Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Religi
Kotak Hitam & Selembar Uang
1
Suka
4,370
Dibaca

Nindy, mahasiswi semester lima lekas menuju selasar masjid. Tempat wudhu wanita.

“Ukhti cantik, buat akhirat. Jangan pelit!”

“Sebutir biji menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Al-Baqarah, 261,” seorang mahasiswi berujar pada temannya.

Kebisingan di kepala Nindy belum reda. Selembar uang entah bagaimana caranya cukup untuk kebutuhan satu minggu; makan, fotocopy, dan print out

Air wudhu membasahi wajah tirus Nindy, hatinya terhenyak. Memandang kotak hitam. Seorang diantara mahasiswi tadi memasukkan uang terlipat. Apakah dia ikhlas, Nindy menebak.

Menyelesaikan wudhu, Nindy terngiang kutipan surat tadi. Allah tidak akan menyia–nyiakan kebaikan seorang hamba beriman, Allah menjamin akan ada balasan dengan perumpamaan sebutir biji yang terus tumbuh. 

Nindy menghembus nafas panjang, kenapa dia terusik dengan perdebatan yang dirinya sendiri tidak terlibat. Logika matematika, dan iman bergelut dalam pikirannya. Nindy memperbaiki kerudung, harus membuat sisi kerudung di kanan–kiri wajah sejajar. Nanti, kalau beasiswa sudah cair akan lebih lapang untuk berinfaq, pikirnya.

Bedug penanda adzan telah ditabuh, seorang ibu dengan pakaian lusuh berdiri dekat kotak hitam. Nindy pikir ibu itu datang untuk berburu takjil buka bersama Senin-Kamis, di Masjid Al-Ikhlas, seperti dirinya. Tidak salah. Siapapun berhak mendapatkan.

Terkaan Nindy keliru, ibu berpakaian lusuh itu buru-buru pergi setelah  memasukkan uang terlipat ke dalam kotak hitam, persis di depan Nindy. 

Adzan maghrib terus berkumandang syahdu, hati Nindy bergetar. Beberapa saat langkah kakinya terasa ringan tanpa beban, bukan lagi untuk membatalkan puasa dengan takjil dan makan gratis. Tetapi ada rasa syukur, lapang, dan tenang yang tiba-tiba memenuhi jiwanya. Nindy tidak peduli, meskipun tidak lagi memiliki uang untuk hari esok.



Ibu berpakaian lusuh tadi mengajarkan Nindy, bukan keminiman harta yang menghalangi seseorang untuk beramal, tetapi rasa cukup dan syukur yang menghias hati. Lagipula Nindy masih memiliki kamar kos untuk berteduh, beberapa canting beras, tiga butir telur, dan satu galon air putih.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Flash
Kotak Hitam & Selembar Uang
Binar Bestari
Flash
Libero
Yattis Ai
Cerpen
Bronze
SEPASANG MATA BIDADARI
Lina Budiarti
Flash
Bronze
Iblis tak bisa menyesatkan, Nabi tak bisa memberi hidayah
Mukti Dwi Wahyu Rianto
Novel
Kaerumichi
Panji Pratama
Flash
Al Alaq
Vitri Dwi Mantik
Skrip Film
Mengapa Aku Berbeda?
Imajinasiku
Novel
Panitia Surga
TOFUBOOM
Flash
Air Susu Ibu
Fini Marjan
Flash
Sejarah Dua Nabi
Oliphiana Cubbytaa
Flash
Bronze
Natal Sekarang Bukan Natal Dulu
Nuel Lubis
Novel
Gold
Makelar Rezeki
Mizan Publishing
Novel
Bukan Takdir Cinta Kita
Lune Rouge
Flash
Bronze
Inun
Muhammad Yunus
Flash
Bronze
Kuikuti Kau di JalanNya
Silvarani
Rekomendasi
Flash
Kotak Hitam & Selembar Uang
Binar Bestari
Cerpen
Bronze
Curcollatte
Binar Bestari
Flash
Broken Wedding
Binar Bestari
Flash
Ibu Setengah Hari
Binar Bestari
Flash
Cahaya Di Atas Perahu
Binar Bestari
Flash
It's Oke
Binar Bestari
Flash
Perempuan: Joki Tong Setan
Binar Bestari
Flash
Labirin Luka
Binar Bestari
Flash
Kopi 10 Menit
Binar Bestari
Flash
Rahasia
Binar Bestari
Flash
Kembalinya Theresia
Binar Bestari
Flash
Diculik Jodoh
Binar Bestari
Flash
Kepingan Malam
Binar Bestari
Flash
Doa Meminta Keburukan
Binar Bestari
Flash
Cuci Tangan
Binar Bestari