Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Terapi kota
6
Suka
19,625
Dibaca

Kota ini tidak pernah tidur.

Bahkan saat jam menunjuk pukul dua dini hari, ketika hujan rintik-rintik menampar kaca jendela apartemen, suara masih berdesakan di luar sana. Klakson jauh dari jalan protokol, roda-roda besi menggulung aspal basah, dan suara tukang nasi goreng beradu dengan anjing liar yang menggonggong pada bayangan.

Tiga bulan yang lalu, ibuku meninggal karena serangan jantung mendadak. Ia jatuh di tengah dapur, masih memegang spatula. Aku datang lima belas menit terlambat.

Sejak hari itu, aku kehilangan arah. Jakarta berubah menjadi labirin tanpa pintu keluar. Aku berjalan ke kantor setiap hari seperti orang yang tersesat, menatap papan iklan besar, menyeberangi jembatan penyebrangan, duduk di KRL yang penuh tapi terasa hampa.

Namun anehnya, kota ini tidak menjauh.

Ia tidak mengusirku.

Malah sebaliknya ia mulai memelukku, perlahan, diam-diam.

Di halte bus dekat kantor, ada seorang pria tua yang menjual koran, Pak Heru. Tangannya gemetar saat menyerahkan lembaran berita, tapi senyumnya tak pernah pudar.

“Berita hari ini nggak terlalu menyenangkan,” katanya suatu pagi. “Tapi masih ada cerita bagus di halaman terakhir. Tentang anak kecil yang bantu ibunya jual sayur.”

Aku hanya mengangguk. Tapi sorot matanya seakan mengerti, aku butuh mendengar sesuatu yang tidak terlalu menyakitkan hari itu.

Di warung kopi pinggir trotoar, Mbak Ayu sudah tahu pesananku.

“Americano, no sugar. Kamu selalu datang jam segini, ya? Badan kota hafal kamu, Mbak,” katanya sambil terkekeh.

Kalimat itu mengendap lama di kepalaku. Badan kota hafal kamu.

Mungkin kota ini memang makhluk hidup. Ia bernapas lewat knalpot, berbicara lewat speaker KRL, menangis lewat hujan yang tak diundang, dan menatap lewat mata-mata asing di jalanan. Dan sekarang, ia sedang mengingatku.

Setiap malam Jumat, aku jalan kaki menyusuri trotoar dekat Bundaran HI. Banyak orang aneh di sana: ada yang berlatih tari sendirian, ada yang membagikan puisi gratis, ada juga yang cuma duduk dengan karton bertuliskan “butuh teman bicara.”

Malam itu aku berhenti di depan seorang pemuda dengan gitar tua. Ia menyanyikan lagu lama milik Ebiet G. Ade, lagu yang biasa dinyanyikan ibu sambil mencuci piring.

Aku berdiri membeku.

Air mataku jatuh bahkan sebelum suara gitarnya selesai menggetarkan udara.

Pemuda itu berhenti bermain.

“Lagu ini buat siapa?” tanyanya pelan.

Aku hanya menjawab lirih, “Ibuku.”

Dia tidak bertanya lebih jauh. Hanya menunduk, dan mulai menyanyikan ulang, lebih pelan, seolah tahu: aku perlu mengulang kesedihan itu untuk bisa melepaskannya.

Jakarta tetap bising. Tetap macet, tetap panas, tetap penuh keluhan. Tapi lambat laun aku menyadari, kebisingan ini bukan gangguan. Ia adalah denyut nadi. Ia adalah detak jantung yang membuatku ingat: aku masih hidup.

Kota ini tidak memberiku terapi dalam bentuk yang biasa. Ia tidak menyodorkan sofa empuk dan tisu kotak. Ia memberiku pejalan kaki yang sama-sama lelah, pengamen yang menyanyi meski tidak dipedulikan, tukang parkir yang bersiul di tengah hujan.

Mereka semua adalah bagian dari terapi.

Dan aku perlahan mulai sembuh.

Suatu pagi, aku duduk di bangku taman dekat stasiun. Seorang anak kecil duduk di sampingku, tangannya menggenggam balon biru yang tampak terlalu besar untuk tubuh mungilnya.

Ia menatap langit dan berkata, “Ibu bilang kalau orang yang kita sayangi meninggal, mereka berubah jadi angin.”

Aku menoleh padanya, terkejut.

Anak itu menambahkan, “Makanya aku nggak suka pakai payung. Biar anginnya bisa peluk aku.”

Aku tertawa kecil, lalu menangis. Tidak keras, tapi cukup.

Balon biru itu terlepas dan terbang ke langit.

Kota ini keras, tapi tidak kejam.

Ia bisa jadi penyembuh, tapi tidak memaksa.

Dan aku? Aku masih belajar berjalan di atas trotoar ini. Masih belajar menatap gedung-gedung tinggi tanpa merasa kecil. Masih belajar bahwa kehilangan tak harus disembuhkan sepenuhnya, cukup diterima… sambil terus hidup di tengah riuh kota yang terus bergerak.

Hari ini, aku membuka jendela dan membiarkan angin masuk.

Barangkali … Ibu sedang lewat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Skrip Film
SIBLINGS (SERIES)
Ika Karisma
Flash
Terapi kota
lidia afrianti
Novel
SEMPAT
Vida Tri Ayunda
Novel
Our Dreams Together
Emma N.N
Novel
Kausatif
Topan Adiningrat
Novel
Bronze
Kill Me Heal Me
Mayola Amanda
Novel
AIR MATA DOA
ANNISA JAHRA
Cerpen
Bronze
Loving You Beyond God
Silvarani
Novel
YAPPA MARADDA
Sika Indry
Novel
Bronze
REMINISCENCE ELEGY
mahes.varaa
Novel
Gold
KKPK The Giant Cat
Mizan Publishing
Novel
Memeluk Gelombang
Edelmira (Elmira Rahma)
Flash
Bronze
Pangeran di Bus Kota
Sulistiyo Suparno
Flash
Mesin Waktu
Muhammad Ilfan Zulfani
Flash
Bronze
Sang Komedian Runtuh
Rere Valencia
Rekomendasi
Flash
Terapi kota
lidia afrianti
Flash
Bronze
LAST PLACE
lidia afrianti
Flash
Kalau saat itu aku tidak diam. . .
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Tolong Hidup Sampai Aku Mati !
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Strange Thoughts
lidia afrianti
Novel
Wandering Toward You
lidia afrianti
Flash
Perempuan
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Line And Word
lidia afrianti
Cerpen
Jalur Langit
lidia afrianti
Flash
STORY OF GERBERA
lidia afrianti
Flash
Rumus Manual ayah
lidia afrianti
Flash
Jika kita berubah
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
StepMother
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
The Soundless Tide
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Dazzling Love
lidia afrianti