Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Senja yang Dilepas
1
Suka
20,790
Dibaca

Basri duduk bersandar di kursi kayu tua, di beranda rumahnya yang menghadap jalan kampung. Cerutu mengepul dari sela bibirnya, menggantung di ujung rasa, perlahan habis dimakan waktu. Pandangannya kosong, menembus sore yang mulai redup. Langit mengguratkan jingga yang melebar seperti luka lama yang tak pernah sembuh seutuhnya.

Bukan jalanan yang ia amati. Bukan pula lalu-lalang warga desa yang ia perhatikan. Ada yang lebih jauh dari itu—mungkin kenangan, atau mungkin asa yang menguap di udara. Basri seolah menatap ke masa yang tak bisa ia ulang, tetapi tak cukup yakin untuk memetakan kesalahan.

Senja tak bisa dicegah datangnya. Kecewa menggerogoti, sebab angkasa tiba-tiba gelap. Awan-awan kelam menggantung, membawa hujan dan petir secara beriringan.

Pertapaan Basri tersentak kala suara langkah mendekat. Aroma lumpur segar menyusup bersamaan dengan ceplakannya yang menempel di sandal dan pakaian. Ahmad, tetangganya, muncul dari arah pematang.

“Kenapa padinya masih belum dipupuk, Mang?” tanya Ahmad, santun—membuka percakapan sembari menata keberanian.

Basri tidak langsung menjawab. Hanya menghela napas pendek, menghembuskan asap cerutu ke sisi barat. Mata tuanya mengerut, menatap Ahmad. Ia diam sejenak, menimbang pertanyaan itu pantas dijawab atau tidak.

“Saya tidak sanggup beli,” ujarnya, akhirnya, ketus. “Harganya sudah semakin mahal.”

Nada itu tak sekadar keluhan. Ada bara yang terselip di dalamnya.

Ahmad diam, mencoba menangkap maksud yang lebih dalam.

“Loh, kan ada pupuk subsidi, Mang,” ucap Ahmad, hati-hati. “Saya tadi dari kios, katanya masih bisa ambil pakai kartu tani.”

Basri bangkit, berdiri dengan tangan kiri membentuk segitiga di pinggang. Cerutu yang masih setengah dilempar begitu saja ke tanah. Asapnya mengepul beberapa detik, lalu mati tertindih tumit tuanya.

“Mau saya pupuk atau tidak, itu bukan urusan kamu.” Suaranya meninggi. Raut wajahnya menegang. Petang yang membentang dalam senyap, kini terasa pengap, menantang amarah.

Ahmad terkejut. “Ma...af, Mang. Saya cuma mengingatkan saja. Sayang kan tanaman padi Mamang kalau tidak diurus.”

Suaranya menurun, diseret oleh getar ketakutan. Sorot tajam dari mata Basri memukul mundur kakinya. Ia lantas berbalik pergi.

Basri mematung dengan napas berat. Sorenya direbut, pikirannya dirampas

Ia memandangi persawahan. Angin sore menggeser bau lumpur menjadi keresahan. Sekejap, sepotong kenangan menyelinap ke balik kelopak matanya.

Dulu, ketika anak-anaknya masih kecil, mereka suka bermain di tumpukan jerami. Basri kerap melihat mereka dari kejauhan. Kotor. Tertawa lepas. Pernah suatu waktu, menjelang maghrib, anak sulungnya pulang dengan kulit kemerahan dan bentol-bentol di sekujur tubuhnya. Ia menangis, minta diobati. Namun, Basri malah menghardik, “Salah sendiri. Main nggak tahu waktu. Obati sendiri. Jangan manja!”

Sejak saat itu semuanya terasa renggang. Ibarat ranjang bambu yang menyisakan celah kasar untuk diduduki.

Hari-hari berlalu menyematkan sepi. Ia lebih sering pulang larut dengan badan pegal, percaya bahwa nasi yang terhidang cukup menandakan kasih.

Sekarang, ia hidup sendiri. Anak-anaknya telah pergi—dengan bekal hidup yang kurang, dengan arah yang buram. Tak satu pun kembali membawa harapan. Tak satu pun mengangkat martabat yang dulu ia dambakan.

Basri kembali menyandarkan punggung. Cerutu sudah mati. Jemarinya dingin, menahan gemetar yang entah milik penyesalan, entah milik kekecewaaan.

Ia menatap ladang miliknya yang terhimpit di antara hijau yang menjulang. Kering. Tertutupi ilalang. Tumbuh, tetapi tak subur. Sama seperti hidupnya. Dibiarkan begitu saja, pasrah, seolah musim akan selalu tahu waktu yang tepat.

Seekor burung kecil melintas di atas kepala, mengepak sayapnya ke arah surya tenggelam—menuju senja yang ditinggalkan. Basri menatap ke langit. Jingga telah menjadi tembaga. Cahaya tersisa hanya cukup untuk menunjukkan bayangannya yang membungkuk di tanah.

Ia tidak mengejar burung itu. Tidak juga memanggil Ahmad kembali.

Ia hanya duduk. Melepas pergantian hari, melepas banyak hal lainnya. Malam sudah bersiap menyapa. Namun, tak ada yang benar-benar siap.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Rawan
Eko Hartono
Flash
Senja yang Dilepas
Jasma Ryadi
Flash
Bronze
Sepertiku
Kaylasyifa Azzahrie
Flash
Bronze
Bubble Gum
Rama Sudeta A
Flash
Balon
Nunu Azizah
Flash
Bronze
Dia, Si Pemain Judol
Rere Valencia
Flash
Half-Written Love
Farah Maulida
Flash
Sebaris Kalimat
Martha Z. ElKutuby
Flash
Bronze
Pion Kecil
Silvarani
Cerpen
Bronze
Pudar
Fataya
Cerpen
Bronze
Tabah Sampai Akhir
Imajinasiku
Cerpen
Selembar Puisi Di Musim Hujan
Indra Afriza Arsad
Novel
Gold
Dear Prudence
Bentang Pustaka
Flash
Lelucon Kehidupan
Tuteyoo
Cerpen
Yang Tertinggal di Kesunyian
Bobby Mahmud
Rekomendasi
Flash
Senja yang Dilepas
Jasma Ryadi
Flash
Mawar yang Tak Menyadari Durinya
Jasma Ryadi
Flash
Layangan di Langit Hitam
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Rindu di Antara Dua Stasiun
Jasma Ryadi
Flash
Sosok yang Lain
Jasma Ryadi
Flash
Tuhan, Engkau di Langit yang Mana?
Jasma Ryadi
Flash
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Anto dan Sebatang Rokok
Jasma Ryadi
Flash
Bu, Mengapa Orang-Orang Mati?
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Simetris
Jasma Ryadi
Flash
Pukul 01:10
Jasma Ryadi
Flash
Jadikan Aku Selingkuhanmu
Jasma Ryadi
Flash
Semangkuk Bakso
Jasma Ryadi
Flash
Tuhan, Jadikan Hariku Senin Selalu
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Menjadi Umbi-Umbian?
Jasma Ryadi