Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Self Improvement
Mengeja Angka
0
Suka
2,106
Dibaca

Biarkan pagi mengenalkan dunia pada bocah yang belajar mengeja angka-angka.

Zaki, anak lelaki kelas dua itu ditunjuk sang guru untuk membacakan jawaban dari pertanyaan nomor 7.

Ia berdiri menjawab, "81."

Lalu tawa mengikik terdengar dari teman-teman sekelasnya.

Dasar bodoh! Bodoh! Kata itu seperti bersiul, serupa peluru yang menyongsong. Hanya lebih bising.

Zaki memperhatikan wajah teman-temannya satu-persatu.

"Hey, bukumu terbalik!" ucap kawan sebangkunya yang tak sengaja melihat.

Terbalik? 6x6?

Kalau begitu benar jawabannya, 9x9 adalah 81!

Meski begitu ia tetap bodoh. Mengapa harus membuat dua sama dengan?

Bu guru Sri yang berdiri di depan kelas perlahan mulai berjalan mendekat ke mejanya.

"Kamu sengaja melakukannya?"

Zaki yang sudah kembali duduk, mengangkat kepalanya melihat sang guru.

"Saya ingin melihat hasil yang lain."

Pada akhirnya takut itu tak berdaya mengunci mulutnya. Meski ia masihlah seorang bocah, yang tak memiliki banyak keberanian.

Ada cahaya yang perlu dihidupkan. Dari mereka yang lupa menyalakannya.

Orang-orang yang terlalu enggan untuk berbeda. Terlalu takut untuk diasingkan. Sisi alami manusia yang normal sebagai makhluk sosial.

Karena itu, sering kali mereka turut pada apa yang ada. Sekalipun tepi jurang adalah akhirnya. Karena ekor akan remuk belakangan.

"Siapa yang memberitahumu tentang ini?" mata ibu Sri tampak menyelidik penasaran.

"Ibu saya...." 

Seperti tadi ia meneguk tawa-tawa yang menghantu, karena menjadi berbeda. Meski ngilu, toh, tidak membuatnya mati tercakar malu.

Ia hanya ingin melihat sisi yang lain, yang sering terlupakan, pun diabaikan. Yang tanpa disadari, bisa membuat orang lain salah paham bila mereka tak memahami. Seperti apa kata ibunya.

"Bu Guru, bolehkah saya melihat dari tempat yang lain?"

Ini bukan pelajaran bahasa. Ini ilmu pasti. Matematika. Tapi dengan sudut pandang yang berbeda, hasilnya bahkan bisa menjadi lain. Meski ada dua sama dengan.

Biarkan angin menggoyang ilalang.

Bu guru Sri tersenyum lembut.

"Kamu bahkan boleh menggambar dunia dengan hatimu."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Flash
Mengeja Angka
Chie Kudo
Flash
Malam Solilokui
Noir K. Daksine
Flash
Halte Plot Twist
Hans Wysiwyg
Cerpen
Bronze
Goyah
Bang Jay
Flash
Biru Merah
lidia afrianti
Flash
Pria dengan Sebatang Rokok pada Dini Hari
Hekto Kopter
Flash
Bronze
Jangan Jatuh Cinta di Titik Amplitudo!
Silvarani
Cerpen
Melintasi Dimensi
Kirana
Novel
Spin to Sink: Mikoto Fight to be Better
Romi Bangun Awali
Flash
Titik Tumbuh
lidia afrianti
Novel
Yang tersembunyi dalam luka
Asep Saepuloh
Cerpen
Langit Tak Pernah Menutup Jalan
Muhammad Hairul Umam
Flash
Monolog sunyi untuk mama
tita agnesti
Cerpen
Bronze
Bawa Aku, Kemana Kau Pergi
angin lembah
Cerpen
Dari Lelah Menuju Lega
Penulis N
Rekomendasi
Flash
Mengeja Angka
Chie Kudo
Cerpen
Bronze
Nil Desperandum
Chie Kudo
Cerpen
Anak Kidal
Chie Kudo
Cerpen
Bronze
Satu Paket Cinta yang Tak Pernah Kedaluwarsa
Chie Kudo
Flash
Maaf pada Bapak
Chie Kudo
Flash
Diari SSRKJSM
Chie Kudo
Skrip Film
Free!
Chie Kudo
Flash
Drama Korea vs Sinetron Indonesia
Chie Kudo
Cerpen
Love All ; The Tree You Lean Against
Chie Kudo
Cerpen
Duo Wijaya
Chie Kudo
Cerpen
Alexithymia
Chie Kudo
Cerpen
Berbagi Ibu
Chie Kudo
Cerpen
Permainan Kematian
Chie Kudo