Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
“Sekian laporan dari kami, kembali ke studio.” Maya tersenyum ke kamera. Liputan langsung baru saja diakhiri. Maya menarik napas sambil mengipaskan tangannya. Hari ini cuaca sangat panas.
“Mau es teh nggak, May?” tawar Andi, kameramennya.
“Boleh, deh,” jawab Maya.
Andi meletakkan kamera di tempat aman sebelum melangkah menuju penjual es teh. Maya membuka ponselnya. Ada pesan dari rekannya yang berisi alamat penemuan mayat, letaknya tidak jauh dari posisi mereka.
“Nih, es tehnya,” ucap Andi sambil memberikan segelas es teh. “Baca apa, sih? Serius amat.”
“Habis ini kita lanjut liputan. Ada penemuan mayat di daerah X,” jelas Maya.
Setelah membereskan peralatan, mereka segera berangkat. Andi melihat peta di ponselnya. “Ini belok, kan?” gerutunya.
“Lewat sini bisa, kok. Tapi memang lumayan mepet buat mobil,” jawab Maya, matanya fokus pada spion memastikan mobil kantornya tidak tergores.
Setelah sampai, mereka langsung mengumpulkan informasi. Mayat yang ditemukan adalah seorang laki-laki bernama Mario. Ia sudah lama hidup sendiri. Mario dikenal sebagai warga yang aktif bersosialisasi, selalu tersenyum, dan punya banyak teman. Ia menghilang tiba-tiba. Warga akhirnya membuka paksa pintu rumahnya karena mencium bau busuk, dan menemukan Mario di kamar sudah tak bernyawa.
Ketika Maya mempersiapkan siaran langsung, ia melihat seorang bapak-bapak menatapnya intens. Maya mendekatinya.
"Halo, Pak?" sapa Maya.
"Oh, iya, Neng," jawab bapak itu, grogi.
"Dengan Bapak siapa?"
"Marsidi."
"Bapak berkenan diwawancara?"
"Boleh saja, Neng."
Andi memberikan kode memulai siaran langsung. "Satu, dua, tiga."
"Bapak terakhir kali melihat korban kapan?" tanya Maya.
"Dua hari lalu. Saya lihat ada yang keluar rumah. Makanya saya kaget kok hari ini ditemukan mayat."
"Penampilan korban terakhir seperti apa, Pak?"
"Enggak begitu jelas, Neng. Pakai jaket, pakai sepatu, tertutup deh. Terus perginya jalan."
Setelah siaran berakhir, Maya kembali mendekati Marsidi. "Bisa jelaskan lebih detail apa yang Bapak lihat?"
"Apa ya, Neng," ucap Marsidi, menggaruk kepalanya. "Model sepatunya itu mirip sama sepatu eneng, terus korban kemarin saya lihat ngerokok. Padahal biasanya enggak."
Maya hanya mengangguk, namun pikirannya melayang. Ia melihat ke kakinya, ke sepatu yang sama dengan yang dikenakan Mario. Mario yang selalu tersenyum, yang aktif bersosialisasi, yang tidak pernah merokok, kini ditemukan tak bernyawa. Maya tersenyum kecil. Ia sudah tahu. Mario adalah satu-satunya orang di dunia yang memiliki kegelapan yang sama dengannya, dan ia membenci kenyataan itu.
Dua hari kemudian, ponsel Maya bergetar. Sebuah pesan anonim masuk, berisi koordinat dan sebuah kalimat singkat: "Jika kau ingin tahu siapa yang membunuh Mario, datanglah ke sini."
Maya tentu tidak percaya, tapi ada yang aneh. Koordinat itu mengarah ke sebuah bukit di belakang sekolah, tempat yang pernah ia lewati saat meliput Mario. Ia tidak bisa mengabaikannya.
Malam harinya, Andi dan Maya mendatangi bukit itu. Udara terasa dingin.
“Kayaknya ke arah sini, deh, Ndi,” ucap Maya sambil berjalan ke arah atas.
Mereka terkejut. Di depan mereka, terhampar pemandangan puluhan mayat berlakban kuning, seperti mumi yang cacat. Lakban yang membungkus mereka tidak sempurna. Ada rambut yang keluar, tangan yang terlihat, dan mata yang menatap kosong.
“Ini bukan bunuh diri massal. Ini pembunuhan,” Andi bergidik ngeri. “Aku lapor polisi dulu ya, May.”
Andi menjauh sambil mengeluarkan ponselnya. Maya hanya melihat mayat-mayat itu. Ia berjalan mendekati salah satu mayat yang terlihat bergerak. Mayat itu berusaha menggapai kaki Maya sambil berkata lirih, “Kenapa kamu bunuh kami?”
Mendengar bisikan itu, Maya tidak terkejut. Justru, ia merasakan kelegaan. Ia berjongkok, mengamati tangan yang terbalut lakban. "Diam," bisiknya, suaranya pelan dan datar. Ia melihat sekeliling, memastikan Andi tidak melihatnya. “Kalian adalah cermin yang tak ingin kulihat lagi. Aku harus membuang kalian.”
Ia menyentuh lakban di wajah mayat itu. “Aku tidak akan membiarkan kalian menjadi pengingat atas siapa diriku.” katanya, suaranya kini penuh kepuasan.
Tangan yang menggapai kakinya perlahan terkulai lemas. Maya berdiri. Ia merasa ringan, seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya. Ia melangkah pergi, meninggalkan mayat-mayat itu.
Andi kembali, wajahnya pucat. “Polisi akan segera datang, May. Gila, ini pembunuhan.”
Maya hanya mengangguk, sorot matanya kosong. Ia melirik Andi, lalu melihat kamera yang ia pegang. Di balik kamera ini, ia bisa menjadi siapa saja yang ia mau. Seorang reporter. Seorang saksi. Seorang pahlawan. Dan tidak ada yang akan tahu, di balik kamera itu ada seorang pembunuh.
Namun, di dalam hatinya, sebuah bisikan baru mulai terdengar. Bisikan yang menyanyikan sebuah lagu yang ia dengar saat ia kecil. Bisikan yang menjanjikan sebuah akhir yang tenang. Bisikan yang memanggilnya kembali. Maya tahu, ia hanya berhasil membunuh cermin. Bukan dirinya. Dan di luar sana, cermin lain sedang menunggunya.