Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Aku dan Sebatang Rokok di Tangannya
0
Suka
21,630
Dibaca

Aku tiba lebih dulu dari keberanian yang kupaksakan. Minimarket itu tak pernah memberikan kenyamanan, tetapi entah kenapa aku tahu pasti Anto akan ada di sana—bersandar, menyeruput kopi instan, dan merokok seakan dunia tak pernah meminta pertanggungjawaban.

Aku tepikan motorku di area parkir. Kupaksa langkahku tenang, meski jantung ini seperti sedang digedor kenyataan. Empat batang rokok tersisa di bungkus Marlboro yang terbuka di hadapannya. Ia bahkan tak menoleh saat aku menghampiri.

“Ngapain duduk di sini?” tanyaku, lebih tajam daripada niat semula.

Anto tetap diam. Ia hanya melonjorkan kaki ke kursi kosong, seolah keberadaanku tak perlu dijelaskan.

“Sampai kapan kamu mau diam terus? Apa kamu pikir bisa lari dari ini?” kataku lagi, sambil merebut rokok dari tangannya.

Ia membisu, bukan bungkam. Hanya saja, sangat kentara bahwa ia sedang melindungi sesuatu yang tidak ingin kuakses. Matanya sesekali menutup, tangannya menggenggam bungkus rokok layaknya anak kecil memegang mainan terakhir.

Aku meletakkan testpack dan surat dokter di atas meja, mencoba menghapus jeda yang membuatku lemas selama dua minggu terakhir.

“Aku hamil. Dua bulan.”

Ia tidak bertanya apakah aku serius. Tidak bertanya bagaimana aku tahu. Tidak berusaha membuka dua bukti yang kusodorkan. Ya, tidak ada kalimat yang terucap dari bibirnya, hanya wajah yang menahan napas dan kening yang sedikit berkerut.

“Datang ke rumahku. Kita selesaikan ini. Orangtuaku sudah tahu.”

Gelas kopi yang ia pegang tergelincir setelah aku mengetuk meja. Ia berdiri cepat, menatapku tajam.

“Yakin itu anak gue?”

Pertanyaan itu, laksana batu yang jatuh menimpa badan. Berat, dingin, dan menenggelamkan.

“Aku nggak pernah deket sama cowok lain, selain kamu, selama kita berhubungan?” suaraku gemetar. Namun, aku tetap menjaga kejelasan dari setiap kata-kata yang kungkapkan. “Ingat malam tahun baru? Hari Valentine? Hotel di Jogja? Waktu tugas kuliah? Dan apakah semua itu—”

Ia memotongku. “Cukup!”

Singkat dan menampar. Tamparan yang lahir bukan karena emosi semata, melainkan karena kekecewaan. Aku bak tidak ada lagi tempat di hatinya. Di manakah dirinya yang dulu membelaiku penuh kelembutan?

Aku tidak menyesal. Aku menyesal justru karena harus merasa tidak menyesal.

Anto sedikit merapat ke sisiku. “Gue kasih dua pilihan. Aborsi, atau lahirkan dulu anak itu lalu kita tes DNA.”

Kalimat itu, aku tak tahu apakah harus menangis, tertawa, atau bersujud minta maaf pada Tuhan karena telah begitu percaya kepada laki-laki yang cuma paham logika tanpa nurani.

Tubuhku terasa menggigil. Aku butuh penyelesaian yang lebih nyata. Menikah, walau setelahnya ia akan menceraikanku. Setidaknya, ada wajah orang tuaku yang kuselamatkan untuk saat ini.

Aku mencoba menggenggam tangannya. Ia justru menghardiku.

Ia lantas menyimpan rokok dan korek api ke dalam jaketnya, melangkah menuju motornya. Aku berusaha mengejar. Sayangnya, lututku kalah oleh tangisan.

Ia pergi dengan cepat. Aku terduduk tak berdaya di trotoar. Tidak hancur. Hanya belajar menghitung berapa kali cinta telah membuatku lupa mencintai diriku sendiri.

Tiga tahun aku bersamanya. Kutinggalkan kuliah, kutanggung bisik-bisik, kutepis rasa malu demi sesuatu yang katanya hubungan. Akan tetapi, pada akhirnya, aku hanyalah raga yang bisa disangkal dan hati yang boleh dibuang.

Beberapa pengendara berhenti. Ada yang menoleh, ada yang lewat begitu saja. Tak seorang pun bertanya. Mungkin karena air mataku terlihat terlalu familiar, seperti yang mereka lihat di layar sinetron, bukan di jalanan yang kejam dan tega.

Aku pulang. Tak tahu harus menjelaskan apa. Ayah dan Ibu menatapku dari ruang tamu, tak berkata-kata, hanya menunggu. Menunggu Keputusan yang tak bisa kubawa.

Malam menjelang. Kamar menjelma menjadi tempat persembunyian terakhir. Tempat di mana semua air mata dan penyesalan bisa diluapkan tanpa pertanyaan.

Tangis datang, bukan sebagai ledakan, melainkan hujan kecil yang mengendap. Aku menangis karena merasa terlalu mudah percaya. Karena tahu ini bisa terjadi, tetapi tetap mengabaikan tanda-tandanya. Karena tubuhku sudah menyimpan harapan, sementara hatiku menyimpan rasa malu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Gold
Rafilus
Noura Publishing
Flash
Aku dan Sebatang Rokok di Tangannya
Jasma Ryadi
Novel
First place in my heart
Reveniella
Novel
Batas Tabu
Yuditeha
Novel
JUDUL: Nama yang tak pernah di sebut
sepin hidayah
Flash
Teras
Jasma Ryadi
Novel
Keyra's story
ulya hilmi
Skrip Film
PREMIUM EIGHTEEN
Nia Amelia Suhada Dalimunthe
Skrip Film
KLARA & BELLE
Herman Trisuhandi
Novel
Berkah Tersembunyi
Siti Fatimah
Flash
Me Time
Pikadita
Flash
Bitter Sweet Surprise
Erdem Emre
Cerpen
Bronze
Hentak Mesin Dini Hari
Johanes Gurning
Novel
Bronze
Dawuh
Sena N. A.
Skrip Film
Sampai Nanti, Sampai Kita Bertemu Kembali
Webi Okto Satria
Rekomendasi
Flash
Aku dan Sebatang Rokok di Tangannya
Jasma Ryadi
Flash
Teras
Jasma Ryadi
Flash
Di Tepi Jurang
Jasma Ryadi
Flash
Museum Kenangan
Jasma Ryadi
Flash
Sandekala
Jasma Ryadi
Flash
Akar di Kepala Ibu
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Telinga Kelima
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Laut yang Tak Menjawab
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Unfinished Business
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Data dan Mereka
Jasma Ryadi
Flash
Badut Biru
Jasma Ryadi
Flash
Aroma Semur
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Shift Tiga
Jasma Ryadi
Flash
Residu
Jasma Ryadi
Flash
Diam yang Menghukum
Jasma Ryadi