Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Thriller
Tirai Merah
2
Suka
5,274
Dibaca

Raga memfokuskan matanya pada sasaran. Peluh dingin membasahi telapak tangannya, meski udara malam menusuk kulit. Di balik teropong bidik, ia melihat siluet rekannya, seorang polisi yang memimpin operasi penangkapan. Nafasnya tertahan, jari telunjuknya terasa kaku di pelatuk. Tugasnya jelas: melumpuhkan ancaman. Ia menarik pelatuk.

Suara letusan senapan memecah keheningan. Kilat sesaat dari moncong laras menerangi wajah Raga yang tegang. Ia melihat sosok di teropong itu tersungkur. Misi selesai.

Tiba-tiba, lampu sorot menyilaukan matanya. Bukan lampu operasi, melainkan lampu panggung. Tepuk tangan menggema. Raga mengerjap, kebingungan. Di sekelilingnya, berdiri rekan-rekannya termasuk pemeran yang baru saja ia "tembak." Mereka tersenyum dan bertepuk tangan.

"Cut!" seru sutradara dari kegelapan. "Bagus sekali, Raga! Ekspresi dinginmu dapat banget."

Raga terdiam, mencoba mencerna apa yang terjadi. Jadi, semua ini... syuting film? Ia menghela napas lega, bercampur rasa malu. Ia bukanlah pembunuh sungguhan.

"Ayo, Ga. Ngopi dulu," ajak Satria yang berperan sebagai astrada.

"Aktingmu makin mantap aja, Bro," timpal seorang pemeran lain, merangkul Raga sambil tertawa.

Di ruang istirahat, kru mulai membereskan properti. Raga duduk terpisah, pikirannya masih berkecamuk.

"Menurutku, akhir naskahnya kurang gereget," celetuk sutradara, menyeruput kopinya. "Bagaimana kalau komplotannya lolos?"

"Tapi kalau begitu, Raga berhasil menembak semua polisi, dong? Itu agak... terlalu mudah," sanggah Satria, mengerutkan kening.

Raga mendengarkan percakapan itu dengan saksama. Jauh di lubuk hatinya, ia merasakan keanehan yang tak bisa dijelaskan. Ia tidak ingin komplotan itu tertangkap. "Saya setuju dengan sutradara," katanya, menyela. "Akan lebih dramatis kalau mereka berhasil kabur. Penonton pasti lebih penasaran."

"Tapi kan, sebagian besar pemeran kita 'mati' sia-sia?" protes pemeran lain yang tadi berperan sebagai polisi yang tertembak.

"Itu kan cuma akting," jawab Raga, terlalu cepat.

Sutradara menghela napas. "Oke, oke. Kita bahas nanti. Raga, adeganmu selanjutnya kapan?"

Raga menelan ludah. "Dialog saya setelah ini... apa, ya?"

Satria menunjuk tumpukan naskah di sudut ruangan. "Cek sendiri, Ga. Naskahnya sudah dibagikan."

Raga menatap tumpukan naskah tebal itu. Ia merasa seperti orang asing di dalam tubuhnya sendiri. Ia tidak ingat dialognya. Ia bahkan tidak yakin adegan selanjutnya tentang apa. Sebuah pertanyaan dingin menusuk benaknya: kalau semua ini hanya film, kenapa rasa lega dan keinginan agar komplotan itu lolos terasa begitu nyata? Dan mengapa ia merasa seolah-olah semua ini bukan naskah, melainkan sebuah rencana yang telah ia susun sejak awal?

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Thriller
Flash
Tirai Merah
Sekar Kinanthi
Cerpen
CERMIN
Kagura Lian
Cerpen
Raksasa dan Si Tua
hyu
Novel
Kami (bukan) Tinta Berdasi
Martha Z. ElKutuby
Flash
Aku Sekarat
lidia afrianti
Skrip Film
BAGAIMANA?
Nafika Riyanti
Flash
Setting-an
BANYUBIRU
Novel
5 AKUMA
Himekodhamzzzz
Flash
Bronze
The World In His Words
Aditian Nugraha
Novel
Bronze
Mami Rose
Ken Hanggara
Novel
Street Syndicates
Rizqi Mochamad Saputra
Skrip Film
Anonim
D. Hardi
Skrip Film
BOSS: 'Psyco Or Not' [SKRIP FILM]
Priki~
Skrip Film
Loveless Dad
Martha Z. ElKutuby
Flash
Labirin Bawah Tanah
Allamanda Cathartica
Rekomendasi
Flash
Tirai Merah
Sekar Kinanthi
Flash
Teduh yang Tak Pernah Kupilih
Sekar Kinanthi
Flash
Selamat Ulang Tahun, Rara
Sekar Kinanthi
Flash
Jika Hidup adalah Cerita, Siapa Pembacanya?
Sekar Kinanthi
Flash
Rumah yang Retak
Sekar Kinanthi
Cerpen
Heaven is Troubled
Sekar Kinanthi
Cerpen
Ketika Langit Salah Dengar
Sekar Kinanthi
Cerpen
Basement In Heaven
Sekar Kinanthi
Flash
Jebakan Cinta Sang Pewaris
Sekar Kinanthi
Flash
If I Saw You In Heaven
Sekar Kinanthi
Flash
Selamanya 24 di 24 November
Sekar Kinanthi
Cerpen
Halaman Pertama: Prequel Halaman Terakhir
Sekar Kinanthi
Flash
Benang Merah
Sekar Kinanthi
Flash
Keluargaku di Garis Takdir Lain
Sekar Kinanthi
Cerpen
Luna: Jiwa yang Hilang
Sekar Kinanthi