Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Rumah yang Retak
6
Suka
17,778
Dibaca

Rumah kecil itu sudah bertahan puluhan tahun. Cat tembok yang sudah luntur terkena hujan, dinding yang berlumut, kayu yang keropos seperti menunjukkan perjuangan rumah itu. Rumah yang selalu bertahan dalam keadaan apa pun. Bukan lagi panas dan hujan, tapi juga badai. Ketika musim hujan air bisa masuk melalui celah-celah yang ada. Ketika kemarau celah-celah itu menjadi pintu masuk angin yang menyegarkan. Sampai hari ini, rumah itu menjadi tempat pulangnya sebuah keluarga. Ada ayah, ibu, dan anak-anak mereka. Setiap sudut rumah selalu mempunyai cerita bagi penghuninya. Ada ruangan yang menjadi saksi hangatnya keluarga itu.

Aku adalah salah satu dari anak-anak yang tumbuh di sana. Setiap malam, aku bisa mendengar tawa ayah dan ibu dari kamarku. Rumah ini adalah duniaku, bentengku.

Tapi suatu malam, aku merasakan getaran aneh. Bukan gempa yang dulu sering kami rasakan. Aku melihatnya. Retakan pertama muncul di dinding kamarku. Bukan retakan besar, hanya garis tipis seperti rambut. Aku ingin berteriak, tapi suaraku tertahan. Aku melihat retakan itu menyebar satu per satu seperti urat nadi yang pecah.

Aku melihat lantai yang dulunya menjadi pijakan, kini membuka. Dinding yang merekam kenangan perlahan menciptakan pola-pola retakan yang menyakitkan. Dinding tempat dulu Ayah mengukur tinggiku setiap tahun, kini terbelah. Tempat coretan pensilku saat masih kecil, kini mengelupas. Aku hanya duduk di sana, lumpuh tak berdaya.

Tiap malam, ketakutan itu semakin nyata. Retakan di dinding kamarku terasa seperti jurang yang menganga. Aku takut jika suatu hari nanti, retakan itu akan menelanku.

Sampai suatu malam, aku bermimpi. Aku melihat rumahku hancur lebur dan aku sendirian. Bukan karena gempa tapi karena aku membiarkannya hancur. Aku membiarkan retakan itu mengambil alih.

Aku terbangun dengan keringat dingin. Aku tak bisa membiarkan ini terjadi. Aku tidak bisa terus melihatnya hancur. Dengan napas gemetar, aku meraih plester yang kupunya. Aku harus melakukan sesuatu.

Aku mulai dengan retakan yang paling kecil. Dengan tangan gemetar, aku mengambil plester dan mencoba menutupinya. Keesokan harinya, retakan itu muncul lagi di tempat yang berbeda. Aku menambal lagi, dan lagi. Tanganku kotor, bajuku penuh debu. Ayah dan ibu mungkin melihatku, tapi mereka seolah tak menyadari apa yang kulakukan.

"Nak, kenapa bajumu kotor sekali?" tanya Ibu suatu sore.

"Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya membereskan kamar," jawabku sambil menyembunyikan sisa plester di tanganku. Ibu hanya mengangguk, lalu kembali ke ruang tengah.

"Kamu selalu di kamar, Nak. Keluar, bermainlah," kata Ayah sambil menepuk pundakku.

Aku hanya tersenyum tipis. "Rumah ini butuh aku, Yah," bisikku yang tentu saja tidak ia dengar.

Prosesnya lambat dan melelahkan. Setiap retakan yang kutambal terasa seperti menambal bagian dari diriku yang hilang. Ada malam-malam di mana aku ingin menyerah. Rasanya aku menambal, tapi kehancuran datang lebih cepat. Namun, setiap kali aku berhasil menutup satu retakan, rasanya seperti memenangkan pertempuran kecil.

Suatu sore, setelah menambal retakan besar di dekat jendela ruang tamu, aku memutuskan untuk keluar. Aku berdiri di halaman dan memandangi rumah tua itu. Dari jauh, rumah itu terlihat sama. Tapi ketika aku melangkahkan kaki lebih dekat, aku melihatnya. Tambalan-tambalan yang menonjol, bekas cat yang tidak sempurna, dan garis-garis plester yang tak rata.

Rumah itu tidak lagi mulus, tapi ia utuh. Aku tersenyum, menyadari bahwa bekas luka itu bukan tanda kelemahan melainkan bukti bahwa ia telah bertahan.

Rumah itu tidak akan pernah kembali seperti semula. Dindingnya kini penuh dengan tambalan dan bekas luka dari perjuanganku. Tapi, rumah ini tidak lagi retak. Rumah ini kuat dengan cara yang berbeda. Aku belajar bahwa sebuah rumah tidak harus sempurna untuk menjadi tempat pulang. Ia hanya perlu punya satu orang yang bersedia menambalnya, satu per satu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Rumah yang Retak
Sekar Kinanthi
Novel
Bronze
Sepatu untuk Riyani
Vhira andriyani
Novel
Bronze
LOVE, ANDRA
Embun Pagi Hari
Novel
Semua Untuk Raya
Aiden
Flash
Bronze
Kursi Goyang, Kursi Maut
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Perpustakaan Bayangan - Perpustakaan yang Menyimpan Hari-Hari yang Tidak Pernah Terjadi
Fredhi Lavelle
Novel
Bronze
Cloud Walker
Gemi
Novel
Gold
Dear Martin
Mizan Publishing
Novel
A Straight Rain: A Story about Their Gathering in Tokyo
Anis Maryani
Novel
Gold
KKPK Garage Sale
Mizan Publishing
Skrip Film
Justice for Rose (Script)
Ika Karisma
Novel
Bronze
Lukisan Tiara
wdya
Novel
Bronze
How to Befriend the So Called Classmate
aoillies
Novel
Kisah yang Belum Usai
Husni Magz
Novel
Dear Oma
Lyra
Rekomendasi
Flash
Rumah yang Retak
Sekar Kinanthi
Flash
Rumah yang Tidak Boleh Kutinggali
Sekar Kinanthi
Flash
Raga Milik Bumi
Sekar Kinanthi
Flash
7 Menit yang Tersisa
Sekar Kinanthi
Novel
Jebakan Cinta Sang Pewaris
Sekar Kinanthi
Flash
Hati yang Ingin Pulang
Sekar Kinanthi
Flash
Jiwa yang Dikucilkan
Sekar Kinanthi
Flash
If I Saw You In Heaven
Sekar Kinanthi
Cerpen
Luna: Bayangan yang Kembali (Prequel Luna: Jiwa yang Hilang)
Sekar Kinanthi
Cerpen
Halaman Pertama: Prequel Halaman Terakhir
Sekar Kinanthi
Flash
Hadiah dari Bumi
Sekar Kinanthi
Flash
Tirai Merah
Sekar Kinanthi
Cerpen
Pacar Pura-Pura
Sekar Kinanthi
Cerpen
Basement In Heaven
Sekar Kinanthi
Flash
Di Balik Kamera
Sekar Kinanthi