Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Museum Kenangan
3
Suka
19,328
Dibaca

Dulu aku sering berkata kepada sahabat-sahabatku,"Kalau istrimu selingkuh, tinggalkan saja. Hargai dirimu. Untuk apa bertahan di rumah yang sudah kebobolan?!"

Aku pikir aku mengenal siapa diriku saat mengucapkan itu. Lelaki rasional. Tegas. Mandiri. Namun, sekarang aku duduk di ruang tamu rumahku sendiri, memperhatikan istriku mengetik di laptop sambil tersenyum simpul.

Aku tahu senyum itu bukan untukku. Dia menyembunyikan perselingkuhannya dengan rapi. Aku mengenalnya terlalu dalam. Setiap gerak-geriknya sangat lekat di benakku. Menjadi penanda maupun notifikasi langsung.

Pakaian kerjanya semakin ketat. Lipstiknya lebih cerah dan tebal dari biasanya. Tampilannya selalu merona, padahal sebelumnya sangat sederhana. Setiap kali aku bertanya atau menegur, dia menjawab satu oktaf di atas nadaku. “Dari dulu aku seperti ini. Ini tuntutan pekerjaan.”

Lucu. Dulu kami saling tahu isi pikiran tanpa bercerita. Sekarang, dia bahkan tak mau lagi bicara.

Ketika aku meminta penjelasan, dia akan mengorek isi ponselku. Namun, aku tak boleh melakukan hal sebaliknya. Posisiku selalu terduga. Jika aku memaksa, dia menangis, memutarbalikkan seolah akulah yang tidak percaya.

Entah. Aku selalu kalah. Bukan mengalah. Karena pada dasarnya, aku sudah tahu semuanya.

Setelah melalui malam dalam ketegangan, pagi kerap terasa lebih hangat. Dia akan lebih dulu bangun dan berada di dapur, lalu memanggil dari meja makan dengan suara mesra.

“Hari ini kamu pulang jam berapa, Mas?”

“Jangan lupa bayar tagihan listrik, air, dan wi-fi, ya!”

“Nanti sore biar aku aja yang jemput Kevin.”

Pikiranku buntu. Nalarku tersumbat. Apa yang sebenarnya dia inginkan? Tetap bersamaku, tetapi juga bersama dia? Atau sekadar mencari hiburan di luar rumah? Kukira sepuluh tahun tanpa pertengkaran merupakan pencapaian terbaik dalam pernikahan.

Rupanya dia menebar hati, dan aku masih terus diam. Bukan karena tidak bisa marah, melainkan karena aku tidak tahu harus menjadi siapa kalau bukan suaminya.

Aku menemukannya. Nama pria itu: Aditya. Rekan kerja. Duda dua anak. Kami pernah saling sapa saat acara gathering kantor istriku tahun lalu. Dia menjabat tanganku dengan percaya diri. Senyum mengembang, mengalirkan keramahan. Senyum yang kini berubah menjadi cumbu di pipi istriku.

Aku tidak melakukan konfrontasi. Belum. Sebab, aku malu.

Ya, malu. Bukan hanya karena diselingkuhi, tetapi karena tetap mencintai istriku. Karena masih membuatkan teh manis untuknya setiap pagi. Karena masih menarik selimut untuk mengusir dingin dari tubuhnya. Karena aku masih menyimpan pesan suara lamanya yang berkata, “Jangan pernah tinggalin aku, ya, Mas.”

Aku paham bahwa cinta bisa berubah bentuk. Ia bisa menjadi cambuk, bisa juga menyamar lembut. Saat wujudnya tak bisa lagi kusentuh, mungkin memang ruangnya sudah tak sanggup lagi menampung.

Suatu malam, aku mencoba memetakan keputusan. “Kamu masih cinta sama aku?” tanyaku, halus dan hati-hati.

Dia tidak menjawab. Hanya menatapku lama.

Aku menunggu. Sabar, meski setengah kesal.

“Kamu sebenarnya lelah dengan hubungan ini, kan? Mengapa kamu melemparkannya kepadaku?” Akhirnya, mulutnya terbuka. Sayangnya, lidahnya menempelkan label dan membentangkan tameng dengan segera.

Aku tak mau dia membalikkan semua tanya, memainkan sandiwara, seolah aku yang mendua.

“Namanya Aditya, bukan?” tanyaku, tegas.

