Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Kesempatan Kedua
7
Suka
15,584
Dibaca

Aku pasrah. Aku jadi kebal. Sudah mati rasa ketika dokter memvonis waktuku hanya tersisa seminggu lagi. Bahkan menangis pun sulit. Air mata rasanya membeku di pelupuk.

Ibu terduduk lemas dengan mata sembab.

"Sudahlah bu, kita terima saja, aku ikhlas," ujarku mencoba kuat.

"Tapi ibu belum bisa..."

"Ibu tidak akan terbiasa dengan rumah sunyi tanpa suara cerewetmu. Ibu dulu paling benci, tapi sekarang...." ibu menunduk, menggigit bibirnya, agar tangisnya tak tumpah.

Aku tak mau membiarkan ledakan tangisnya. Aku mengalihkannya, menggamit lengannya.

"Bu, aku mau mengganti setiap detik yang tersisa kalau bisa, selama ini aku sibuk dan tidak pernah mendengarkan ibu."

"Kamu mau bikin ibumu nangis lagi?"

"Bu, aku mau Ibu suapin klappertart bikinan ibu lagi, aku mau terus memakannya sampai waktunya tiba."

"Ssstt, jangan asal bicara!" tepis ibu sambil menyuapiku dengan potongan besar kue untuk menutup mulutku.

Aku protes karena suapan besar itu nyaris membuatku tersedak.

Ibu tertawa. Aku tiba-tiba baru menyadari jika tawa itu ternyata begitu indah. Aku mengabaikannya selama ini.

***

Seorang perawat tiba-tiba masuk memeriksa infus dan oksigen. Ibu menggeser duduknya tak jauh. Menatap wajahku cemas.

“Suster, boleh nggak aku lepas selang ini? Risih rasanya.”

“Kondisimu belum stabil. Kami tak bisa ambil risiko.” ujar si perawat menjawabku tanpa menoleh. 

Aku lihat ibu tiba-tiba berpaling membelakangiku menghadap jendela ke arah langit keruh dengan comulunimbus yang hitam pekat. Dan berbalik lagi saat perawat pergi.

"Kamu baik-baik saja?"

“Maksud Ibu?”

Ia tak menjawab. Tapi aku segera tersadar, kadang, orang yang hampir pergi akan terlihat lebih sehat. Seperti pamit tanpa kata.

"Bu..., aku gembira karena ibu ada di sini. Aku nggak suka ada selang oksigennya, rasanya seperti selang astronot."

Aku melihat bersit senyumnya berganti tawa yang tadi ditahannya.

"Kamu memang nggak pernah berubah!"

"Jadi ibu mau aku diam-diam bae?"

Kami lepas tertawa. Kesedihan terbang sejenak, suasana menghangat.

"Mau apel? Ujar ibu memecah kebekuan.

"Ibu kok baik?"

Spontan ibu menyentil dahiku sambil menyipitkan mata seolah tak percaya aku bertanya begitu. Lalu menyuapiku dengan potongan apel.

"Bu, seandainya ada keajaiban mesin waktu, aku mau memutar ulang semuanya."

"Katanya sudah ikhlas"?

"Iya, tapi berharap kan boleh, aku selalu memohon dalam doa-doaku."

Ibu mengangguk mengiyakan.

"Tapi jika memang Tuhan lebih sayang sama aku, kita terima takdir ini ya bu." ujarku sambil memeluk ibu hangat. Ibu membeku lagi.

***

Hujan turun sejak pagi tadi, suhu di ruangan terasa lebih dingin. Dari tempatku berbaring aku bisa memandangi tempias yang berlarian di kaca jendela. Aku melamun, menatap hujan. Aku suka hujan. Tapi hujan kali ini membuatku murung untuk pertama kalinya. Mungkin karena diagnosa menyebut sisa hidupnya tinggal sejenak.

Tiba-tiba pintu bangsal terbuka, dokter datang. Ia terlihat gelisah. Ibu langsung berdiri, wajahnya pucat.

“Saya… saya minta maaf. Kami melakukan kesalahan besar,” katanya pelan. “Putri ibu bukan pasien dengan vonis itu. Ada kekeliruan sistem. Diagnosa salah kirim. Diva hanya perlu pemulihan. Besok sudah bisa pulang.”

Aku dan Ibu berpandangan, lalu membeku.

Aku ingin tertawa, menangis, berteriak—semuanya sekaligus. Tapi tubuhku hanya bisa memandang langit-langit. Apa ini mimpi?

“Ini keajaiban, Bu?” bisikku lirih.

Ibu menggenggamku erat. “Atau Tuhan memang mendengar doamu.”

***

Tapi di meja kecil dekat ranjang, ada map rekam medis, tertulis catatan. Pasien Diva Rahmadani. Diagnosa awal keliru. Hasil MRI terakhir menunjukkan aktivitas abnormal di lobus frontal—indikasi tumor stadium lanjut yang tidak terdeteksi sebelumnya.

Tanganku gemetar.

Seminggu itu ternyata bukan kesalahan sistem?. Jadi, mereka hanya… belum siap memberi tahuku kabar buruknya?

Aku menangis sendiri, bukan karena takut, tapi karena untuk pertama kalinya dalam seminggu ini... aku tahu bagaimana rasanya benar-benar hidup.

Tiba-tiba aku berharap kesempatan kedua itu akan benar-benar ada.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (4)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Forget To Forget You
Silvi Monica
Flash
Kesempatan Kedua
Hans Wysiwyg
Flash
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
Jasma Ryadi
Skrip Film
Yang Hilang
Sholichatun Nisa
Flash
Dream
Keyda Sara R
Flash
Penggemar Idola
Devi Yuang
Cerpen
Bronze
Kenangan di Dunia Anime
Mochammad Ikhsan Maulana
Cerpen
Tukang Sayur Kehilangan Motor
Putri Rafi
Novel
Bronze
Umbara
Dzalabu
Novel
Janji Bunga Tulip
Kinarni
Novel
Pabrik Bahagia
Ariyanto
Skrip Film
Satu Persen
Dinda Fadhila Sari
Skrip Film
HAPPINESS IN THE LITTLE THINGS
Reiga Sanskara
Flash
Bronze
Sesaat Aku Bertahan Untuk Pergi
alyaandita
Flash
Bronze
Coretan Cinta
Sia Bernadette
Rekomendasi
Flash
Kesempatan Kedua
Hans Wysiwyg
Cerpen
THE CHOICE
Hans Wysiwyg
Flash
CAFE LATTE MERAH
Hans Wysiwyg
Novel
DEKUT MERPATI PEMURUNG--The Mourning Dove Calling
Hans Wysiwyg
Flash
Teman Teduh
Hans Wysiwyg
Flash
Kursi Nomor 7
Hans Wysiwyg
Cerpen
Maybe Someday
Hans Wysiwyg
Cerpen
Damar Senja
Hans Wysiwyg
Cerpen
Pacar Figuran
Hans Wysiwyg
Flash
Bangku Kosong di Baris Kedua
Hans Wysiwyg
Flash
Laut Itu Luka
Hans Wysiwyg
Flash
Sedia Aku Sebelum Hujan
Hans Wysiwyg
Cerpen
MESIN WAKTU
Hans Wysiwyg
Flash
Remember Us This Way
Hans Wysiwyg
Novel
DI BAWAH LANGIT YANG TERLUKA Beneath The Wounded Sky
Hans Wysiwyg