Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Kesempatan Kedua
10
Suka
25,124
Dibaca

Aku pasrah. Aku jadi kebal. Sudah mati rasa ketika dokter memvonis waktuku hanya tersisa seminggu lagi. Bahkan menangis pun sulit. Air mata rasanya membeku di pelupuk.

Ibu terduduk lemas dengan mata sembab.

"Sudahlah bu, kita terima saja, aku ikhlas," ujarku mencoba kuat.

"Tapi ibu belum bisa"

"Ibu tidak akan terbiasa dengan rumah sunyi tanpa suara cerewetmu. Ibu dulu paling benci, tapi sekarang," ibu menunduk, menggigit bibirnya, agar tangisnya tak tumpah.

Aku tak mau membiarkan ledakan tangisnya. Aku mengalihkannya, menggamit lengannya.

"Bu, aku mau mengganti setiap detik yang tersisa kalau bisa, selama ini aku sibuk dan tidak pernah mendengarkan ibu."

"Kamu mau bikin ibumu nangis lagi?"

"Bu, aku mau Ibu suapin klappertart bikinan ibu lagi, aku mau terus memakannya sampai waktunya tiba."

"Ssstt, jangan asal bicara!" tepis ibu sambil menyuapiku dengan potongan besar kue untuk menutup mulutku.

Aku protes karena suapan besar itu nyaris membuatku tersedak.

Ibu tertawa. Aku tiba-tiba baru menyadari jika tawa itu ternyata begitu indah, Aku mengabaikannya selama ini.

***

Seorang perawat tiba-tiba masuk memeriksa infus dan oksigen. Ibu menggeser duduknya tak jauh, menatap wajahku cemas.

“Suster, boleh nggak aku lepas selang ini? Risih rasanya.”

“Kondisimu belum stabil. Kami tak bisa ambil risiko.” ujar si perawat menjawabku tanpa menoleh. 

Aku lihat ibu tiba-tiba berpaling membelakangiku menghadap jendela ke arah langit keruh dengan comulunimbus yang hitam pekat, dan berbalik lagi saat perawat pergi.

"Kamu baik-baik saja?"

“Maksud Ibu?”

Ia tak menjawab. Tapi aku segera tersadar, kadang, orang yang hampir pergi akan terlihat lebih sehat. Seperti pamit tanpa kata.

"Bu, aku gembira karena ibu ada di sini. Aku nggak suka ada selang oksigennya, rasanya seperti selang astronot."

Aku melihat bersit senyumnya berganti tawa yang tadi ditahannya.

"Kamu memang nggak pernah berubah!"

"Jadi ibu mau aku diam-diam bae?"

Kami lepas tertawa, kesedihan terbang sejenak, suasana menghangat.

"Mau apel? Ujar ibu memecah kebekuan.

"Ibu kok baik?"

Spontan ibu menyentil dahiku sambil menyipitkan mata seolah tak percaya aku bertanya begitu. Lalu menyuapiku dengan potongan apel.

"Bu, seandainya ada keajaiban mesin waktu, aku mau memutar ulang semuanya."

"Katanya sudah ikhlas"?

"Iya, tapi berharap kan boleh, aku selalu memohon dalam doa-doaku."

Ibu mengangguk mengiyakan.

"Tapi jika memang Tuhan lebih sayang sama aku, kita terima takdir ini ya bu." ujarku sambil memeluk ibu hangat. Ibu membeku lagi.

***

Hujan turun sejak pagi tadi, suhu di ruangan terasa lebih dingin. Dari tempatku berbaring aku bisa memandangi tempias yang berlarian di kaca jendela.

Aku melamun, menatap hujan. Aku suka hujan, tapi hujan kali ini membuatku murung untuk pertama kalinya. Mungkin karena diagnosa menyebut sisa hidupnya tinggal sejenak.

Tiba-tiba pintu bangsal terbuka, dokter datang. Ia terlihat gelisah, Ibu langsung berdiri, wajahnya pucat.

“Saya minta maaf, kami melakukan kesalahan besar,” katanya pelan. “Putri ibu bukan pasien dengan vonis itu, ada kekeliruan sistem, diagnosa salah kirim. Diva hanya perlu pemulihan, besok sudah bisa pulang.”

Aku dan Ibu berpandangan, lalu membeku.

Aku ingin tertawa, menangis, berteriak semuanya sekaligus. Tapi tubuhku hanya bisa memandang langit-langit. Apa ini mimpi?

“Ini keajaiban, Bu?” bisikku lirih.

Ibu menggenggamku erat. “Atau Tuhan memang mendengar doamu.”

***

Tapi di meja kecil dekat ranjang, ada map rekam medis, tertulis catatan. Pasien Diva Rahmadani. Diagnosa awal keliru. Hasil MRI terakhir menunjukkan aktivitas abnormal di lobus frontal indikasi tumor stadium lanjut yang tidak terdeteksi sebelumnya.

Tanganku gemetar.

Seminggu itu ternyata bukan kesalahan sistem?. Jadi, mereka hanya belum siap memberi tahuku kabar buruknya?

Aku menangis sendiri, bukan karena takut, tapi karena untuk pertama kalinya dalam seminggu ini aku tahu bagaimana rasanya benar-benar hidup.

Tiba-tiba aku berharap kesempatan kedua itu akan benar-benar ada.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (4)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Kesempatan Kedua
Hans Wysiwyg
Novel
Kisah LDR paling jauh
Ari Septiana
Flash
Aku satu-satunya
Anisah Ani06
Flash
Bronze
Pelamar
Rere Valencia
Novel
Gold
Arah Musim
Bentang Pustaka
Novel
Gold
KKPK Two Beautiful Princess
Mizan Publishing
Novel
Gold
PCPK Cupcake Festival
Noura Publishing
Novel
Bronze
Janji palsu ayah anakku
Suci maisarah
Flash
Siapa yang akan menjadi wali nikahku?
Nurmalasari
Flash
Ketupat Sayur Sudah Basi
Lisnawati
Flash
Biarkan Doa Kita Bertemu Di Langit yang Sama
Rahmi Azzura
Komik
Wendy
deevn
Skrip Film
Elegi
Andini Pradya Savitri
Cerpen
Bronze
tulisan terakhirku
Faisal Susandi
Novel
Gold
The Grand Sophy
Noura Publishing
Rekomendasi
Flash
Kesempatan Kedua
Hans Wysiwyg
Flash
Bos Kubikel
Hans Wysiwyg
Cerpen
Jalan Tikus
Hans Wysiwyg
Flash
Kursi Nomor 7
Hans Wysiwyg
Flash
Uang Panas
Hans Wysiwyg
Flash
Jangan Bangunkan Mimpi Ini
Hans Wysiwyg
Flash
Suami Terba(l)ik
Hans Wysiwyg
Flash
After Nine
Hans Wysiwyg
Flash
Kursi Dari Langit
Hans Wysiwyg
Flash
Seorang Perempuan dan Sarang Lebah di Kamarnya
Hans Wysiwyg
Flash
Luruh Bersama Angin
Hans Wysiwyg
Flash
MAKLAR
Hans Wysiwyg
Flash
Teman Kamar Baru
Hans Wysiwyg
Flash
Di Bawah Langit Jogja
Hans Wysiwyg
Flash
Bangku Kosong di Baris Kedua
Hans Wysiwyg