Dia menarik napas. Tidak membantah. Pun, tidak meminta maaf.

“Aku cuma pengin merasa hidup lagi, Mas. Aku butuh orang yang men-support aku ketika jenuh bertahta di kepalaku,” ucapnya, tanpa menoleh ke arahku.

Aku tersentak. Tak percaya kalimat itu mengalun tenang dari bibirnya. Hidup lagi. Support. Jenuh. Seketika aku menghilang dari memorinya. Hari-hari yang dijalani bersama seakan telah lebur menjadi abu. Berterbangan, menempel pada puing-puing hina.

Sungguh. Aku merasa tidak bersalah, tetapi justru seperti yang paling bersalah. Aku merasa gagal, padahal ini bukanlah perlombaan.

Dia keluar kamar dengan raut tegang membara. Pintu yang diam menjadi pelampiasannya.

Aku menahan emosiku. Ada anak kami yang harus dijaga mentalnya. Namun, di dalam kamar mandi, aku memuntahkan segalanya hingga air mata berjatuhan.

Besoknya, aku tetap mengantar Kevin ke sekolah. Tetap mencium keningnya. Tetap bertanya, “Hari ini pelajarannya apa saja?”

Karena menjadi ayah yang baik terasa lebih mungkin daripada menjadi suami yang cukup. Anak adalah jawaban. Pasangan adalah pertanyaan.

***

Sudah tiga bulan sejak aku tahu. Dia masih di sini. Kami masih tinggal di rumah yang sama. Namun, rasanya bagaikan mendiami museum: semua benda masih ada, tetapi kenangannya sudah membatu.

Pernah terlintas untuk pergi. Hanya saja, aku tak punya tujuan. Aku tidak bisa meninggalkan anakku. Aku tidak bisa membayangkan hari-hari tanpa suara kecilnya memanggil, “Ayah.”

Anehnya, aku juga tidak bisa membayangkan rumah ini tanpanya—perempuan yang menusukku pelan-pelan, yang tetap kupanggil istri.

Aku tidak menjadi korban. Aku juga bukan pahlawan. Aku hanya laki-laki yang duduk di meja makan tiap malam, menyantap makanan dari tangan yang juga pernah menyuapi laki-laki lain.

Mengapa masih berjalan di atas bara? Karena terkadang menahan sakit lebih mudah dibanding membangun ulang hidup yang runtuh—sendirian. Dan aku mencoba menelan ucapanku sendiri.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Lady Rose
Fadhilot
Novel
Bronze
Nawaitu
ef fatma
Novel
Rumi dan Salah
Eka Retnosari
Skrip Film
Kasih Oleh Rumah
Fatih Hayatul Azhar
Flash
Museum Kenangan
Jasma Ryadi
Flash
Bronze
Tungku Besar
Ahmad Muhaimin
Novel
Malaikat Jatuh
Jesselyn Abdisaputera
Novel
Sekuntum Teratai Untuk Ibu
Dia Rahmawati
Flash
Hormat Bendera Grak !!!
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
Seperti Laju Sampan
Lily N. D. Madjid
Novel
Bronze
Thantophobia : Rasa Takut Kehilangan Orang yang Dicintai
ahmad dicka hudzaifi
Novel
Bronze
Si Cantik
Hermawan
Novel
Gold
The Black Cat
Noura Publishing
Flash
Senyuman Hana
Eri Fin
Flash
Bronze
Saga Recorded: Empat Hari Menuju Sempurna
Rere Valencia
Rekomendasi
Flash
Museum Kenangan
Jasma Ryadi
Flash
Gema yang Redup
Jasma Ryadi
Flash
Bulan ke-10
Jasma Ryadi
Flash
Mengapa Aku Belum Mati?
Jasma Ryadi
Flash
Pukul 01:10
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Tanganku di Timur, Hatimu di Barat
Jasma Ryadi
Flash
Surat Untukmu Dariku
Jasma Ryadi
Flash
Jangan Menimpali!
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Unfinished Business
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Andai Ayah Tak Begitu
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Kembalinya Sang Penari
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Prenuptial Agreement: Antara Luka dan Logika
Jasma Ryadi
Flash
Ekuinoks
Jasma Ryadi
Flash
Sosok yang Lain
Jasma Ryadi
Novel
Karantina
Jasma Ryadi