Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Ke Manakah Harapan?
5
Suka
21,421
Dibaca

Kata orang-orang:

“Jangan sedih.”

“Gak usah dipikirin.”

“Gak usah dibawa perasaan.”

“Kurang ibadah doang kali.”

Fuck. Bila semua hanya tentang kurang ibadah, tahukah kalian apa yang kukatakan pada Tuhan setiap kali selesai beribadah? 

Tuhan, aku ingin hanya ingin dapat merasakan kebahagiaan kembali.

Aku tak pernah meminta hal-hal yang lebih. Masa bodoh dengan keluarga sempurna yang kata orang adalah keluarga cemara. Masa bodoh dengan pasangan yang kata orang adalah best couple atau husbandable.

Masa bodoh.

Masa bodoh.

Aku tak memaksa itu semua. Aku tak peduli apa pun itu, bahkan kebahagiaan dari kasih sayang seekor kucing kecil sekali pun. Tak masalah. Aku hanya ingin bisa merasakannya kembali.

Aku benci kehampaan ini.

Aku benci kehidupanku yang menghilang.

Aku benci… segalanya yang direbut dariku.

Satu makanan pun, bahkan yang dahulu paling kugemari, kini tak ada rasanya. Aku tak bisa menulis. Perasaanku, bahan bakar untuk merangkai kata-kata, habis entah ke mana. Pekerjaanku terabaikan. Lagu-lagu tak ada isinya. Permainan di gawai yang dahulu sangat kugemari, tak ada lagi artinya.

Tuhan, aku hanya ingin hidup.

Tuhan, bila kau memanggilku sekarang pun, aku tak masalah.

Setiap hari tak ada selain: menjalankan apa yang perlu dijalankan. Meski tak terasa sama sekali. Meski sesungguhnya aku hanya menanti kapan semua berakhir sekalian.

“Siapa?”

Katanya, setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. Terkadang, semesta meminjamkan seseorang kepadamu pada momen-momen tertentu.

Dia tersenyum.

Dan entah sejak kapan. Kuas telah ditarik, melengkung dan tinggi, mengisi bagian-bagian yang kosong. Seperti warna pertama pada kertas hitam putih.

Orang yang unik. Di dunia yang hampa dan tak ada rasanya, melihat seseorang yang begitu ramai dan bersinar seperti cat air yang isinya penuh hingga jatuh ke lantai, terasa bagai mimpi.

Sampai mimpi itu terbawa hingga kenyataan.

Cat airnya memenuhi kanvas.

Sepenuhnya.

Tanpa kusadari, tawa kami yang semula selalu bermula darinya, kini aku bahwa dapat memulai candaan untuk kami tergelak bersama. Dia membawa serta seluruhnya dariku, yang semula hanya tersenyum, kembali bersinar. Sinar yang bahkan lebih terang dari ribuan cat air itu.

Katanya, “Aku punya banyak warna. Kalau milikmu habis, katakanlah, aku akan melukis dengan kuas yang baru!”

“Tentu!”

Dan senyuman paling tulus yang bahkan aku tak percaya bisa muncul di wajahnya, menjadi akhir paling tragis.

Kanvasnya selalu terlalu cepat kehilangan warna.

“Hentikan. Aku tak mau lagi.”

Oh, semesta.

Bahkan bukan aku yang meminta sebuah kanvas yang kosong. Aku tak pernah menginginkannya. Aku tak pernah berharap demikian. Doa-doa yang pernah melintas menyaksikan semuanya, mereka tahu.

Jadi, begitukah?

Kanvasnya kosong lagi.

Hei… kanvasnya sekarang jatuh.

Pecah.

Luntur.

Oh, semesta, mengapa?

Masanya… telah habis, ya?

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Separuh Usia Delima
Wanda Alia
Flash
Ke Manakah Harapan?
Adinda Amalia
Novel
7 BULAN MENUJU PERNIKAHAN
Sahrun Rojikin
Novel
Sangkar Sang Puan
Tya Fitria
Skrip Film
Penyulam Harapan
Yayuk Yuke Neza
Novel
Fajar Dan Senja
Christaline Putri Joeane
Skrip Film
WE LOVE U FRISKA!
ciciaulfa
Novel
Dark Side
Intan Nur Syaefullah
Komik
Bronze
Happiness
Moh yoga
Flash
Bronze
Epitaf
B12
Flash
25 12
Rifin Raditya
Cerpen
Bronze
Curcollatte
Binar Bestari
Novel
Jejak Cinta Langit Senja
dhania_r
Cerpen
Bronze
Kenapa Susah Cari Jodoh?
Laras SR
Cerpen
Bronze
PAPA UNTUK SONI DAN RANIA
ari prasetyaningrum
Rekomendasi
Flash
Ke Manakah Harapan?
Adinda Amalia
Flash
Tuan Pembawa Sial dan Bunga Merah Ribuan Tahun
Adinda Amalia
Flash
Yang Selalu Memimpikan Bintang
Adinda Amalia
Novel
Orca and The Flower Ice
Adinda Amalia
Cerpen
Halimunte Cafe: Please Smile If Possible
Adinda Amalia
Cerpen
Mengapa Orang Dewasa Menikah?
Adinda Amalia
Flash
Akuarium Air Laut
Adinda Amalia
Novel
X Class 007
Adinda Amalia
Novel
Eternal Sanctuary: The Marionette
Adinda Amalia
Flash
Amongst Laughters
Adinda Amalia
Flash
Merpatinya Boleh Ikut Tidak?
Adinda Amalia
Flash
Kafe? Kafe. Kafe!
Adinda Amalia
Novel
Remains Nameless
Adinda Amalia
Cerpen
Delution Memories
Adinda Amalia
Cerpen
Bombastik
Adinda Amalia