Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Sandekala
1
Suka
9,728
Dibaca

Aku melihatnya.

Ada yang berjalan ke arahku. Langkahnya samar, menyatu dalam guratan malam. Namun, derap kakinya seakan mengetuk bumi, menggetarkan lantai yang kupijak. Sosoknya, entah apa, semakin membesar tanpa memperjelas rupa.

Bukkk! Tiba-tiba Ambu menarik kedua daun jendela dan merapatkannya dengan tergesa. "Ambu sudah sering bilang, jangan pernah membuka jendela pas mau maghrib, apalagi setelahnya," ujarnya, memakiku dengan suara terjaga, meski terdengar bergidik.

"Aaa... aku cuma buka sebentar," ucapku terkejut, dibarengi emosiku yang tersulut. "Dari dulu Ambu selalu melarang, tapi tidak pernah mengurai alasannya secara jelas."

Aku sekadar penasaran, ingin mengungkap rahasia yang diesembunyikan oleh pantangan itu. Selama lebih dari dua puluh tahun, aku kerap dihantui cerita-cerita yang kian tak masuk akal—semacam dongeng tak berujung yang hanya berani berbisik saat gelap. Salahkah jika sekarang aku menggugat gulita yang diwariskan oleh desa ini dari generasi ke generasi?

Ambu menatapku lama. Pandangannya tampak berat, seolah menyimpan luka dan cerita yang tak bisa dibagikan. Lalu, ia menarikku dari tepian jendela. Seketika itu juga, ketukan kasar berkobar bak bara yang meledak di dinding. Gaungnya mengguncang seisi rumah.

Nalarku masih meraba-raba, berusaha mencari penjelasan di balik kengerian ini. Ambu melintangkan kayu panjang di tengah jendela. Auman keras meronta-ronta dari luar. Napasku diburu ketakutan serta keingintahuan yang tinggi.

Ambu kemudian memejamkan mata. Mulutnya komat-kamit dengan raut kalut. Ia mengatakan bahwa yang tengah terjadi bukanlah perkara biasa. Bahaya besar tidak hanya mengintaiku, tetapi juga warga desa.

“Cukup, Ambu! Aku tidak mau terus bersembunyi seperti ini!” tegasku.

Aku menyentak tangan Ambu dan berlari menuju pintu. Jika aku yang membuat makhluk itu datang, maka aku yang harus mengakhirinya. Aku tidak peduli lagi pada rasa takut. Aku lebih muak hidup dalam kutukan yang tak pernah dijelaskan ini.

“Berhenti!” teriak Ambu.

Aku menoleh, tetapi tanganku sudah memutar gagang pintu. Ambu mengejar, mencoba menghalangiku.

“Tidak semua yang gaib harus dibuktikan keberadaannya,” ucap Ambu, mencengkeram tanganku dengan sangat kuat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Sandekala
Jasma Ryadi
Novel
Bronze
MARAKAYANGAN: Yang Tertolak Dua Dunia
Trippleju
Novel
Gold
They Call Me Psychopath
Mizan Publishing
Novel
Gold
Fantasteen: Lost and Found
Mizan Publishing
Novel
Gold
Fantasteen Scary: Daruma-San
Mizan Publishing
Flash
Pelukan Tanah Basah
Jasma Ryadi
Novel
Bronze
My Doll
SalsaShafa
Komik
Selamat Datang di Toko Batavia
Tri Agustinauli
Novel
Bronze
Sazadah Hitam
Paul Siem
Cerpen
Bronze
Azab untuk Satpam yang Mengikutiku
Nuel Lubis
Novel
Bulan Madu yang Tertunda
Innuri Sulamono
Flash
1025
Egi
Novel
Permainan Maut Warisan
M.G. Rosana
Novel
Gold
Ghost Dormitory in Cairo
Mizan Publishing
Skrip Film
RUWAT
Herman Siem
Rekomendasi
Flash
Sandekala
Jasma Ryadi
Flash
Pelukan Tanah Basah
Jasma Ryadi
Novel
Karantina
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Di Radio Sekolah
Jasma Ryadi
Flash
Warisan Keris
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Bukan Babi Ngepet
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Efisiensi
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Shift Tiga
Jasma Ryadi
Flash
Gerimis yang Percuma
Jasma Ryadi
Flash
Ikan adalah Luka
Jasma Ryadi
Flash
Mereka Bilang Aku Setan
Jasma Ryadi
Flash
Tuhan, Engkau di Langit yang Mana?
Jasma Ryadi
Flash
Sisa Rindu
Jasma Ryadi
Flash
Sepatu Basah
Jasma Ryadi
Flash
Satu Langkah Setelah Luka
Jasma Ryadi