Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Selamat Tinggal
0
Suka
331
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Aku menghela nafas panjang saat kembali ke tempat ini. Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali datang ke tempat ini. Tempat ini banyak menyimpan kenangan dalam kisah hidupku. Tempat untuk pertama kalinya aku jatuh hati, tempat untuk pertama kalinya jantungku berdebar kencang untuk seseorang, pun tempat pertama kalinya hatiku dipatahkan.

Ray menggenggam tanganku, tersenyum lembut menuntunku ke dalam. Pangeran kecilku telah berlarian di depan, senang sekali menyaksikan tingkah menggemaskannya meski terkadang sedikit mengkhawatirkan. Hari ini kami merayakan hari ulang tahunnya yang ketiga. Sebenarnya aku sempat menolak ketika Ray mengusulkan tempat ini. Aku khawatir kenangan akan masa lalu kembali muncul dan mengganggu momen spesial kami. Namun Ray berhasil membujuk dan meyakinku. Ia berkata lembut sambil memegang tanganku.

“Sayang, terkadang keraguan itulah yang membuat perasaan kita terbelenggu. Kamu terlalu takut, khawatir akan kemungkinan-kemungkinan buruk yang belum terjadi, kamu takut kenangan yang muncul hanya akan merobek kembali luka yang belum sepenuhnya mengering. Hingga kamu lupa akan satu hal, kemarin, hari ini, dan seterusnya, kamu nggak pernah sendiri. Kamu punya aku sayang, ada pangeran kecil kita”.

“Dengan kembali ke sana aku berharap kamu mampu mengenang semuanya dengan tersenyum, dengan hati yang lapang, dan dengan pemahaman yang lebih baik. Kamu berhak lepas dari belenggu perasaan masa lalu, kamu berhak sembuh sepenuhnya, kamu berhak bahagia, dan dengan semua itu aku berharap kamu bisa menerima kehadiranku seutuhnya”.

Ray tersenyum, senyum yang selalu berhasil menenangkan. Menatapku penuh pengertian. Menungguku yang masih juga belum menjawab.

“Tapi kalau kamu belum siap tak apa, kita bisa ke sana lain waktu, kita cari....”.

“Kita akan merayakannya di sana”. Ucapku cepat memotong kalimatnya.

“Kamu benar Ray, aku terlalu takut untuk mengenangnya kembali. Aku khawatir kenangan itu akan kembali menyakitiku. Hingga aku abai kalau selama ini aku nggak sendiri. Aku minta maaf Ray. Sungguh....”.

Aku terisak, tak mampu melanjutkan kalimat. Percakapan ini tak pernah mudah bagiku. Ray merengkuh tubuhku, memberiku ketenangan dalam dekap hangatnya.

“Sst...., tak ada yang perlu dimaafkan sayang”.

Brak!

“Aduh!”.

Tiba-tiba keributan kecil terjadi. Di depan sana Pangeran Kecilku tak sengaja menabrak gadis kecil yang kira-kira seusia dengannya. Mereka terjatuh ke lantai, sama-sama meringis menahan sakit. Aku segera berlari menghampiri mereka. Ibu gadis itu juga terlihat mendekat, wajahnya sedikit panik.

“Ali..... Ali nggak papa sayang?”. Tanyaku memastikan sambil memeriksa tubuh Pangeran Kecilku.

“Ali nggak papa Ma”. Ia mengangguk sambil meringis, senyum dengan gigi geripis itu membuatku lega.

“Minta maaf dulu sayang”.

“Maafin Ali ya, Ali nggak sengaja”. Ali mengulurkan tangannya pada gadis yang tadi tak sengaja ditabraknya. Gadis itu menerima uluran tangan Ali. Tersenyum.

“Maafin anak saya mbak. Tadi anak saya kurang hati-hati jadi nabrak anak mbak”. Kataku menyesal pada ibu gadis itu.

“Nggak masalah mbak, biasa, namanya juga anak-anak. Sedang aktif-aktifnya”. Jawabnya sambil tersenyum, aku balas tersenyum lega.

Aku menundukkan tubuh, menyejajarkan dengan tinggi gadis kecil itu. Tersenyum lembut menatapnya. Gadis kecil itu balas menatapku, bola mata indahnya mengerjap-ngerjap. Entah mengapa saat menatap matanya seketika aku merasa dekat dengan gadis kecil ini. Cara dia tersenyum, cara dia menatap mirip sekali dengan orang yang ku kenal.

“Nama kamu siapa sayang?”.

“Ara. Alyssa Az Zahra”.

Ara? Alyssa Az Zahra?. Sama persis seperti namaku. Aku merasa ada yang ganjil.

“Ada apa sayang?”.

Deg!

Seketika jantungku berdebar kencang. Suara berat itu. Astaga. Aku sangat mengenalnya. Suara yang bertahun-tahun pernah mengisi hari-hariku. Suara yang bertahun-tahun tak lagi ku dengar. Suara yang pernah sangat kurindukan.

Perlahan aku menegakkan tubuh, mengarahkan pandang ke sumber suara. Dunia seolah berhenti saat mata kami bertemu.

“Ara?”. “Ali?”. Ucap kami bersamaan.

Suasana mendadak canggung. Ia mengusap bagian belakang kepalanya. Itu kebiasaan lamanya saat salah tingkah.

“Hai, lama nggak ketemu. Kamu apa kabar?”. Kepalang tanggung, aku menguatkan diri untuk menyapanya terlebih dahulu.

“Baik. Kamu sendiri?”

Perlahan aku menggenggam tangan Ray yang sejak tadi telah berdiri di sebelahku. Ray mengeratkan genggamanku, memberiku sugesti rasa tenang.

“Aku juga baik. Sangat baik bahkan”. Kataku sungguh-sungguh sambil tersenyum. Senyum yang hari ini berhasil kupahami setelah bertahun-tahun kupelajari.

Ya, Ray benar. Aku hanya perlu melapangkan hati, menerima apa yang telah menjadi bagianku. Hari ini aku memahami satu hal. Bahwa tidak ada yang perlu disalahkan saat kita memilih untuk saling melepaskan, itu artinya Tuhan telah memilihkan tangan yang tepat untuk kita genggam, dan akan ada kata selamat dalam setiap kata Selamat Tinggal.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Mawar Biru
SZA
Novel
Seberkas Kisah SMK
zahra riyadi
Skrip Film
Skrip pertama dari hati untuk mimpi
UBI Master
Flash
Bronze
Sesaat Aku Bertahan Untuk Pergi
alyaandita
Flash
Binti
Randy Satrya
Flash
Selamat Tinggal
kholifatussa'adah
Novel
Gold
Hwaiting 2 Dream Comes True
Mizan Publishing
Novel
Langit Cinta Kota Fukuoka
A. FADHIL
Novel
Luka Seorang Pejuang Garis Dua
GreenTea
Skrip Film
Ala
Katanka Byru Perwita
Flash
Bronze
Berhenti Ceritakan Mereka Kepadaku dan Jangan Ceritakan Aku Kepada Mereka
Silvarani
Flash
Momen Ketika (Duduk)
Rizqi Khoirul Hakim Sholihin
Cerpen
Bronze
Mukenah untuk Ibu
AndikaP
Cerpen
Bronze
Caramello di Kaki Bukit Penantian #BagianDua
Laily Zainuri
Cerpen
BISU
Muhamad Irfan
Rekomendasi
Flash
Selamat Tinggal
kholifatussa'adah
Novel
Can We Rewrite The Stars
kholifatussa'adah