Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Di Tepi Jurang
0
Suka
25,482
Dibaca

Langit kelabu menyelubungi dunia, menolak cahaya menyentuh tanah. Angin berbisik dingin, mencabik ragaku yang kaku dengan jari-jari tak acuh. Aku berdiri di tepi jurang, kaki terpaku di bebatuan retak, menatap kegelapan yang menganga di bawah.

Jurang itu seperti cermin pecah, memantulkan luka tanpa nama, bergema kasar di dasar batin. Aku tak datang untuk melompat. Aku hanya ingin merasa ada, meski yang menatap hanya hutan yang tak bisa menjawab. Langkah ini pun bukan pelarian, melainkan kelelahan yang meremukkan tulang. Kelelahan dari dunia yang menuntut lebih, selalu lebih, dari yang mampu kuberikan.

Suara-suara sumbang di dalam rumah mengiang tajam di kepalaku. Mereka selalu berkata, “Kamu harusnya bisa lebih sukses. Kamu harus lebih kuat. Manusia macam apa yang cuma begini?”

Kata-kata itu terdengar seolah dorongan. Namun, selalu berulang dengan nada dan cara yang meremehkan. Keluarga, yang seharusnya menjadi pelabuhan, justru menjadi nestapa paling dalam. Tuntutan mereka laksana samudra yang luas dan dingin, tak memberi pelampung, hanya gelombang.

Pernahkah mereka bertanya, “Apa kabar hatimu hari ini?” Tidak. Dan aku, yang terbiasa menggenggam rahasia, tak pernah tahu cara menjawabnya.

Hari-hari kulewati dengan dada sesak, seolah ada denyut liar yang memekik dalam kebisuan. “Kamu gagal, kalah, tak berguna. Lihat, orang lain punya rumah, keluarga, karier, sedangkan kamu apa? Percuma selalu jadi juara kelas di sekolah.”

Aku seakan tak berharga. Segala yang kulakukan tak pernah dilihat, hanya ditimbang.

Aku tak mencari luka, tetapi ia selalu tahu jalan menemukanku. Setiap kegagalan menjadi cap, bukan pelajaran. Setiap tangis dianggap lemah, bukan duka yang perlu didekap. Aku layaknya membangun fondasi di pasir saat ombak mengamuk.

Aku juga butuh ruang untuk dipercaya. Setiap keringat yang menetes dari tubuhku untuk mencukupi harapan mereka? Mengapa mereka terus memburuku dengan usia dan pencapaian? Tak bisakah menemaniku mengalir bersama waktu?

Semalam, di kamar sewa yang pengap, aku menatap langit-langit berlumut. “Aku cuma pengen tenang,” bisikku, serak dan sesak. Namun, sepi justru menertawakanku, dan suara-suara itu kembali, “Tenang? Kamu tak pantas tenang. Kamu belum punya apa-apa. Kamu belum cukup.”

Tanganku mengepal, bukan untuk melawan, melainkan untuk menahan diriku agar tak runtuh. Aku lelah pada dunia yang tak memberiku sudut untuk bernapas, dan pada diriku sendiri yang perlahan kehilangan sinarnya.

Di tepi jurang ini, angin mencabik ragaku yang lesu, mengaduk pikiranku yang berantakan. Air mata jatuh tanpa diminta, dan aku tak peduli lagi untuk menyekanya.

Aku tak ingin mati, meski suara di kepalaku berbisik, “Apa gunanya bertahan? Untuk apa lagi hidup? Hal apa yang dimiliki sebagai penguat?”

Aku masih memegang serpihan mimpi yang rapuh. Aku ingin merasakan tertawa tanpa takut disalahkan, menangis tanpa harus disuruh berhenti, dan dipeluk tanpa harus menjadi sempurna.

Kupejamkan mata, mencoba menenggelamkan suara-suara lain yang berkumandang. Mereka semakin keras, saling tumpang tindih, “Kamu tak akan pernah cukup. Lihat dirimu, berdiri di sini seperti pecundang. Kamu mengecewakan semua orang. Kamu mengecewakan dirimu sendiri.”

Napasku tersendat. Aku ingin berteriak. Hanya saja, jurang di depanku lebih dulu memanggil. Ia tidak menjanjikan akhir, tetapi bisikan kosong yang menenangkan, “Di sini, suara-suara itu akan lenyap.”

Aku melangkah mundur, satu langkah kecil, sepatu usangku menggeser kerikil. Pikiranku melayang, bertanya pada angin yang kini diam, "Jika ada kehidupan lain setelah kematian, bolehkah aku memilih tempat untuk tumbuh?"

Aku tak ingin menghapus memori kehidupan ini. Biarlah luka, kegagalan, dan serpihan harapan kubawa. Biarkan kehidupan baru nanti, yang mungkin lebih lembut, menjadi penebusan bagiku. Bagi jiwa yang pernah berdiri di tepi jurang, mencoba belajar mencintai dirinya sendiri. Jiwa pasrah yang masih enggan sepenuhnya menyerah.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Di Tepi Jurang
Jasma Ryadi
Novel
#PARE(tidak)JAHAT
Ilma Wahid
Novel
Kala Cinta Menggoda
@Fatamorgana16
Skrip Film
AS WE ARE
Ara Segara
Novel
Bronze
Lost Memories
MR Afida
Novel
Bronze
Bagas Ayu... Puisi Jiwa untuk Cinta
Gie_aja
Novel
Gold
PCPK Forever Friends
Noura Publishing
Skrip Film
Kekasih Halu Jadi Nyata (Skrip)
sapriani
Novel
Bronze
Writing is My First Love
d Curly Author
Novel
Gold
Persuasion
Noura Publishing
Novel
Gold
Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran
Bentang Pustaka
Cerpen
Bronze
Biarkan Aku Pulang
Vitri Dwi Mantik
Cerpen
Bronze
Permainan Sudut Pandang
Andaray
Novel
DANUM
Abroorza Ahmad Yusra
Novel
Bronze
KARTINI KECIL AYAH
ANDI RIRIN NOVIARTI
Rekomendasi
Flash
Di Tepi Jurang
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Potongan Tangan
Jasma Ryadi
Flash
Ikan adalah Luka
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Jatuh Cinta di Tahun Kelima
Jasma Ryadi
Flash
Aku atau Dia
Jasma Ryadi
Flash
Dahlia
Jasma Ryadi
Flash
Museum Kenangan
Jasma Ryadi
Flash
Aroma Semur
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Menjadi Umbi-Umbian?
Jasma Ryadi
Flash
Lintang
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Mereka Bilang Aku Durhaka
Jasma Ryadi
Flash
Maaf, Aku Lelah
Jasma Ryadi
Flash
Warisan Keris
Jasma Ryadi
Flash
Jadikan Aku Selingkuhanmu
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Inang
Jasma Ryadi