Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Lintang
1
Suka
27,893
Dibaca

"Inilah yang bikin kita nggak maju kayak orang-orang. Pikiran kamu nggak mau berkembang. Asal tidak kekurangan makan aja, kamu bilang udah cukup. Emangnya hidup cuma makan doang? Emang kebutuhan cuma pangan doang? Aku juga butuh sandang, papan, dan yang lainnya yang lebih mapan agar bisa senang dan dipandang. Kamu pikir semua keruwetanku setiap hari bisa terselesaikan dengan makan, gitu?" tuturnya, nyaris tanpa jeda.

"Aku paham. Tapi maksud aku tuh..."

"Sudahlah, Mas! Aku capek ribut mulu sama kamu. Harusnya kamu mengerti tanpa harus memantik emosiku terus menerus," tandasnya, penuh getir.

Inilah perbincangan yang sama setiap malam, dengan penyelesaian yang sama pula. Penyelesaian tanpa adanya kesempatan untuk memberikan penjelasan: bertukar kata demi kata dengan hati yang lapang.

Dalam diriku seolah hanya ada salah dan kurang. Keringat yang kukuras setiap hari tak pernah cukup untuk memikul hasratnya. Pergi pagi dan pulang malam bagai tidak mengandung nilai pengorbanan secuil pun. Lantas, aku harus bagaimana lagi menukar tenaga dan pikiran dengan uang?

Terkadang, perpisahan bertahta di kepala—merajai pikiran ketika dia "menceramahaiku" secara ugal-ugalan. Namun, aku masih enggan untuk menyerah, meski adakalanya benar-benar dirasuki jengah.

Aku tundukkan pandangan sejenak, meredam nyala di tubuh. Dia justru berlalu memasuki kamar, kemudian menutup pintu dengan sekuat tenaga. Bunyi yang dihasilkan cukup tajam hingga begitu menyesak ke dalam dadaku.

Hah!

Dulu, rumah ini hangat. Setiap aku pulang kerja, dia menyambutku dengan tawaran minum. Dia juga mengusap keringat di dahiku. Kini, salam yang kuucapkan pun harus kusahuti sendiri.

Sungguh. Tak ada niat membuatnya merasa sengsara. Sebagai suami, sebagai kepala rumah tangga, aku paham posisi dan tanggung jawabku. Hanya saja, salahkah jika aku memintanya sabar—mengharap semangatnya tetap setia pada keadaan? Bukankah itu ikrar cinta bersama yang ditambatkan di bawah para saksi? Aku cuma ingin dianggap hadir, bukan sekadar ada tanpa makna.

Tidak.

Dia tidak salah. Dia berhak atas apa yang dia katakan. Sebab, aku yang mengajaknya mengarungi kehidupan ini.

 Maaf.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Lintang
Jasma Ryadi
Novel
Bronze
Hallo Nana!
Missooo
Novel
SEBELUM MATA ANGIN TERJADI
Ni Made Juni Artami
Novel
Bronze
Pintu Tauhid 1&2 (Bundling)
Imajinasiku
Novel
Kabari Aku Bila Hujan Turun
Naila Hafizha
Novel
Irama Bulan
Ilestavan
Skrip Film
SELEPAS TERSESAT
Budiya Rahman
Cerpen
Bronze
Burung Ayam Ayam
Ahmad Muhaimin
Novel
GADIS BULAN
Teguh D. Satrio
Novel
Gold
Nun Mati
Falcon Publishing
Flash
Ternyata Akting
nisaaa
Novel
Times New Romance
Rizkia Ow
Novel
Bronze
DIGDAYA
Wulan Kashi Dhamar
Cerpen
Bronze
Akhir Cerita Kita
Rara3
Novel
Eris
Rizki Aulia
Rekomendasi
Flash
Lintang
Jasma Ryadi
Flash
Museum Kenangan
Jasma Ryadi
Flash
Jadikan Aku Selingkuhanmu
Jasma Ryadi
Flash
Pelukan Tanah Basah
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Mereka yang Membawa Pertanda
Jasma Ryadi
Flash
Akar di Kepala Ibu
Jasma Ryadi
Flash
Sepatu Basah
Jasma Ryadi
Flash
Terminal
Jasma Ryadi
Flash
Sandekala
Jasma Ryadi
Novel
Bronze
Mereka di Sini
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Punggung yang Patah
Jasma Ryadi
Flash
Dahlia
Jasma Ryadi
Flash
Aku atau Dia
Jasma Ryadi
Flash
Ketika Dosa Berbau
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Tidak Menikah?
Jasma Ryadi