Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hujan di luar telah berhenti, tapi jejaknya masih membekas—seperti napas lembap yang menempel di kaca jendela kafe yang berembun. Aku menyendiri di sudut, dagu bertumpu pada telapak tangan yang dingin. Udara di sini berat, penuh aroma biji kopi gosong dan parfum mahal para pekerja kantoran yang mencoba melupakan waktu. Denting sendok mengaduk cangkir senyaring lonceng kecil yang perlahan menidurkan kewarasan.
Lalu, atmosfer ruangan bergeser. Ia datang.
Aldo tidak langsung menuju mejaku, ia memilih duduk dua meja di depanku. Kemeja putihnya kusut, lengan digulung asal hingga siku, menonjolkan urat-urat lengannya yang menegang. Rambutnya basah, acak-acakan akibat gerimis. Ia memesan cappuccino tanpa menoleh, tapi senyum tipis yang ia lemparkan pada pelayan membuatku dadaku bergetar.
Aldo, senior di kantorku, lelaki yang selalu tahu cara menguasai ruang rapat dengan kata-katanya, dan suara rendahnya sanggup membuatku lemas di koridor sepi. Tiga minggu terakhir, ia adalah hantu yang bergentayangan di pesan singkatku setiap tengah malam.
Aku menghela napas, menatap bayanganku di jendela yang gelap. Aku berpura-pura sibuk dengan ponsel, padahal dari pantulan kaca itu, sepasang mata tajam sedang mengawasi gerakku. Pikiranku kemudian melayang ke balkon malam itu. Malam perpisahan rekan kerja, musik memekakkan telinga dan alkohol mengalir deras. Aku keluar mencari udara segar, tapi justru menemukan sesuatu yang membakar dari dalam.
“Bising ya?” tanyanya waktu itu. Asap rokok keluar dari bibirnya.
Aku menggeleng, menolak rokok yang ia tawarkan.
“Aku tidak merokok.”
Ia tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke mata.
“Aku cuma suka melihat apinya membakar kertas.”
Percakapan kami malam itu bukan sekadar basa-basi, rasanya seperti saling menguliti jiwa. Ia masuk perlahan, membongkar sepi yang selama ini aku simpan rapat. Lelaki seperti Aldo tidak pernah mengetuk pintu; mereka menyusup perlahan, hingga saat tersadar pintunya sudah tak benar-benar tertutup.
Aku tersadar kembali di kafe. Hari ini aku lelah menunggu. Aku bangkit dan melangkah ke mejanya.
“Basah kuyup,” ucapku datar.
Ia menoleh, tanpa ekspresi kaget, seolah sudah menanti kedatanganku.
“Hujan di luar parah hari ini.”
“Atau kamu yang lupa bawa payung?”
Ia tertawa, suaranya berat dan dalam.
“Aku memang suka ambil risiko.”
Matanya menatapku tajam, detik demi detik. Aldo memang bisa membuat kalimat biasa terdengar seperti tantangan.
“Makan malam?” tanyanya.
Aku tahu itu bukanlah sekadar ajakan, lebih terdengar seperti tantangan. Logikaku ingin pergi, tapi tubuhku memilih untuk menerima ajakannya.
“Oke.”
Restoran itu remang-remang, merestui niat kami. Kami duduk saling berhadapan, membicarakan pekerjaan yang membosankan, tapi di bawah meja, kakinya mencari-cari kakiku. Betisnya menekan, perlahan naik, membuatku kehilangan kata-kata.
“Fokus,” bisiknya, tersenyum dan mencondongkan tubuh di atas piring steak yang masih utuh.
“Kamu kelihatan gugup.”
“Kamu main kotor, Al.”
“Kalau kamu mau, aku bisa lebih dari ini.”
Darahku mendesir naik ke wajah. Sialan. Ia tahu ia menang. Perlahan, ia mengelupas pertahananku lapis demi lapis, dan aku membiarkannya.
Parkiran basah. Kami setengah berlari ke mobilnya. Begitu pintu tertutup, dunia seolah hanya milik kami berdua.
“Apartemenmu?” Hanya dua kata.
“Ya,” jawabku, suaraku yang nyaris hilang.
Di dalam lift, ia berdiri di belakangku, posisinya begitu dekat. Panas tubuhnya menembus punggungku, sementara napasnya menyapu tengkuk. Tidak ada kata-kata. Saat pintu apartemenku terkunci, dunia seakan meledak.
Ia tidak sekadar menciumku, ia melahapku habis-habisan. Bibirnya menuntut, kasar, seakan menghukum waktu yang terbuang sia-sia. Tangannya mencengkeram pinggangku, menarikku hingga tak tersisa jarak. Jantungnya memalu dada, seirama dengan kegilaan di dadaku sendiri.
Pakaian kami menjadi sampah tak berguna di atas lantai. Di bawah lampu temaram, kulitnya terasa panas di bawah jemariku. Ia membisikkan namaku, tidak dengan cinta, tapi dengan rasa memiliki yang mendesak. kepemilikan. Malam itu tak ada ruang untuk kelembutan. Semuanya terburu-buru, penuh hasrat, lapar, dan putus asa. Seperti dua orang yang tahu bahwa esok segalanya akan berakhir. Di tengah seprai yang berantakan dan dengan napas yang masih memburu, ia menatap langit-langit, lalu menatapku. Tatapan seorang pencuri yang tahu barang curiannya harus dikembalikan, tapi enggan melepaskannya.
Minggu-minggu berikutnya aku berjalan seperti di tengah kabut, di antara euforia dan rasa beralah. Kami menjadi rahasia terbesar di kantor. Sampai akhirnya kenyataan datang bersama gosip yang berhembus di pantry. Aldo dan sepupuku. Kakak sepupu yang aku hormati. Aku menodongnya sore itu juga. Ia tidak mengelak. Wajahnya datar, tanpa guratan penyesalan.
“Ya. Itu dulu. Sebelum kamu ada di radar.”
“Dan kamu pikir itu detail yang tidak penting?” suaraku bergetar.
Ia melangkah memangkas jarak.
“Apa bedanya? Kalau aku bilang di awal, apa kamu akan berhenti menatapku di balkon itu?”
Aku terdiam. Mati kutu. Karena jawabannya memang tidak.
“Terus kalau dia tahu?” Aldo mengangkat bahu, sikapnya yang begitu angkuh sekaligus memikat.
“Biarkan hancur sekalian. Aku tidak ingin mundur.”
Kata-katanya memang egois, kejam, dan entah bagaimana, justru membuatku semakin terikat. Hubungan ini berjalan tanpa alas kaki di atas pecahan kaca. Rasanya perih, berdarah, tapi aku begitu menikmatinya.
Malam itu, hujan turun lagi. Ia memelukku dari belakang, bibirnya menyentuh leherku yang paling sensitif.
“Kalau ini salah,” bisiknya parau, getarannya merambat sampai ke tulang punggungku, “aku bersumpah aku tidak ingin jadi benar.”
Dan aku sadar, apa pun yang menanti di depan, aku sudah kehilangan jalan untuk kembali.