Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Musim Hujan Terakhir
8
Suka
7,675
Dibaca

Langit sudah terlalu lama kering.

Hujan terakhir turun tiga puluh dua tahun lalu, sebelum anak-anak belajar bahwa air bisa jatuh dari langit. Sekarang, air hanyalah sesuatu yang dipompa dari perut bumi, diatur, disterilkan, dan diperdagangkan seperti emas cair.

Di rumah kecil di pinggiran kota, seorang nenek bernama Rara duduk di samping cucunya, Ayra, yang berusia delapan tahun. Mereka memandangi langit yang abu-abu.

“Aku ingin kamu tahu seperti apa suara hujan,” kata Rara, suaranya parau tapi penuh harap. “Ia tak seperti suara pipa air atau keran bocor. Hujan punya iramanya sendiri. Ia mengetuk jendela seolah ingin masuk bicara.”

Ayra tersenyum kecil. “Nenek, aku sudah lihat video hujan di sekolah. Katanya, itu cuma mitos. Seperti pelangi yang muncul sendiri.”

“Video bukan hujan, Ayra,” jawab Rara pelan. “Video tak bisa buat kamu merasa dingin tapi hangat sekaligus. Tak bisa buat kamu ingin menangis, padahal kamu tak tahu kenapa.”

Ayra menunduk. “Kalau hujan terakhir sudah lama, kenapa nenek yakin dia bakal datang lagi?”

“Karena aku belum selesai mencintainya,” ucap Rara sambil menatap langit. “Dan sesuatu yang dicintai… selalu mencari jalan pulang.”

Hari-hari berlalu, dan langit tak berubah. Anak-anak tumbuh tanpa jas hujan. Toko-toko berhenti menjual payung. Lahan-lahan gersang menjadi kota, dan pohon-pohon diganti dengan menara pendingin.

Namun Rara tetap menunggu. Ia menaruh gelas kosong di jendela, membuka atapnya sedikit setiap pagi, dan berdoa pada langit yang kering.

Hingga suatu malam, tubuh Rara melemah. Ia dibaringkan di tempat tidurnya, napasnya mulai berderak seperti daun tua. Ayra menggenggam tangannya.

“Nenek…” bisik Ayra. “Langit masih kering.”

Rara menoleh lemah. “Mungkin… mungkin aku harus pergi… supaya dia bisa datang…”

“Nenek, jangan.”

Tapi malam tak mendengar.

Saat dini hari tiba, Ayra terbangun karena suara asing. Bukan suara alarm atau ventilasi. Bukan juga suara kendaraan drone.

Itu… suara ketukan kecil di atap. Lalu lebih banyak. Lalu berirama.

Tok tok tok tok.

Ia membuka jendela. Butiran dingin menari di udara, memukul tanah, membasuh debu.

Hujan.

Air yang jatuh dari langit. Air yang bukan milik siapa-siapa. Air yang menangis seperti ia sedang rindu pada sesuatu.

Ayra berlari ke ranjang. Tapi tubuh Rara sudah dingin, bibirnya sedikit tersenyum.

Ayra membuka pintu rumah. Ia berdiri di bawah hujan, membiarkannya membasahi rambut dan bajunya. Ia menengadah, menangis, tapi tak tahu kenapa.

Di samping gelas kosong Rara di jendela, sebutir air pertama jatuh, mengisi sedikit ruang.

Musim hujan terakhir, akhirnya datang tidak untuk dunia, tapi untuk seorang nenek yang menunggu dengan cinta

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Musim Hujan Terakhir
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Bayang
Ron Nee Soo
Flash
Perempuan Evolusi
Art Fadilah
Flash
Bronze
Burn
Rama Sudeta A
Novel
Simfoni Temaram Takdir
Tita Dewahasta
Flash
Ekspedisi Dendeng Paus
Desy Andriyani
Flash
The Last Boss
Laila NF
Flash
Bronze
Takdir si Jabrik
Afri Meldam
Flash
Bronze
Azab Itu Sudah Tak Ada
Mukti Dwi Wahyu Rianto
Flash
LUPUT
Edelmira (Elmira Rahma)
Cerpen
Bronze
Jejak yang Tak Pernah Padam
Muhammad Ari Pratomo
Flash
Pemburu Capung
Indra Afriza Arsad
Novel
MUDRA
Mega Yohana
Flash
Bronze
Influencer adalah Aktivis Berorganisasi Algoritma
Silvarani
Cerpen
SiKATAK
goresan_pena
Rekomendasi
Flash
Musim Hujan Terakhir
lidia afrianti
Flash
Dia Bernama Lumi
lidia afrianti
Flash
Dia Yang Bernafas
lidia afrianti
Flash
Titip Dua Ribu Rasa
lidia afrianti
Flash
Mari Rayakan, Ketika Kita Jatuh Cinta
lidia afrianti
Flash
Barangkali Tulisan Memang Bisa Mati
lidia afrianti
Flash
Kenapa kita kura-kura
lidia afrianti
Flash
Kesalahan Hitung
lidia afrianti
Flash
Aku, Cinta Dan Kamu
lidia afrianti
Flash
Bronze
Luapan Luka Luna
lidia afrianti
Flash
Andai semua ini benar-benar terjadi
lidia afrianti
Flash
Patut Di Rayakan
lidia afrianti
Flash
10 Days Without Permission
lidia afrianti
Flash
Bronze
Bayang
lidia afrianti
Flash
Lembar Terakhir Si Penulis
lidia afrianti