Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Self Improvement
Hidup Setelah Mati
3
Suka
3,054
Dibaca

Aku tidak pernah menyangka kematian begitu sunyi.

Tidak ada cahaya terang yang menyambut ku, tidak ada malaikat bersayap emas seperti yang diceritakan buku-buku agama. Yang ada hanya sebuah ruangan putih tanpa dinding, tanpa lantai, tanpa batas. Ruang yang seolah tak pernah habis, namun juga terasa mengekang.

"Aku sudah mati?" tanyaku, entah kepada siapa. Suaraku menggema, lalu kembali menghantam kepalaku seperti suara asing.

Di hadapanku, sebuah pintu hitam tiba-tiba muncul. Tidak ada gagang, tidak ada ukiran, hanya hitam pekat yang menusuk. Rasa penasaran mendorongku untuk mendekat. Tanganku terjulur, tapi tubuhku bergetar. Ada bisikan samar di telingaku, suara yang mirip dengan suaraku sendiri, tapi lebih dalam, lebih tua.

"Masuklah… kalau kau berani."

Aku menelan ludah, lalu mendorong pintu itu.

Di baliknya, bukan neraka, bukan surga. Aku melihat hidupku sendiri. Potongan demi potongan kenangan jatuh dari langit seperti pecahan kaca: wajah ibuku yang menangis, tawa ayahku yang hilang di usia muda, sahabat yang pernah ku hianati, perempuan yang pernah kucintai tapi kubiarkan pergi. Semuanya menghantam lantai kosong, pecah, dan aku dipaksa menatap setiap serpihan itu.

Setiap kali mataku menyentuh pecahan kenangan itu, rasa sakit muncul lebih sakit daripada luka di dunia nyata. Di sinilah aku mengerti bahwa hidup setelah mati bukan tentang surga atau neraka, melainkan tentang berdamai dengan diri sendiri.

Tapi aku bukanlah jiwa yang damai.

Aku dipenuhi penyesalan.

Aku menyesal karena terlalu sibuk mengejar pengakuan, menunda kebahagiaan, dan membiarkan waktu merenggut semua yang kucintai.

Tiba-tiba, sosok lain muncul. Bayangan diriku, tapi lebih gelap, dengan mata merah yang menatapku tajam.

"Aku adalah kau yang sebenarnya," katanya. "Aku adalah kebohongan yang kau pelihara. Aku adalah sisi yang kau sembunyikan. Dan di dunia setelah mati… tidak ada tempat untuk bersembunyi."

Dia mendekat, dan aku bisa merasakan hawa dingin menyusup ke tulangku. Aku ingin lari, tapi kaki ini menempel ke tanah yang tak nyata. Aku ingin berteriak, tapi suara tercekat di tenggorokan.

Maka, aku hanya bisa menatap diriku sendiri, diriku yang selama ini ku benci, diriku yang selalu ku larikan.

Di sanalah aku sadar, kematian bukanlah akhir.

Kematian hanyalah cermin.

Dan aku, harus menatapnya tanpa bisa memalingkan wajah.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Flash
Hidup Setelah Mati
Ika nurpitasari
Flash
Ruang Mimpi
Tya Fitria
Flash
Bronze
Makhluk Ciptaan
Rere Valencia
Flash
Bronze
Piye? Enak Jamanku, Tho?
Rere Valencia
Flash
After Taste
Adam Nazar Yasin
Novel
Tidak Harus Sembuh untuk Tetap Hidup
Novenita Marpaung
Flash
Bronze
Palopomoromisme
Y. N. Wiranda
Flash
Mawar yang Tak Menyadari Durinya
Jasma Ryadi
Flash
Bronze
Srigala berbulu domba
Ahmad Muhaimin
Novel
Dilihat lagi dan lagi
Aris Setiawan
Novel
Euforia
SIONE
Novel
Kamar Tidur
N'zyna
Novel
Hari-Hari Berat (2)
Titin Widyawati
Novel
Anak Perempuan yang Tak Pernah Dirayakan
Tya Fitria
Cerpen
Bronze
Dunia Kerja Rana
T. Filla
Rekomendasi
Flash
Hidup Setelah Mati
Ika nurpitasari
Flash
Rasa yang perlahan mati
Ika nurpitasari
Flash
Pertemuan
Ika nurpitasari
Flash
Be yourself
Ika nurpitasari
Flash
Waktu
Ika nurpitasari
Flash
Kesendirian
Ika nurpitasari
Flash
Stairway To Heaven
Ika nurpitasari
Flash
Tangga menuju surga
Ika nurpitasari
Flash
Bronze
Kecewa
Ika nurpitasari
Flash
Pintu
Ika nurpitasari
Cerpen
Bronze
Lukisan Kehidupan
Ika nurpitasari
Flash
Impian
Ika nurpitasari
Novel
First Love
Ika nurpitasari
Flash
Bronze
Rumah Bapak
Ika nurpitasari
Flash
Mirror
Ika nurpitasari