Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Religi
Kotak Hitam & Selembar Uang
1
Suka
6,306
Dibaca

Nindy, mahasiswi semester lima lekas menuju selasar masjid. Tempat wudhu wanita.

“Ukhti cantik, buat akhirat. Jangan pelit!”

“Sebutir biji menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Al-Baqarah, 261,” seorang mahasiswi berujar pada temannya.

Kebisingan di kepala Nindy belum reda. Selembar uang entah bagaimana caranya cukup untuk kebutuhan satu minggu; makan, fotocopy, dan print out

Air wudhu membasahi wajah tirus Nindy, hatinya terhenyak. Memandang kotak hitam. Seorang diantara mahasiswi tadi memasukkan uang terlipat. Apakah dia ikhlas, Nindy menebak.

Menyelesaikan wudhu, Nindy terngiang kutipan surat tadi. Allah tidak akan menyia–nyiakan kebaikan seorang hamba beriman, Allah menjamin akan ada balasan dengan perumpamaan sebutir biji yang terus tumbuh. 

Nindy menghembus nafas panjang, kenapa dia terusik dengan perdebatan yang dirinya sendiri tidak terlibat. Logika matematika, dan iman bergelut dalam pikirannya. Nindy memperbaiki kerudung, harus membuat sisi kerudung di kanan–kiri wajah sejajar. Nanti, kalau beasiswa sudah cair akan lebih lapang untuk berinfaq, pikirnya.

Bedug penanda adzan telah ditabuh, seorang ibu dengan pakaian lusuh berdiri dekat kotak hitam. Nindy pikir ibu itu datang untuk berburu takjil buka bersama Senin-Kamis, di Masjid Al-Ikhlas, seperti dirinya. Tidak salah. Siapapun berhak mendapatkan.

Terkaan Nindy keliru, ibu berpakaian lusuh itu buru-buru pergi setelah  memasukkan uang terlipat ke dalam kotak hitam, persis di depan Nindy. 

Adzan maghrib terus berkumandang syahdu, hati Nindy bergetar. Beberapa saat langkah kakinya terasa ringan tanpa beban, bukan lagi untuk membatalkan puasa dengan takjil dan makan gratis. Tetapi ada rasa syukur, lapang, dan tenang yang tiba-tiba memenuhi jiwanya. Nindy tidak peduli, meskipun tidak lagi memiliki uang untuk hari esok.



Ibu berpakaian lusuh tadi mengajarkan Nindy, bukan keminiman harta yang menghalangi seseorang untuk beramal, tetapi rasa cukup dan syukur yang menghias hati. Lagipula Nindy masih memiliki kamar kos untuk berteduh, beberapa canting beras, tiga butir telur, dan satu galon air putih.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Flash
Kotak Hitam & Selembar Uang
Binar Bestari
Cerpen
Bronze
Terang bulan
artabak
Flash
Keajaiban Tahajud
hadi wiyono
Cerpen
Bronze
Kiblat Di Tanah Tak Bertuan
Nour araa
Flash
Santri santai
Mahmud
Flash
Bronze
Orang Buta dan Ular
Ahmad Muhaimin
Cerpen
Bronze
BUNUH DIRI = AQIDAH?
Iman Siputra
Cerpen
Tujuan Hidup Muslim (KSP Pekan ke lima 2026)
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
KejutanNya Selalu Ada
angin lembah
Cerpen
Bronze
Mikhaila
Xavier Benedick
Novel
Dark Moon
aya widjaja
Cerpen
Bronze
Jangan Mencinta Terlalu Dalam
Ron Nee Soo
Cerpen
Bronze
Momok di Pesantren
Cahaya HusMa
Cerpen
Bronze
Manasik
Kiiro Banana
Novel
Bronze
Jodoh itu Dekat
Ahmad jimi
Rekomendasi
Flash
Kotak Hitam & Selembar Uang
Binar Bestari
Cerpen
Bronze
Curcollatte
Binar Bestari
Flash
Bronze
10 Years : 10 Minutes
Binar Bestari
Flash
It's Oke
Binar Bestari
Cerpen
Bronze
Elegi Sunyi
Binar Bestari
Flash
Cinta dan Pelepah Kurma
Binar Bestari
Flash
Kopi 10 Menit
Binar Bestari
Flash
Kepingan Malam
Binar Bestari
Flash
Dompet Kulit di Stasiun
Binar Bestari
Flash
Labirin Luka
Binar Bestari
Flash
Broken Wedding
Binar Bestari
Flash
Ibu Setengah Hari
Binar Bestari
Flash
Cuci Tangan
Binar Bestari
Flash
Cahaya Di Atas Perahu
Binar Bestari
Flash
Perempuan: Joki Tong Setan
Binar Bestari