Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Jari-jari gemetar menggenggam sarung berlumur semen kering. Kaki lambat melangkah, peluh membasahi wajah, leher, hingga baju. Matahari terik menambah berat bebannya, tapi tidak ada yang bisa menghentikan Adit menyusuri jalan Kemusha.
Jalan Kemusha yang hanya setapak itu adalah tempat ia biasa beristirahat dan menyendiri sebelum lanjut bekerja. Jaraknya sekitar 300 meter dari danau buatan yang sedang dipugar. Danau buatan itu telah terbengkalai selama 20 tahun dan kini developer baru akan membuka kembali sebagai tempat rekreasi keluarga. Adit adalah salah satu pekerja bangunan di sana.
Setelah hampir 1 tahun menganggur, ia berteriak bahagia kala mendapat tawaran pekerjaan itu. Sebelumnya, sudah ada lebih dari 9 pekerjaan yang ia jalani, namun ujung-ujungnya mengundurkan diri oleh banyak alasan logis: kantor kejauhan, orang tua tak ada yang mengurus, pergaulan di kantor terlalu modern, pengeluaran selama bekerja lebih banyak dibanding gaji, job desk serabutan, banyak tukang cari muka, termotivasi oleh konten kreator trading, membuka usaha makanan kekinian, ingin menjalani slow living, dan banyak lagi.
Terakhir kali sebelum resign dari bank sebagai auditor internal, ia beralasan ingin menjalani frugal living untuk mendapatkan ketenangan hakiki. Demi kesehatan mental, juga masa tua yang nyaman.
...
30 menit sudah ia bolak-balik mencari cincin emas yang menurutnya jatuh di sana. Cincin itu adalah sisa tabungan dari gaji 9 pekerjaan sebelumnya. Sambil mengomel ini itu, ia mencabik-cabik rumput, menendang-nendang pasir, hingga mencabut pohon ciplukan yang masih kecil. Diangkat dan dipukul ke tanah berkali-kali.
Oleh sebab perut lapar dan terik matahari, pria berusia 35 tahun itu merasa pusing, lalu berhenti membuang-buang tenaga. Dipandangnya danau buatan yang kian memancing amarah. "Danau bangs*t! Sial*an! Padahal aku rela jadi tukang untuk memperbaikimu, tapi begini balasanmu?! Danau bangs*at! Sial*an!" ucapnya.
"Aku pulang! Aku pulang! Gelar sarjana Akuntansi tidak pantas untukmu, danau bangs*t!" teriaknya lagi sembari menyusuri jalan pulang.
Sampai di rumah, Adit masuk ke kamar dan tak memedulikan panggilan ibu dan ayahnya. Dua manusia renta itu saling pandang, lalu lanjut menganyam kipas suvenir pesanan tetangga yang akan hajatan. Di atas dipan kayu, Adit rebah sembari menatap langit-langit. Mata berkaca-kaca, tanda penyesalan pun mulai menggerogoti. Diambilnya ponsel, memutar playlist, lalu bersembunyi di balik selimut.
Tak lama kemudian, sebuah lukisan tiba-tiba jatuh ke atas meja. Double tape di keempat sisi belakangnya sudah tak kuat menempel pada dinding kamprot. Lukisan itu aneh. Latar belakangnya hitam, dengan gambar tangan manekin yang dipasang di atas busi. Di meja, lukisan menutupi tumpukan buku 'How to …' berbaur dengan buku tes CPNS, BUMN, dan sebuah lukisan mandala yang belum selesai.
***