Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Pukul 02.00.
Sudah terlambat untuk berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Seandainya aku tidak mabuk pujian di media sosial, mungkin malam ini kakiku tidak perlu menyeret langkah sejauh empat kilometer. Aspal dingin dan kerikil tajam menusuk telapak kaki kananku yang telanjang. Sandal itu entah lenyap di mana; rasa takut yang melumpuhkan logika membuatku tak sadar sejak kapan aku melangkah pincang.
Namun, perih di kulit itu tak sebanding dengan kekosongan yang menganga di dadaku. Aku bahkan tak tahu siapa nama aslinya atau dari mana ia berasal—identitas yang ia berikan hanyalah jaring manis untuk menangkap mangsa yang dungu.
Otakku terlalu lugu untuk menyadari bahwa kata-kata manis tak selalu lahir dari mulut pria baik. Lagipula, mana ada pria baik yang menjemput seorang gadis tanpa mengetuk pintu depan rumahnya.
Aku berhenti di depan pagar rumah. Tak ada lagi sisa tenaga untuk memanjat jendela tempatku menyelinap keluar beberapa jam lalu. Tubuhku gemetar, bukan hanya karena angin malam yang menggigit kulit, tapi karena aku benar-benar hancur. Air mata terus mengaliri pipiku yang lebam.
Tanganku terangkat, ragu sejenak, sebelum akhirnya mengetuk pintu depan dengan sisa keberanian yang ada. Aku terpaksa harus membagi isak tangis dan penderitaan ini dengan Ibu dan Ayah. Karena saat ini, hanya pelukan mereka yang sanggup menambal retakan di jiwaku.
Maafkan aku, Ibu, Ayah. Aku terlalu sering menutup telinga dari nasihat kalian, dan sekarang, aku harus pulang dengan membawa luka yang mungkin takkan pernah benar-benar sembuh.