Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Ke Manakah Harapan?
5
Suka
20,062
Dibaca

Kata orang-orang:

“Jangan sedih.”

“Gak usah dipikirin.”

“Gak usah dibawa perasaan.”

“Kurang ibadah doang kali.”

Fuck. Bila semua hanya tentang kurang ibadah, tahukah kalian apa yang kukatakan pada Tuhan setiap kali selesai beribadah? 

Tuhan, aku ingin hanya ingin dapat merasakan kebahagiaan kembali.

Aku tak pernah meminta hal-hal yang lebih. Masa bodoh dengan keluarga sempurna yang kata orang adalah keluarga cemara. Masa bodoh dengan pasangan yang kata orang adalah best couple atau husbandable.

Masa bodoh.

Masa bodoh.

Aku tak memaksa itu semua. Aku tak peduli apa pun itu, bahkan kebahagiaan dari kasih sayang seekor kucing kecil sekali pun. Tak masalah. Aku hanya ingin bisa merasakannya kembali.

Aku benci kehampaan ini.

Aku benci kehidupanku yang menghilang.

Aku benci… segalanya yang direbut dariku.

Satu makanan pun, bahkan yang dahulu paling kugemari, kini tak ada rasanya. Aku tak bisa menulis. Perasaanku, bahan bakar untuk merangkai kata-kata, habis entah ke mana. Pekerjaanku terabaikan. Lagu-lagu tak ada isinya. Permainan di gawai yang dahulu sangat kugemari, tak ada lagi artinya.

Tuhan, aku hanya ingin hidup.

Tuhan, bila kau memanggilku sekarang pun, aku tak masalah.

Setiap hari tak ada selain: menjalankan apa yang perlu dijalankan. Meski tak terasa sama sekali. Meski sesungguhnya aku hanya menanti kapan semua berakhir sekalian.

“Siapa?”

Katanya, setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. Terkadang, semesta meminjamkan seseorang kepadamu pada momen-momen tertentu.

Dia tersenyum.

Dan entah sejak kapan. Kuas telah ditarik, melengkung dan tinggi, mengisi bagian-bagian yang kosong. Seperti warna pertama pada kertas hitam putih.

Orang yang unik. Di dunia yang hampa dan tak ada rasanya, melihat seseorang yang begitu ramai dan bersinar seperti cat air yang isinya penuh hingga jatuh ke lantai, terasa bagai mimpi.

Sampai mimpi itu terbawa hingga kenyataan.

Cat airnya memenuhi kanvas.

Sepenuhnya.

Tanpa kusadari, tawa kami yang semula selalu bermula darinya, kini aku bahwa dapat memulai candaan untuk kami tergelak bersama. Dia membawa serta seluruhnya dariku, yang semula hanya tersenyum, kembali bersinar. Sinar yang bahkan lebih terang dari ribuan cat air itu.

Katanya, “Aku punya banyak warna. Kalau milikmu habis, katakanlah, aku akan melukis dengan kuas yang baru!”

“Tentu!”

Dan senyuman paling tulus yang bahkan aku tak percaya bisa muncul di wajahnya, menjadi akhir paling tragis.

Kanvasnya selalu terlalu cepat kehilangan warna.

“Hentikan. Aku tak mau lagi.”

Oh, semesta.

Bahkan bukan aku yang meminta sebuah kanvas yang kosong. Aku tak pernah menginginkannya. Aku tak pernah berharap demikian. Doa-doa yang pernah melintas menyaksikan semuanya, mereka tahu.

Jadi, begitukah?

Kanvasnya kosong lagi.

Hei… kanvasnya sekarang jatuh.

Pecah.

Luntur.

Oh, semesta, mengapa?

Masanya… telah habis, ya?

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Ke Manakah Harapan?
Adinda Amalia
Novel
Gold
Posesif
Bentang Pustaka
Flash
Di Balik Kaca Mobil
Dhea FB
Skrip Film
Burung dan Awan
Eko Hartono
Flash
One Day
Azmi1410
Flash
Bronze
Mom's Precious Flower
Damia Nur Shafira
Novel
The Street Painter Girl's Dream
DAMAIZANNE
Flash
RUMAH BARU DI SURGA
DENI WIJAYA
Flash
Bronze
ES KRIM MINT CHOCO
AlifatulM
Flash
Bronze
Di Jalan Braga
B12
Flash
Hukuman Paling Berat
Yutanis
Flash
Anonim di Argo Parahyangan
Cheri Nanas
Flash
Bronze
Jam Tangan
AndikaP
Flash
REUNI
Rahma Pangestuti
Flash
Bronze
POV
B12
Rekomendasi
Flash
Ke Manakah Harapan?
Adinda Amalia
Flash
Akuarium Air Laut
Adinda Amalia
Cerpen
Restate
Adinda Amalia
Novel
Hearts to Venturer
Adinda Amalia
Novel
Tuan Lori
Adinda Amalia
Flash
Yang Selalu Memimpikan Bintang
Adinda Amalia
Cerpen
Re-decade
Adinda Amalia
Flash
Pieces of Hearts A
Adinda Amalia
Novel
Orca and The Flower Ice
Adinda Amalia
Novel
13 Bagian yang Hilang
Adinda Amalia
Cerpen
Firefly: A Fairy Tale
Adinda Amalia
Cerpen
Kelopak Merah
Adinda Amalia
Cerpen
One Time Whisper
Adinda Amalia
Novel
Sinkronisasi Jiwa
Adinda Amalia
Novel
Eternal Sanctuary: The Marionette
Adinda Amalia