Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Kurcaci Penjaga Pintu Emas
3
Suka
20,847
Dibaca

Cahaya senja berwarna jingga. Awan cirrocumulus seperti kapuk. Sinar oranye rembulan dibalut awan tebal. Langit merah terang, langit biru tua bercampur violet malam, dan langit subuh yang memudar perlahan dari biru tua ke biru muda.

Bahkan langit malam dengan awan cumulonimbus yang menggantung hitam pun— semuanya tersimpan rapat dalam satu ruang kecil yang kusebut: pintu emas.

Sebuah pintu berisi sejuta memori tentang langit…dan tentang orang-orang yang dulu hidup bersamaku di bawahnya.

Langit itu pernah menyapaku setiap aku pulang. Cuacanya selalu memeluk saat aku datang. Rasanya seperti pulang ke hati sendiri.

Tapi kini, pintu itu telah tertutup. Segala penghuni lama telah terpencar.

Aku berjalan dengan langkah berat, berharap menemukan pintu platinum. Namun yang kutemukan hanyalah pintu karat. Usang, retak, dan tidak layak disebut rumah.

Aku berdiri di ambang, gamang: antara menetap dalam kehampaan, atau kembali menunggu harapan yang sudah hilang.

Kilatan cahaya emas sempat masuk perlahan. Seolah menungguku pulang.

Kurcaci kecil. Penjaga pintu emas. melambaikan tangan. Ia ingin aku kembali. Aku berjalan pelan, mencoba meraih secercah harapan. Namun saat aku sampai di gerbang batas, kurcaci itu ditarik kembali oleh penjaga sistem. Ia menatapku lewat celah kecil. Tak bisa mendekat. Penjaga sistem berkata: “Masamu telah usai. Jadilah orang lain dulu, baru kau bisa masuk kembali.”

Pintu itu pun tertutup rapat. Cahaya emas padam. Aku menelan pahitnya kenyataan: aku tak bisa pulang.

Aku berbalik badan. Menggenggam erat semua kantung harapan yang masih tersisa. Melangkah kembali ke arah pintu karat, menyeret kaki dengan sisa tenaga.

Di tengah perjalanan, muncul sebuah jalur menuju pintu lain—pintu yang masih terkunci. Penuh misteri. Aku tak tahu… apakah di baliknya ada ladang ular atau berlian.

Kini, aku menyimpan pintu emas itu dalam brankas. Bukan untuk dilupakan, tapi agar aku bisa berjalan tanpa terus menoleh ke belakang.

Aku akan terus mencari. Menapaki jalan tak pasti. Berani membuka pintu demi pintu dengan berbagai risiko.

Karena mungkin… ada satu pintu di masa depan. Yang akan membawaku pulang. Tapi bukan ke tempat lama. Melainkan ke tempat yang lebih tinggi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Jejak Rasa
Arzam Perdana Lubis
Novel
Sebelum Menjadi Rumahmu
Gisna Auliya
Flash
Kurcaci Penjaga Pintu Emas
Raquela Valevine
Flash
Satu Langkah Setelah Luka
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Milo dan Silo
Foggy FF
Cerpen
MANUSIA
Sarjana MIPA
Novel
Bronze
Tabut Tuhan di 98
Raz Aka Yagit
Skrip Film
2 Aurora
Ai Bi
Flash
Sang Penyandera Rasa
Putri Amelia Solehah
Flash
KARAM
Rolly Roudell
Cerpen
Surat Kecil Dari Kamboja
DENI WIJAYA
Cerpen
Bronze
Meraih Cinta dan Asa
Topan Adiningrat
Novel
Bronze
Bagas Ayu... Puisi Jiwa untuk Cinta
Gie_aja
Skrip Film
RETAK RETAK SOLU
Sri kartini Handayani
Flash
Kesalahan Hitung
lidia afrianti
Rekomendasi
Flash
Kurcaci Penjaga Pintu Emas
Raquela Valevine