Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
PAJANGAN LEMARI KACA
7
Suka
19,773
Dibaca

Ibu kota, senjanya selalu datang seperti konspirasi, menebarkan warna jingga pada kaca-kaca gedung tempat nasib orang-orang penting diputuskan di antara kepulan asap cerutu dan dering telepon yang tak akan pernah sampai ke telinga publik.

Di negeri ini—yang menurut para kartograf mabuk, lekuknya serupa tubuh perempuan—para lelaki sibuk mengolah lahan. Mereka bukan menanam padi, tapi menanam janji pada rapat-rapat terbatas. Menyiramnya dengan siaran pers di televisi. Dan memanen kekuasaan dari lipatan kain para perempuan yang namanya hanya menjadi catatan kaki dalam buku anggaran.

Salah satu petaninya adalah Lelaki Itu. Kita sebut saja Bapak, karena nama aslinya terlalu sakral untuk ditulis di media gosip dan hanya beredar sebagai bisik-bisik di lobi hotel atau lapangan golf. Ia punya lumbung-lumbung yang pengap oleh rahasia negara, dan ladang-ladang yang hanya bisa digarap saat malam memadamkan lampu-lampu protokol. Aroma kekuasaannya adalah campuran aneh antara parfum Eropa dan jelaga knalpot kota yang sekarat.

Di salah satu ladang itulah Perempuan Itu berada. Ani, atau entah siapa namanya dalam KTP yang tersimpan di laci paling bawah. Ia bukan gundik, bukan istri simpanan. Istilah-istilah itu terlalu kasar, terlalu blak-blakan untuk dunia yang dibangun di atas basa-basi. Ia adalah ornamen. Anggrek langka yang tumbuh subur dari humus kemunafikan, dipelihara untuk menyejukkan mata setelah seharian menatap angka-angka inflasi.

“Republik ini butuh reses sejenak,” ujar Bapak suatu senja, sambil membuka kancing kemejanya seperti membuka arsip rahasia negara. Di luar, hujan mulai turun, membasahi patung-patung pahlawan yang membisu.

Setiap kali Perempuan Itu tertawa—tawa yang dipelajarinya dari film-film asing—sebuah jadwal penerbangan pejabat ditunda tanpa alasan. Dan setiap kali ia menangis dalam diam di kamar mandi marmer, selembar konstitusi di suatu tempat kehilangan satu pasalnya.

Tapi siapa yang peduli pada air mata yang tak pernah menjadi berita utama? Wartawan hanya mencatat angka pertumbuhan ekonomi, bukan jumlah kebohongan yang diucapkan sebelum fajar. Kamera hanya merekam senyum di podium, bukan tubuh yang menjadi alas bagi stabilitas sebuah rezim.

Hingga suatu malam yang lengket oleh gerah dan dusta, Perempuan Itu menanam sesuatu. Bukan di tanah, tapi di rongga dada Lelaki Itu, tepat di antara detak jantung dan ambisinya. Benih itu adalah akumulasi dari semua suara yang pernah ia telan, semua desah yang tak pernah ia niatkan.

Biji itu tumbuh menjadi pohon ganjil. Akarnya mencengkeram paru-paru Bapak, bunganya adalah mikrofon yang mekar merekam setiap janji palsu, dan buahnya adalah lensa-lensa CCTV yang matang, memerah, siap panen untuk disiarkan di program berita pagi.

Esoknya, tak ada lagi wajah Bapak di televisi. Tak ada pengumuman. Hanya kekosongan di jadwal siaran dan sebuah kursi yang dingin dalam rapat kabinet. Lenyap, seolah tak pernah ada, seperti berita yang sengaja tak diterbitkan.

Dan Perempuan Itu, ia melangkah keluar dari apartemen yang menjadi sangkar emasnya. Keluar dari alinea yang tak akan pernah ditulis sejarawan. Ia tak membawa apa-apa selain tas tangan berisi gincu, sebatang mawar yang mulai layu, dan ingatan yang tak bisa disita. Ia berjalan tenang, menyusuri trotoar ibu kota, menjadi siluet tanpa nama di antara lautan manusia yang bergegas menggapai tempat tujuannya. Ia bergerak seperti sebuah kalimat yang dihapus dari naskah pidato kenegaraan.

Sebab di negeri yang peta butanya digambar dari lekuk tubuh perempuan, prahara tak selalu datang dari langit.

Kadang, ia merambat pelan dari atas ranjang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
PAJANGAN LEMARI KACA
IGN Indra
Novel
Sebuah Usaha Maya
Nandreans
Flash
Salah ku atau Cuaca
Anisah Ani06
Novel
Bronze
Euphoria to Past
Diva Sabrina putri
Flash
REGRET
Shinta Jolanda Moniaga
Flash
Behind the Tears
Ariq Ramadhan Nugraha
Flash
Happy Birthday 22
Rumpang Tanya
Flash
Bronze
Slamet Tujuh Belasan
Silvarani
Cerpen
Rindu Tak Bertepi
Rakanta
Novel
All beautiful at the right time
Maria Sere J S
Novel
LETTERS: Apakah Kamu Mencintaiku?
Yehezkiel Eko Prasetyo
Novel
DI BALIK BAYANG-BAYANG KASIH SAYANG
Wardjito Soeharso
Flash
Bronze
Disiplin
Sulistiyo Suparno
Flash
Sarjana Pandemi
Fajar R
Flash
Bronze
Bermain Diorama
Mala Armelia
Rekomendasi
Flash
PAJANGAN LEMARI KACA
IGN Indra
Flash
BAIT KEMANDANG MALAM PURWA
IGN Indra
Cerpen
LEIL FATTAYA
IGN Indra
Novel
THE TOXIC ASSET
IGN Indra
Flash
PURA PURA WARAS
IGN Indra
Flash
MANGKAT
IGN Indra
Cerpen
SISA CINTA DITELAN FAJAR
IGN Indra
Novel
32 DETIK
IGN Indra
Cerpen
SATU HATI DUA CINTA
IGN Indra
Cerpen
Bronze
CINTA TAK PERNAH SAMPAI
IGN Indra
Cerpen
WADAH
IGN Indra
Cerpen
OTAK WARISAN
IGN Indra
Novel
SIMPUL ARUS HITAM
IGN Indra
Cerpen
MALAM ALUNA
IGN Indra
Flash
Cinta Pergilah, Hari Sudah Malam
IGN Indra