Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Cinta Pergilah, Hari Sudah Malam
5
Suka
16,979
Dibaca

Rokok ketiga sudah padam. Sekarang, yang keempat, baru separuh terbakar. Abunya jatuh di atas pangkuan seperti saksi bisu kebiasaan buruk yang tak bisa ditinggalkan. Tidak ada yang bicara soal perceraian malam ini, namun meja di antara mereka terasa seperti berkas pengadilan yang belum ditandatangani.

Si Perempuan menggenggam cangkir kosong. Dulu dia selalu protes kalau kopinya terlalu manis. Sekarang dia tidak peduli, karena yang dia pegang bukan kopi, melainkan mimpi buruk yang tak tahu harus disimpan di mana.

Malam tidak sedang membahas rokok dan kopi pahit. Malam hanya datang mengingatkan, ada hal-hal yang bahkan Tuhan pun malas selesaikan. Barangkali Tuhan pun lelah.

Si Laki-laki tidak ingat siapa yang lebih dulu menyerah. Mungkin cinta memang bukan badai yang berakhir dengan tangisan, hanya dengan diam yang abadi.

“Sudah tujuh tahun,” katanya. Tidak menatap siapa-siapa.

Si Perempuan mengangguk. Ia bisa saja mengoreksi bahwa sebenarnya baru enam tahun delapan bulan, tapi buat apa?

“Kalau cinta itu mahluk,” katanya, “Kau sudah membunuhnya berkali-kali.”

Si Laki-laki tertawa. Tak ada yang lucu. Ia hanya sudah terlalu lelah menghadapi keseriusan.

“Kalau aku pergi malam ini…” Si Perempuan membuka suara, lalu berhenti. “Kamu akan baik-baik saja?”

Si Laki-laki mengangkat bahu. “Entah. Cinta sekarang lebih terlihat seperti burung yang lupa caranya pulang.”

Si Perempuan berdiri. Tangannya gemetar. Ia mengambil jaket, tas penuh pakaian, dan semua yang tak bisa ditinggalkan oleh siapa pun yang pernah mencoba bertahan terlalu lama.

Di luar, malam mengendap seperti air bocor di dapur. Dingin, basah, dan sulit dijelaskan kenapa rasanya bisa sampai ke dada.

“Pergilah, cinta,” Si Laki-laki berkata. “Pergilah! Hari sudah malam. Ibumu memanggil menyuruhmu tidur.”

Pintu tertutup tanpa bunyi.

Di ruangan, hanya sisa asap dan dua cangkir kosong yang kini tidak akan pernah bertegur sapa, lagi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Route
Hendika A. Cantona
Novel
Dibawah Pedang Pora
Eggya Vaniesa Hediana
Novel
MELEPAS BAYANG
Wardjito Soeharso
Novel
Bronze
PEREMPUAN NAGA
Efi supiyah
Komik
Can I ?
Blueleaf
Skrip Film
Miranda Advertising (Script)
qiararose
Skrip Film
SKETSA JODOH
Kim Hakimi
Flash
Bronze
Rambo Mencoba Bertahan Hidup
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Persidangan Khayangan Jaka Tarub
Silvarani
Flash
Cinta Pergilah, Hari Sudah Malam
IGN Indra
Flash
Amarah
A. R. Tawira
Flash
Komik Shinchan, Rokok Lintingan dan Kacamata Bertangkai Satu
Autami Anita
Novel
Perjalanan Ranum
Faiqotun Nafiah
Novel
ESENSI SEBUAH KAPAL
kingsleigh
Flash
Menjaring Matahari
Utep Sutiana
Rekomendasi
Flash
Cinta Pergilah, Hari Sudah Malam
IGN Indra
Cerpen
KAMAR 303
IGN Indra
Flash
REBUSAN KOSONG
IGN Indra
Novel
32 DETIK
IGN Indra
Cerpen
LEIL FATTAYA
IGN Indra
Flash
HATI YANG TAK PULANG
IGN Indra
Flash
BAIT KEMANDANG MALAM PURWA
IGN Indra
Novel
SENI PERANG RUMAH TANGGA
IGN Indra
Flash
PAJANGAN LEMARI KACA
IGN Indra
Cerpen
MALAM ALUNA
IGN Indra
Novel
THE TOXIC ASSET
IGN Indra
Cerpen
WADAH
IGN Indra
Cerpen
SEPERTI SALJU BULAN APRIL
IGN Indra
Cerpen
KAMAR NO 7 DAN AROMA LAVENDER
IGN Indra
Cerpen
Bronze
TRAM TO 2037
IGN Indra