Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Sandekala
1
Suka
9,460
Dibaca

Aku melihatnya.

Ada yang berjalan ke arahku. Langkahnya samar, menyatu dalam guratan malam. Namun, derap kakinya seakan mengetuk bumi, menggetarkan lantai yang kupijak. Sosoknya, entah apa, semakin membesar tanpa memperjelas rupa.

Bukkk! Tiba-tiba Ambu menarik kedua daun jendela dan merapatkannya dengan tergesa. "Ambu sudah sering bilang, jangan pernah membuka jendela pas mau maghrib, apalagi setelahnya," ujarnya, memakiku dengan suara terjaga, meski terdengar bergidik.

"Aaa... aku cuma buka sebentar," ucapku terkejut, dibarengi emosiku yang tersulut. "Dari dulu Ambu selalu melarang, tapi tidak pernah mengurai alasannya secara jelas."

Aku sekadar penasaran, ingin mengungkap rahasia yang diesembunyikan oleh pantangan itu. Selama lebih dari dua puluh tahun, aku kerap dihantui cerita-cerita yang kian tak masuk akal—semacam dongeng tak berujung yang hanya berani berbisik saat gelap. Salahkah jika sekarang aku menggugat gulita yang diwariskan oleh desa ini dari generasi ke generasi?

Ambu menatapku lama. Pandangannya tampak berat, seolah menyimpan luka dan cerita yang tak bisa dibagikan. Lalu, ia menarikku dari tepian jendela. Seketika itu juga, ketukan kasar berkobar bak bara yang meledak di dinding. Gaungnya mengguncang seisi rumah.

Nalarku masih meraba-raba, berusaha mencari penjelasan di balik kengerian ini. Ambu melintangkan kayu panjang di tengah jendela. Auman keras meronta-ronta dari luar. Napasku diburu ketakutan serta keingintahuan yang tinggi.

Ambu kemudian memejamkan mata. Mulutnya komat-kamit dengan raut kalut. Ia mengatakan bahwa yang tengah terjadi bukanlah perkara biasa. Bahaya besar tidak hanya mengintaiku, tetapi juga warga desa.

“Cukup, Ambu! Aku tidak mau terus bersembunyi seperti ini!” tegasku.

Aku menyentak tangan Ambu dan berlari menuju pintu. Jika aku yang membuat makhluk itu datang, maka aku yang harus mengakhirinya. Aku tidak peduli lagi pada rasa takut. Aku lebih muak hidup dalam kutukan yang tak pernah dijelaskan ini.

“Berhenti!” teriak Ambu.

Aku menoleh, tetapi tanganku sudah memutar gagang pintu. Ambu mengejar, mencoba menghalangiku.

“Tidak semua yang gaib harus dibuktikan keberadaannya,” ucap Ambu, mencengkeram tanganku dengan sangat kuat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Sandekala
Jasma Ryadi
Flash
Malaikat Maut
Ahmad R. Madani
Novel
Fright and Fear
Roy Rolland
Skrip Film
MANEKIN
Dianikramer
Novel
Lagu Pengantar Tidur Mayat
Hideyo Sakura
Novel
Gold
Fantasteen Scary: Daruma-San
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Rumah Seribu Jendela
Randy Arya
Novel
Gold
Spooky Stories: Haunted School
Noura Publishing
Flash
Fever
Rama Sudeta A
Flash
Bronze
Penghuni Jembatan
Tini Ubadipura
Flash
satan's care
Raja Alam Semesta
Novel
Shafa & Kuntilanak Jahil
Putri Utama
Flash
Bronze
Noni Menanti Tahun Berganti
Silvarani
Flash
Tengah Hari
Springkel9
Flash
Bronze
Diperbudak
Omius
Rekomendasi
Flash
Sandekala
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Menjadi Umbi-Umbian?
Jasma Ryadi
Novel
Karantina
Jasma Ryadi
Flash
Satu Langkah Setelah Luka
Jasma Ryadi
Flash
Semangkuk Bakso
Jasma Ryadi
Flash
Dekapan yang Hilang
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Bukan Babi Ngepet
Jasma Ryadi
Flash
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
Jasma Ryadi
Flash
Badut Biru
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Dunia Tanpa Hukum
Jasma Ryadi
Flash
Sisa Rindu
Jasma Ryadi
Flash
Datang
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Berbagi Rumah
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Setelah Malin Menjadi Batu: Doa Uni Salamah
Jasma Ryadi
Flash
Gema yang Redup
Jasma Ryadi