Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Bagaimana Jika Aku Tidak Menikah?
4
Suka
22,540
Dibaca

Ada masa ketika aku yakin, suatu hari nanti, aku akan menikah. Membangun rumah, menghias taman kecil, dan merenda ruang tamu yang riang. Dulu, semua itu terdengar seperti kepastian. Namun, sekarang, semua berubah menjadi pertanyaan.

Aku, tiga puluh enam tahun. Seseorang yang di banyak pasang mata: orang tua, sanak keluarga, dan teman, sudah terlalu lama mengenyam kesendirian.

Bukan aku tidak mencari seorang pendamping. Bukan pula menunggu jodoh datang sendiri, bagai hembusan angin yang tak memerlukan perkenalan. Aku hanya lelah dan takut.

“Ayah dan Ibu cuma ingin kamu bahagia,” kata Ibu malam itu. Suaranya terdengar berat. Ada tuntutan dan pengertian yang saling bertaut. “Kami nggak maksa. Tapi sampai kapan kamu mau begini terus?”

Aku duduk di ruang tamu, menatap lantai dengan khidmat. Ingatan kembali ke masa remaja saat mereka menginterogasiku ketika aku pulang larut malam.

“Bu… Aku bukannya nggak mau,” ucapku pelan sembari menahan haru yang menyesak ke dada. “A… aku cuma takut.”

Ayah meletakkan cangkir teh ke meja. “Takut kenapa? Kamu sudah mapan, kerja stabil, umur juga cukup. Sama si ini nggak mau. Sama si itu kurang cocok. Nggak ada orang yang sempurna dalam hidup, makanya perlu ada orang lain yang membantu menyempurnakannya.”

Aku ingin menjawab, tetapi kata-kata itu menolak keluar. Aku paham, mereka telah banyak menanggung malu karena perjodohan yang tidak pernah kusetujui.

Hah!

Bagaimana aku bisa menjelaskan rasa cemas yang mengendap di dada? Rasa tidak cukup. Rasa bahwa aku mungkin tidak akan pernah menjadi suami yang baik. Bahwa aku tak tahu bagaimana caranya menjadi tempat pulang bagi orang lain, sedangkan aku sendiri kerap tersesat dalam diriku sendiri.

Aku sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan perempuan. Kutata diri dari setiap kegagalan sebelumnya. Nyatanya, aku selalu terhempas sebagai pilihan hidup mereka.

Ibu menatapku lama. “Atau… kamu tidak…?”

Aku menggeleng cepat. “Bukan itu. Aku hanya berpikir: bagaimana kalau suatu hari perempuan yang menjadi istriku sadar… bahwa aku ini biasa saja? Aku nggak bisa membuat dia bahagia seperti laki-laki lain yang lebih sabar, lebih dewasa, lebih…”

“Berhenti!” ucap Ayah, nadanya tegas. “Berhenti membandingkan dirimu dengan orang yang bahkan tidak ada.”

Hening memayungi seketika. Aku tertunduk. Bingung dan limbung.

****

Beberapa hari setelah percakapan itu, aku menekuri diriku dalam-dalam.

Apakah aku akan mati dalam kesendirian? Apakah tubuhku baru ditemukan setelah tetangga mencium bau busuk? Apakah hidupku akan selalu dianggap ‘kurang lengkap’? Apakah cinta harus diwujudkan dalam bentuk rumah tangga? Apakah semua orang harus berjalan di jalan yang sama?

Terkadang, aku merasa bersalah. Bukan karena tidak menikah, melainkan karena membuat orang tuaku kecewa. Aku ibarat menanam luka di hati mereka.

Hatiku pernah hampir utuh, lalu perlahan mengelupas—sebelum akhirnya retak, dan tak bisa dibentuk lagi. Retak yang tumbuh dari serpihan-serpihan masa lalu yang mengendap. Masa lalu yang membuatku selalu merasa gagal.

Luka itu terus menganga. Upaya penyembuhan terus kulakukan. Hanya saja, ia sudah terlalu lekat dalam badan, menggerogoti setiap tekad yang akan bertunas.

Hari ini, aku duduk di bangku taman, memandangi sepasang kakek-nenek yang saling menggenggam tangan. Tiba-tiba aku ingin menangis.

Tidak. Aku tidak sedang iri kepada mereka. Ada sisi dari cinta yang masih kurindukan.

Mungkin, tidak semua orang ditakdirkan untuk menikah—dan itu tidak apa-apa. Aku bisa mencintai diriku sendiri. Aku juga bisa mencintai orang lain, meski tanpa ada ikatan yang melingkar di jariku.

Dan mungkin, itu cukup. Sebab cinta tak perlu janji yang keras, cukup hadir dan menetap.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Bagaimana Jika Aku Tidak Menikah?
Jasma Ryadi
Flash
Bronze
Derivatif Pernikahan
Silvarani
Novel
Bronze
Tangguh Perkasa
Rival Ardiles
Novel
Sidang Meja Bundar
Puspa Febrina
Flash
Bronze
Tiket Mahal Say!
Emma Kulzum
Flash
Bagaimana Jika Aku Menjadi Umbi-Umbian?
Jasma Ryadi
Flash
Janji
Nisa
Flash
Bronze
Luka Kecil
AlifatulM
Flash
Keluarga Baru
madiani_shawol
Flash
Journey To Dream University
dhiinasaf
Skrip Film
April Fools
jenkyjen
Skrip Film
Burung dan Awan
Eko Hartono
Skrip Film
NEAR (script)
Dheajeng Novida
Flash
Bronze
Pecundang Yang Merendahkan
Rere Valencia
Flash
Bronze
PADA SEBUAH CAFE
Onet Adithia Rizlan
Rekomendasi
Flash
Bagaimana Jika Aku Tidak Menikah?
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Menjadi Umbi-Umbian?
Jasma Ryadi
Flash
Gema yang Redup
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Mereka yang Masih di Dalam
Jasma Ryadi
Flash
Ketika Dosa Berbau
Jasma Ryadi
Flash
Mengapa Aku Belum Mati?
Jasma Ryadi
Flash
Lintang
Jasma Ryadi
Flash
Jejak
Jasma Ryadi
Flash
Bulan ke-10
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Mereka Bilang Aku Durhaka
Jasma Ryadi
Flash
Surat Untukmu Dariku
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Adam
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Antara 45 dan 65 Derajat
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Teman yang Tidak Datang ke Pemakaman
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Shift Tiga
Jasma Ryadi