Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Musim Hujan Terakhir
8
Suka
5,904
Dibaca

Langit sudah terlalu lama kering.

Hujan terakhir turun tiga puluh dua tahun lalu, sebelum anak-anak belajar bahwa air bisa jatuh dari langit. Sekarang, air hanyalah sesuatu yang dipompa dari perut bumi, diatur, disterilkan, dan diperdagangkan seperti emas cair.

Di rumah kecil di pinggiran kota, seorang nenek bernama Rara duduk di samping cucunya, Ayra, yang berusia delapan tahun. Mereka memandangi langit yang abu-abu.

“Aku ingin kamu tahu seperti apa suara hujan,” kata Rara, suaranya parau tapi penuh harap. “Ia tak seperti suara pipa air atau keran bocor. Hujan punya iramanya sendiri. Ia mengetuk jendela seolah ingin masuk bicara.”

Ayra tersenyum kecil. “Nenek, aku sudah lihat video hujan di sekolah. Katanya, itu cuma mitos. Seperti pelangi yang muncul sendiri.”

“Video bukan hujan, Ayra,” jawab Rara pelan. “Video tak bisa buat kamu merasa dingin tapi hangat sekaligus. Tak bisa buat kamu ingin menangis, padahal kamu tak tahu kenapa.”

Ayra menunduk. “Kalau hujan terakhir sudah lama, kenapa nenek yakin dia bakal datang lagi?”

“Karena aku belum selesai mencintainya,” ucap Rara sambil menatap langit. “Dan sesuatu yang dicintai… selalu mencari jalan pulang.”

Hari-hari berlalu, dan langit tak berubah. Anak-anak tumbuh tanpa jas hujan. Toko-toko berhenti menjual payung. Lahan-lahan gersang menjadi kota, dan pohon-pohon diganti dengan menara pendingin.

Namun Rara tetap menunggu. Ia menaruh gelas kosong di jendela, membuka atapnya sedikit setiap pagi, dan berdoa pada langit yang kering.

Hingga suatu malam, tubuh Rara melemah. Ia dibaringkan di tempat tidurnya, napasnya mulai berderak seperti daun tua. Ayra menggenggam tangannya.

“Nenek…” bisik Ayra. “Langit masih kering.”

Rara menoleh lemah. “Mungkin… mungkin aku harus pergi… supaya dia bisa datang…”

“Nenek, jangan.”

Tapi malam tak mendengar.

Saat dini hari tiba, Ayra terbangun karena suara asing. Bukan suara alarm atau ventilasi. Bukan juga suara kendaraan drone.

Itu… suara ketukan kecil di atap. Lalu lebih banyak. Lalu berirama.

Tok tok tok tok.

Ia membuka jendela. Butiran dingin menari di udara, memukul tanah, membasuh debu.

Hujan.

Air yang jatuh dari langit. Air yang bukan milik siapa-siapa. Air yang menangis seperti ia sedang rindu pada sesuatu.

Ayra berlari ke ranjang. Tapi tubuh Rara sudah dingin, bibirnya sedikit tersenyum.

Ayra membuka pintu rumah. Ia berdiri di bawah hujan, membiarkannya membasahi rambut dan bajunya. Ia menengadah, menangis, tapi tak tahu kenapa.

Di samping gelas kosong Rara di jendela, sebutir air pertama jatuh, mengisi sedikit ruang.

Musim hujan terakhir, akhirnya datang tidak untuk dunia, tapi untuk seorang nenek yang menunggu dengan cinta

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Musim Hujan Terakhir
lidia afrianti
Flash
Bronze
Illegal Login
Silvarani
Flash
Kota Sunyi Di Malam Hari
Hans Wysiwyg
Novel
Bertahan di tengah langkah
Andhika Tulus Pratama
Flash
Bronze
Virus
Afri Meldam
Flash
Penyihir dan Pangeran yang Dikutuk
Lukitokarya
Novel
BUKAN CERITA CINDERELLA
memia
Flash
Bronze
Pisau Dapur
Diba Tesi Zalziyati
Cerpen
Checkmate!
Kirani Fitri
Novel
Bronze
Queen Of Mafia
Kakco
Flash
Bronze
Desa Naga Kayu
Silvarani
Cerpen
Bronze
Cara Membatalkan Pinjaman Pinjam Yuk
Manuskrip
Cerpen
Bronze
Izinkanlah Aku Memakan Hatinya
Nurul Arifah
Flash
Pemilu Tak Kasat Mata
Dinda Kusuma Ati
Cerpen
Bayangan Terakhir di Black Harbor
Penulis N
Rekomendasi
Flash
Musim Hujan Terakhir
lidia afrianti
Flash
Jika Sudah Lupa, Mari kita Bertemu
lidia afrianti
Flash
Bronze
Rumus Manual ayah
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Jejak Yang Tak Terhapuskan
lidia afrianti
Flash
Pelukkan Segelas Jus
lidia afrianti
Novel
Simulasi Pernikahan (The year we practiced forever)
lidia afrianti
Flash
Aku ingin kamu marah
lidia afrianti
Flash
Barangkali Tulisan Memang Bisa Mati
lidia afrianti
Flash
Bronze
Jejak
lidia afrianti
Flash
Jika aku tidak cukup, bilang saja
lidia afrianti
Flash
Bronze
Kata Mereka Akan Baik-Baik Saja
lidia afrianti
Flash
I'm a mother
lidia afrianti
Flash
Kotak
lidia afrianti
Novel
Rumah
lidia afrianti
Flash
Maaf aku tidak menjadi apa yang kamu mau
lidia afrianti