Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Ke Manakah Harapan?
5
Suka
12,195
Dibaca

Kata orang-orang:

“Jangan sedih.”

“Gak usah dipikirin.”

“Gak usah dibawa perasaan.”

“Kurang ibadah doang kali.”

Fuck. Bila semua hanya tentang kurang ibadah, tahukah kalian apa yang kukatakan pada Tuhan setiap kali selesai beribadah? 

Tuhan, aku ingin hanya ingin dapat merasakan kebahagiaan kembali.

Aku tak pernah meminta hal-hal yang lebih. Masa bodoh dengan keluarga sempurna yang kata orang adalah keluarga cemara. Masa bodoh dengan pasangan yang kata orang adalah best couple atau husbandable.

Masa bodoh.

Masa bodoh.

Aku tak memaksa itu semua. Aku tak peduli apa pun itu, bahkan kebahagiaan dari kasih sayang seekor kucing kecil sekali pun. Tak masalah. Aku hanya ingin bisa merasakannya kembali.

Aku benci kehampaan ini.

Aku benci kehidupanku yang menghilang.

Aku benci… segalanya yang direbut dariku.

Satu makanan pun, bahkan yang dahulu paling kugemari, kini tak ada rasanya. Aku tak bisa menulis. Perasaanku, bahan bakar untuk merangkai kata-kata, habis entah ke mana. Pekerjaanku terabaikan. Lagu-lagu tak ada isinya. Permainan di gawai yang dahulu sangat kugemari, tak ada lagi artinya.

Tuhan, aku hanya ingin hidup.

Tuhan, bila kau memanggilku sekarang pun, aku tak masalah.

Setiap hari tak ada selain: menjalankan apa yang perlu dijalankan. Meski tak terasa sama sekali. Meski sesungguhnya aku hanya menanti kapan semua berakhir sekalian.

“Siapa?”

Katanya, setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. Terkadang, semesta meminjamkan seseorang kepadamu pada momen-momen tertentu.

Dia tersenyum.

Dan entah sejak kapan. Kuas telah ditarik, melengkung dan tinggi, mengisi bagian-bagian yang kosong. Seperti warna pertama pada kertas hitam putih.

Orang yang unik. Di dunia yang hampa dan tak ada rasanya, melihat seseorang yang begitu ramai dan bersinar seperti cat air yang isinya penuh hingga jatuh ke lantai, terasa bagai mimpi.

Sampai mimpi itu terbawa hingga kenyataan.

Cat airnya memenuhi kanvas.

Sepenuhnya.

Tanpa kusadari, tawa kami yang semula selalu bermula darinya, kini aku bahwa dapat memulai candaan untuk kami tergelak bersama. Dia membawa serta seluruhnya dariku, yang semula hanya tersenyum, kembali bersinar. Sinar yang bahkan lebih terang dari ribuan cat air itu.

Katanya, “Aku punya banyak warna. Kalau milikmu habis, katakanlah, aku akan melukis dengan kuas yang baru!”

“Tentu!”

Dan senyuman paling tulus yang bahkan aku tak percaya bisa muncul di wajahnya, menjadi akhir paling tragis.

Kanvasnya selalu terlalu cepat kehilangan warna.

“Hentikan. Aku tak mau lagi.”

Oh, semesta.

Bahkan bukan aku yang meminta sebuah kanvas yang kosong. Aku tak pernah menginginkannya. Aku tak pernah berharap demikian. Doa-doa yang pernah melintas menyaksikan semuanya, mereka tahu.

Jadi, begitukah?

Kanvasnya kosong lagi.

Hei… kanvasnya sekarang jatuh.

Pecah.

Luntur.

Oh, semesta, mengapa?

Masanya… telah habis, ya?

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
RUANG DAMAI PANCAWARNA
Nurul Awaliyah
Komik
JE"TIME
Tashannie abigail loekman
Komik
Dear Brileigh
Yume Risa
Skrip Film
Kekasih Halu Jadi Nyata (Skrip)
sapriani
Skrip Film
MY LOVE
maisara
Skrip Film
Nada Citaku
Hesti Yuliantika
Flash
Bad Breath
Fann Ardian
Flash
Ke Manakah Harapan?
Adinda Amalia
Novel
Bronze
Kisah Empat Monyet
ASRUL AZIZ SIGALINGGING
Novel
a
Ratesla Nadia
Komik
Bronze
MELAN©HOLIC
sleepy neko
Skrip Film
Mie Ayam United
Fevyannin Kivlanella Fathiaz
Skrip Film
Selingkuh
M Fadly Hasibuan
Skrip Film
Ice Princess
Jesslyn Kei
Skrip Film
PULANG - Script
Lucky
Rekomendasi
Flash
Ke Manakah Harapan?
Adinda Amalia
Cerpen
Outlook
Adinda Amalia
Cerpen
Anak Siapa Ini?
Adinda Amalia
Flash
Ayah, Kau di Mana?
Adinda Amalia
Flash
Kafe? Kafe. Kafe!
Adinda Amalia
Flash
Merpatinya Boleh Ikut Tidak?
Adinda Amalia
Cerpen
Wonder Blossom
Adinda Amalia
Cerpen
Firefly: A Fairy Tale
Adinda Amalia
Flash
Pieces of Hearts B
Adinda Amalia
Flash
Rombongan Teater "Dramatika"
Adinda Amalia
Flash
Tuan Pembawa Sial dan Bunga Merah Ribuan Tahun
Adinda Amalia
Cerpen
One Time Whisper
Adinda Amalia
Cerpen
Ubur-ubur Mundur
Adinda Amalia
Cerpen
Avocado Party
Adinda Amalia
Flash
Pieces of Hearts A
Adinda Amalia