitung sejak lama, tetapi angka itu muncul lagi. Ia selalu masuk ke celah mimpiku. Ia mendatangiku dalam gelap, seolah mengingatkan cara waktu berputar. Kehilangan dan tumbuh menjadi satu bagian kehidupan yang tak terpisahkan.

Masalahnya, aku tak memiliki banyak kenangan untuk dijadikan alas, untuk digenggam sebagai semangat. Malam terakhir bersama Ibu, ucapannya masih jelas di telinga, bagai sembilu yang menyerat di bawah telapak kakiku.

"Besok pagi Ibu yang akan antar kamu ke sekolah. Cepat tidur!" ucapnya sambil membelai rambutku. Membisikkan janji semerdu sisa hujan di musim kemarau.

Namun, esok yang datang justru sebuah pengingkaran. Aku yang harus mengantar Ibu tidur. Untuk selamanya.

Ayah? Aku hanya mengenalnya dari album foto yang berkerak. Tidak begitu jelas. Lusuh dan buram.

Dulu aku mencarinya dengan marah, dengan rindu, dengan segala tenaga. Akan tetapi, pencarianku berakhir di atas pusara Ibu. Aku berhenti. Lelah. Menerima. Beberapa pintu memang sengaja menutup dirinya dari dalam. Tak akan terbuka jika pemiliknya tak ingin, sekeras apa pun aku mengetuk dan mendorongnya.

Seandainya Ibu masih ada, aku akan memaksanya menjawab pertanyaanku: “Mengapa dulu Ibu mau dinikahi Ayah? Mengapa Ayah tak pulang saat aku lahir?”

Aku tahu Ibu akan memberikan senyuman tipis, dan mengarahkan pandangan pada langit-langit yang mengelupas. Setelahnya, menjawab dengan alibi, merangkai kalimat-kalimat cinta. Ia juga akan berkata bahwa aku hartanya yang paling berharga. Sementara, tangisnya di belakangku tak pernah reda.

Wanita sebaik dirinya semestinya tidak bertemu dengan Ayah. Tak ada derita untuknya. Tak ada label jahat bagi Ayah. Tak ada yang pergi, sebab aku pun tak ada.

Hidup tak selamanya berdiri tegak seperti angka satu. Lebih seringnya, ia bulat seperti angka nol, berotasi dalam garis edar yang sama.

Kini, aku bertahan karena tak ada lagi yang bisa kulakukan selain itu. Dunia berjalan dengan wajahnya yang datar. Ia tidak peduli, tidak memberi jeda, tidak menanyakan kesiapanku. Kadang, ia melemparkan harapan, lalu menariknya kembali. Kadang, ia membiarkan aku berdiri sendirian di tengah keramaian. Tak ada tempat berbagi, tak ada yang mengelus pipi.

Dewasa, rupanya, hanya nama lain dari kesepian yang panjang. Ketegaran bukan pilihan gagah, melainkan cara berdamai dengan takdir. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (3)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Mengejar Mimpi, Menemukan Cinta
Suryaning Bawono
Skrip Film
Cintai Cinta
Rina F Ryanie
Flash
Pamit
Rahmi Azzura
Flash
Bulan ke-10
Jasma Ryadi
Flash
Rindu
Suci Asdhan
Flash
Koran Pagi
Sugiadi Azhar
Flash
Sosis
Hendra Purnama
Flash
Bronze
Karena Hanya Nara
AlifatulM
Flash
Pecah
Keita Puspa
Novel
Jodoh Online
K. Istiana
Skrip Film
TANGAN TERAKHIR
Embart nugroho
Skrip Film
ADIK YANG NIKAH, AKU YANG GUNDAH
zae_suk
Flash
MONYET DI POHON SAWIT
Miley Ann Hasneni
Novel
The Last Episode
queenara valerie
Skrip Film
Kasih Oleh Rumah
Fatih Hayatul Azhar
Rekomendasi
Flash
Bulan ke-10
Jasma Ryadi
Flash
Jadikan Aku Selingkuhanmu
Jasma Ryadi
Flash
Diam yang Menghukum
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Penelitian di Dimensi Lain
Jasma Ryadi
Flash
Satu Langkah Setelah Luka
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Adam
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Potongan Tangan
Jasma Ryadi
Flash
Sepatu Basah
Jasma Ryadi
Flash
Telepon
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Rasa yang Tak Bisa Kembali
Jasma Ryadi
Flash
Republik Kucing
Jasma Ryadi
Flash
Pukul 01:10
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Efisiensi
Jasma Ryadi
Cerpen
Silsilah Para Penambal
Jasma Ryadi
Flash
Mengapa Harus Ada Cinta dalam Pernikahan
Jasma Ryadi