Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Aaaa ... tadi dia nelpon gue lagi, Gin."
"Siapa?"
"Yang kuceritakan kemarin itu loh." Rika memeluk ponselnya.
"Orang yang lo kenal sejak tujuh tahun lalu?"
"Iyaaa. Kayaknya dia suka sama gue deh." Kini Rika berguling-guling, masih dengan mendekap ponsel.
"Emang seintens apa lo sama dia?"
"Kemarin dia pertama kali nelpon dan agak lama, katanya sih karena mumpung sendiri di rumah."
"Terus?"
"Tadi dia nelpon lagi, alasannya sih sama."
"Bodoh."
"Hah?"
"Dia cuma gabut, lo malah baper."
"Tapi sebelumnya dia sering ngajak serius."
"Gimana bilangnya?"
"Dia kayak ngasih kode gitu, ngajak nikah." Rika menutupi wajahnya dengan boneka panda, lalu berguling-guling lagi.
"Dih, makin goblok. Dia cuma bercanda, malah lo anggap serius. Sadar, woy!" Gina tiba-tiba menamparnya.
Brukkk!
Rika membuka mata, dia kesulitan bergerak. Tubuhnya terbalut selimut bersama boneka panda berukuran besar. Mereka tergeletak di lantai. Sejenak dia mengerjap-ngerjap. Kemudian berdiri dengan sempoyongan.
Dia mencari-cari ponsel di antara seprai kasur yang carut-marut. Layar ponselnya masih menyala. Lalu sebuah panggilan masuk. Segera diangkatnya dengan raut wajah berseri.
"Halo."
[Halo. Lagi apa?]
"Nyantai aja sih."
[Kirain sudah tidur.]
"Belum. Kenapa?"
[Gapapa, lagi butuh temen ngobrol aja.]
"Oh ...."
Rika bergelung dalam selimut lagi. Dia mengobrol hingga dini hari. Dalam hati Rika mengurungkan niat bercerita kepada Gina untuk sementara waktu. Mengingat perkataan Gina saja, mendadak dia merasa ngeri.