Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Kurcaci Penjaga Pintu Emas
3
Suka
21,180
Dibaca

Cahaya senja berwarna jingga. Awan cirrocumulus seperti kapuk. Sinar oranye rembulan dibalut awan tebal. Langit merah terang, langit biru tua bercampur violet malam, dan langit subuh yang memudar perlahan dari biru tua ke biru muda.

Bahkan langit malam dengan awan cumulonimbus yang menggantung hitam pun— semuanya tersimpan rapat dalam satu ruang kecil yang kusebut: pintu emas.

Sebuah pintu berisi sejuta memori tentang langit…dan tentang orang-orang yang dulu hidup bersamaku di bawahnya.

Langit itu pernah menyapaku setiap aku pulang. Cuacanya selalu memeluk saat aku datang. Rasanya seperti pulang ke hati sendiri.

Tapi kini, pintu itu telah tertutup. Segala penghuni lama telah terpencar.

Aku berjalan dengan langkah berat, berharap menemukan pintu platinum. Namun yang kutemukan hanyalah pintu karat. Usang, retak, dan tidak layak disebut rumah.

Aku berdiri di ambang, gamang: antara menetap dalam kehampaan, atau kembali menunggu harapan yang sudah hilang.

Kilatan cahaya emas sempat masuk perlahan. Seolah menungguku pulang.

Kurcaci kecil. Penjaga pintu emas. melambaikan tangan. Ia ingin aku kembali. Aku berjalan pelan, mencoba meraih secercah harapan. Namun saat aku sampai di gerbang batas, kurcaci itu ditarik kembali oleh penjaga sistem. Ia menatapku lewat celah kecil. Tak bisa mendekat. Penjaga sistem berkata: “Masamu telah usai. Jadilah orang lain dulu, baru kau bisa masuk kembali.”

Pintu itu pun tertutup rapat. Cahaya emas padam. Aku menelan pahitnya kenyataan: aku tak bisa pulang.

Aku berbalik badan. Menggenggam erat semua kantung harapan yang masih tersisa. Melangkah kembali ke arah pintu karat, menyeret kaki dengan sisa tenaga.

Di tengah perjalanan, muncul sebuah jalur menuju pintu lain—pintu yang masih terkunci. Penuh misteri. Aku tak tahu… apakah di baliknya ada ladang ular atau berlian.

Kini, aku menyimpan pintu emas itu dalam brankas. Bukan untuk dilupakan, tapi agar aku bisa berjalan tanpa terus menoleh ke belakang.

Aku akan terus mencari. Menapaki jalan tak pasti. Berani membuka pintu demi pintu dengan berbagai risiko.

Karena mungkin… ada satu pintu di masa depan. Yang akan membawaku pulang. Tapi bukan ke tempat lama. Melainkan ke tempat yang lebih tinggi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Pinjaman Berbunga Cinta
SURIYANA
Flash
Tentang yang Hilang
AlifatulM
Flash
Kurcaci Penjaga Pintu Emas
Raquela Valevine
Novel
Rumah Yang Dijaga Ayah
Marlon Anaka
Skrip Film
Titik-titik
Muhammad Alfi Rahman
Skrip Film
Hello, Brother!
Lilis Alfina Suryaningsih
Flash
Hasna Jasmine
Gita Oktavia
Flash
RACUN DATANG BERTAHAN
Tourtaleslights
Flash
Bronze
Lari
Bksai
Flash
Kesempatan Kedua (the end)
Hans Wysiwyg
Flash
ELUSIF Chapter 0,2
Seto Yuma
Flash
Di Luar Jendela
Impy Island
Flash
Bronze
Es Krim Dari Kakek
Rere Valencia
Novel
Bronze
Retak Berhamburan
blank_paper
Cerpen
Bronze
JAZZBUK
glowedy
Rekomendasi
Flash
Kurcaci Penjaga Pintu Emas
Raquela Valevine