Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Terapi kota
6
Suka
16,845
Dibaca

Kota ini tidak pernah tidur.

Bahkan saat jam menunjuk pukul dua dini hari, ketika hujan rintik-rintik menampar kaca jendela apartemen, suara masih berdesakan di luar sana. Klakson jauh dari jalan protokol, roda-roda besi menggulung aspal basah, dan suara tukang nasi goreng beradu dengan anjing liar yang menggonggong pada bayangan.

Tiga bulan yang lalu, ibuku meninggal karena serangan jantung mendadak. Ia jatuh di tengah dapur, masih memegang spatula. Aku datang lima belas menit terlambat.

Sejak hari itu, aku kehilangan arah. Jakarta berubah menjadi labirin tanpa pintu keluar. Aku berjalan ke kantor setiap hari seperti orang yang tersesat, menatap papan iklan besar, menyeberangi jembatan penyebrangan, duduk di KRL yang penuh tapi terasa hampa.

Namun anehnya, kota ini tidak menjauh.

Ia tidak mengusirku.

Malah sebaliknya ia mulai memelukku, perlahan, diam-diam.

Di halte bus dekat kantor, ada seorang pria tua yang menjual koran, Pak Heru. Tangannya gemetar saat menyerahkan lembaran berita, tapi senyumnya tak pernah pudar.

“Berita hari ini nggak terlalu menyenangkan,” katanya suatu pagi. “Tapi masih ada cerita bagus di halaman terakhir. Tentang anak kecil yang bantu ibunya jual sayur.”

Aku hanya mengangguk. Tapi sorot matanya seakan mengerti, aku butuh mendengar sesuatu yang tidak terlalu menyakitkan hari itu.

Di warung kopi pinggir trotoar, Mbak Ayu sudah tahu pesananku.

“Americano, no sugar. Kamu selalu datang jam segini, ya? Badan kota hafal kamu, Mbak,” katanya sambil terkekeh.

Kalimat itu mengendap lama di kepalaku. Badan kota hafal kamu.

Mungkin kota ini memang makhluk hidup. Ia bernapas lewat knalpot, berbicara lewat speaker KRL, menangis lewat hujan yang tak diundang, dan menatap lewat mata-mata asing di jalanan. Dan sekarang, ia sedang mengingatku.

Setiap malam Jumat, aku jalan kaki menyusuri trotoar dekat Bundaran HI. Banyak orang aneh di sana: ada yang berlatih tari sendirian, ada yang membagikan puisi gratis, ada juga yang cuma duduk dengan karton bertuliskan “butuh teman bicara.”

Malam itu aku berhenti di depan seorang pemuda dengan gitar tua. Ia menyanyikan lagu lama milik Ebiet G. Ade, lagu yang biasa dinyanyikan ibu sambil mencuci piring.

Aku berdiri membeku.

Air mataku jatuh bahkan sebelum suara gitarnya selesai menggetarkan udara.

Pemuda itu berhenti bermain.

“Lagu ini buat siapa?” tanyanya pelan.

Aku hanya menjawab lirih, “Ibuku.”

Dia tidak bertanya lebih jauh. Hanya menunduk, dan mulai menyanyikan ulang, lebih pelan, seolah tahu: aku perlu mengulang kesedihan itu untuk bisa melepaskannya.

Jakarta tetap bising. Tetap macet, tetap panas, tetap penuh keluhan. Tapi lambat laun aku menyadari, kebisingan ini bukan gangguan. Ia adalah denyut nadi. Ia adalah detak jantung yang membuatku ingat: aku masih hidup.

Kota ini tidak memberiku terapi dalam bentuk yang biasa. Ia tidak menyodorkan sofa empuk dan tisu kotak. Ia memberiku pejalan kaki yang sama-sama lelah, pengamen yang menyanyi meski tidak dipedulikan, tukang parkir yang bersiul di tengah hujan.

Mereka semua adalah bagian dari terapi.

Dan aku perlahan mulai sembuh.

Suatu pagi, aku duduk di bangku taman dekat stasiun. Seorang anak kecil duduk di sampingku, tangannya menggenggam balon biru yang tampak terlalu besar untuk tubuh mungilnya.

Ia menatap langit dan berkata, “Ibu bilang kalau orang yang kita sayangi meninggal, mereka berubah jadi angin.”

Aku menoleh padanya, terkejut.

Anak itu menambahkan, “Makanya aku nggak suka pakai payung. Biar anginnya bisa peluk aku.”

Aku tertawa kecil, lalu menangis. Tidak keras, tapi cukup.

Balon biru itu terlepas dan terbang ke langit.

Kota ini keras, tapi tidak kejam.

Ia bisa jadi penyembuh, tapi tidak memaksa.

Dan aku? Aku masih belajar berjalan di atas trotoar ini. Masih belajar menatap gedung-gedung tinggi tanpa merasa kecil. Masih belajar bahwa kehilangan tak harus disembuhkan sepenuhnya, cukup diterima… sambil terus hidup di tengah riuh kota yang terus bergerak.

Hari ini, aku membuka jendela dan membiarkan angin masuk.

Barangkali … Ibu sedang lewat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Terapi kota
lidia afrianti
Novel
Bronze
R.E.F.U.N.D
Agnes Julianti Halim, S. MG
Novel
Mendahului Sebelum Karma
Elsa Setyawati Sumule
Novel
Mencari Jalan Pulang
Siti Hodijah
Novel
Even They Can Cry
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Surat Penggemar
Pamella Paramitha
Flash
Ayahku koruptor
Reveniella
Novel
none
Devi Sri Mulyani
Flash
One Day
Azmi1410
Novel
Bronze
The Gapyear
Maria Kristi
Novel
Forget To Forget You
Silvi Monica
Komik
a Hero
Nur.Suji
Skrip Film
Bintang SMA 101
Yorandy Milan Soraga
Flash
Bronze
Si Lola Menyebalkan
Nuel Lubis
Flash
Lintang
Jasma Ryadi
Rekomendasi
Flash
Terapi kota
lidia afrianti
Flash
Cerita 14 Mei 2013
lidia afrianti
Flash
Apakah kamu pernah mencintaiku?
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
SANGUIN
lidia afrianti
Flash
Kotak
lidia afrianti
Flash
Dia Bernama Lumi
lidia afrianti
Flash
Kesalahan Hitung
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Jejak Yang Tak Terhapuskan
lidia afrianti
Flash
Wilayah Terlarang Bernama Kita
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
The Soundless Tide
lidia afrianti
Flash
Ternyata Kita Pembohong
lidia afrianti
Flash
Bronze
From River To Sea
lidia afrianti
Flash
Maaf aku tidak menjadi apa yang kamu mau
lidia afrianti
Flash
Bronze
Manusia Yang Kupanggil Priaku
lidia afrianti
Flash
10 Days Without Permission
lidia afrianti