Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Residu
1
Suka
7,817
Dibaca

Mesin pendingin meraung rendah di balik pintu besi. Bau formalin merayap, menusuk ke tenggorokan. Lampu lorong berkelip sebentar, membuat lantai licin memantulkan bayangan yang terpotong-potong.

“Sur,” Dani berbisik, terdengar ragu. “Lu percaya penampakan?”

Surya berjalan di samping Dani. Langkahnya sangat tenang, nyaris tanpa bunyi. “Percaya,” jawabnya singkat. “Kadang yang mati belum mau pergi. Kadang yang hidup nggak sadar udah berhenti.”

Dani tertawa hambar, mencoba menepis suhu dingin yang menggerogoti tubuhnya. “Maksud gue penampakan kayak pocong, kuntilanak, genderuwo, dan sejenisnya gitu.”

“Lu sendiri percaya sama mereka?” Surya bertanya balik sambil membuka buku register. Tangannya sibuk mencatat, matanya menerawang seisi ruangan.

“Gue nggak percaya. Mereka itu hanya sisa-sisa bayangan di kepala kita. Wujud mereka hasil dari rasa takut yang berlebihan. Ilusi semata.” Dani menjawab dengan percaya diri, meski di setiap ujung kalimatnya terasa ada getaran.

Surya menoleh pelan. Senyumnya tipis, rautnya datar. Ia terus menghitung ulang jumlah jasad yang berbaring. “Tidak semua penampakan datang dengan rupa yang kita kenal. Bagaimana jika dia menampakkan diri dengan wujud yang lain?”

Dani menarik napas panjang. Ada yang merambat dalam dirinya, tetapi ia tutupi dengan pura-pura santai. “Kalau mereka benar ada, dan nampakin diri di depan gue, gue bakal masukin ke botol. Atau gue hajar sampe dia kapok nakut-nakutin gue.”

Surya menutupi buku register, merapikan kain putih dan loker. Ia melangkah keluar lebih dulu, dan Dani menyusul dengan tergesa. Pintu menghentak rapat. Lorong malam menyambut dengan senyap yang tak biasa, seolah semua kehidupan tertinggal di belakang.

Mereka terus berjalan. Suara sepatu bergema, tetapi anehnya ritmenya tidak sinkron. Ada yang terasa mengikuti, menempel di antara kaki-kaki yang berayun.

Di tengah lorong, Surya tiba-tiba berhenti. Tatapannya terkunci, kembali pada pintu kamar mayat yang terbuka setengah.

“Kenapa, Sur?” tanya Dani, memeriksa sekeliling dengan jari-jari saling menekuk.

Surya tidak menjawab. Ia berdiri membisu, tampak tak utuh, bagaikan bayangan yang lupa tuannya.

Dani melanjutkan langkah. Lorong terasa makin panjang. Dinding-dinding terasa makin menghimpit. Udara di sekitar pengap dan sesak.

Beberapa detik kemudian, ada langkah lain dari depan. Dani mendongak. Surya muncul, membawa dua gelas kopi dalam wadah kertas.

“Nih,” ucapnya ringan seraya menjulurkan tangan, “gue bawain kopi. Sorry, gue telat.”

Dani membeku. Perlahan ia menoleh ke belakang. Kosong. Namun, pintu kamar mayat masih terbuka —goyah sedikit, seperti baru saja dilalui seseorang.

Tangannya gemetar ketika menerima kopi itu. Gelasnya dingin. Tubuhnya menggigil.

“Ada apa, Dan?” Surya menepuk pundak Dani.

Dani kaku sesaat, menatap bayangan Surya yang berat. Ia lalu menyeruput kopi. Rasanya lengket dan getir, serta menyindir keberanian yang tadi diagung-agungkan.

Ia bungkam sepanjang malam. Pertanyaan-pertanyaan meluruh: mana yang nyata, mana yang hanya sisa.

***

Sinar matahari menembus kaca jendela, menyengat kulit. Dani bangkit dari tempat tidur sembari menggosok mata. Pengalaman semalam masih membekas di setiap napas. Hari berlari, siang kian menekan.

Ia membasuh muka, lalu menyeduh secangkir kopi. Berusaha menetralkan keadaan dengan meyakinkan diri bahwa semua hanyalah mimpi, atau mungkin gelombang lelah yang menjelma menjadi tipuan pikiran. Namun, rasa takut tetap menempel erat di dadanya.

Dani meraih ponsel. Bunyi notifikasi berdenting berkali-kali selama ia tidur. Pesan-pesan yang masuk menyampaikan kabar serupa: Surya mengalami kecelakaan semalam saat berangkat kerja, dan pagi tadi dinyatakan meninggal dunia.

Mustahil.

Kata itu menutupi layar, menenggelamkan logika, menelan segalanya. Dani memejamkan mata, menolak percaya, tetapi gema suara Surya bergaung jelas di telinganya: “Bagaimana jika ia menampakkan diri dengan wujud yang lain?”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Residu
Jasma Ryadi
Flash
Ghostwriter
Retno Utama
Flash
Jangan Khianati Aku
Roy Rolland
Flash
Bronze
Adel Tersayang
Rere Valencia
Skrip Film
Gondo Mayit
Herman Siem
Flash
Tanduk Misterius di Bawah Rumah Wak Dijah
Amrullah Ibrahim
Skrip Film
ROGO SUKMO
Embart nugroho
Cerpen
Bronze
Boneka Porselen
Deri Shu
Novel
Datang setan
Indah li
Cerpen
Bronze
Mereka yang Masih di Dalam
Jasma Ryadi
Novel
TRAUMA GENERASI
Vitri Dwi Mantik
Cerpen
Bronze
Azab untuk Satpam yang Mengikutiku
Nuel Lubis
Novel
Bronze
Kembang Sukmo
Keefe R.D
Flash
Tomat
Yaraa
Novel
Bronze
SAMAR
Dewie Sudarsh
Rekomendasi
Flash
Residu
Jasma Ryadi
Flash
Sepatu Basah
Jasma Ryadi
Cerpen
Silsilah Para Penambal
Jasma Ryadi
Flash
Museum Kenangan
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Mereka yang Masih di Dalam
Jasma Ryadi
Flash
Aku atau Dia
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Teman yang Tidak Datang ke Pemakaman
Jasma Ryadi
Flash
Pelukan Tanah Basah
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Bingkai Tak Berujung
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Unfinished Business
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Menjadi Umbi-Umbian?
Jasma Ryadi
Flash
Jadikan Aku Selingkuhanmu
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Adam
Jasma Ryadi
Flash
Gema yang Redup
Jasma Ryadi
Flash
Anatomi Tempat Tidur
Jasma Ryadi