Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Sandekala
1
Suka
10,095
Dibaca

Aku melihatnya.

Ada yang berjalan ke arahku. Langkahnya samar, menyatu dalam guratan malam. Namun, derap kakinya seakan mengetuk bumi, menggetarkan lantai yang kupijak. Sosoknya, entah apa, semakin membesar tanpa memperjelas rupa.

Bukkk! Tiba-tiba Ambu menarik kedua daun jendela dan merapatkannya dengan tergesa. "Ambu sudah sering bilang, jangan pernah membuka jendela pas mau maghrib, apalagi setelahnya," ujarnya, memakiku dengan suara terjaga, meski terdengar bergidik.

"Aaa... aku cuma buka sebentar," ucapku terkejut, dibarengi emosiku yang tersulut. "Dari dulu Ambu selalu melarang, tapi tidak pernah mengurai alasannya secara jelas."

Aku sekadar penasaran, ingin mengungkap rahasia yang diesembunyikan oleh pantangan itu. Selama lebih dari dua puluh tahun, aku kerap dihantui cerita-cerita yang kian tak masuk akal—semacam dongeng tak berujung yang hanya berani berbisik saat gelap. Salahkah jika sekarang aku menggugat gulita yang diwariskan oleh desa ini dari generasi ke generasi?

Ambu menatapku lama. Pandangannya tampak berat, seolah menyimpan luka dan cerita yang tak bisa dibagikan. Lalu, ia menarikku dari tepian jendela. Seketika itu juga, ketukan kasar berkobar bak bara yang meledak di dinding. Gaungnya mengguncang seisi rumah.

Nalarku masih meraba-raba, berusaha mencari penjelasan di balik kengerian ini. Ambu melintangkan kayu panjang di tengah jendela. Auman keras meronta-ronta dari luar. Napasku diburu ketakutan serta keingintahuan yang tinggi.

Ambu kemudian memejamkan mata. Mulutnya komat-kamit dengan raut kalut. Ia mengatakan bahwa yang tengah terjadi bukanlah perkara biasa. Bahaya besar tidak hanya mengintaiku, tetapi juga warga desa.

“Cukup, Ambu! Aku tidak mau terus bersembunyi seperti ini!” tegasku.

Aku menyentak tangan Ambu dan berlari menuju pintu. Jika aku yang membuat makhluk itu datang, maka aku yang harus mengakhirinya. Aku tidak peduli lagi pada rasa takut. Aku lebih muak hidup dalam kutukan yang tak pernah dijelaskan ini.

“Berhenti!” teriak Ambu.

Aku menoleh, tetapi tanganku sudah memutar gagang pintu. Ambu mengejar, mencoba menghalangiku.

“Tidak semua yang gaib harus dibuktikan keberadaannya,” ucap Ambu, mencengkeram tanganku dengan sangat kuat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Sandekala
Jasma Ryadi
Flash
Bronze
Petuah Nenek
Alfian N. Budiarto
Cerpen
Bronze
Iblis dan Tom Walker Washington Irving penerjemah : Ahmad muhaimin
Ahmad Muhaimin
Flash
Bronze
Indri dan Musiknya
Rere Valencia
Skrip Film
NUN MATI
Herman Siem
Flash
Bronze
Nenek Tua Mengerikan
Nisa
Flash
Siapa Disana?
D.Agustin
Novel
ANTARCHAYA
mahes.varaa
Novel
VAMANA
Hazsef
Novel
Gold
The Ho[S]tel 2
Bentang Pustaka
Flash
Gagal
Dark Specialist
Novel
YEH HOSNLE
Starlightvv
Skrip Film
Rumahku diatas tanah kutukan
Queen
Novel
Gold
AGNOSIA
Mizan Publishing
Flash
Ghostwriter
Retno Utama
Rekomendasi
Flash
Sandekala
Jasma Ryadi
Flash
Badut Biru
Jasma Ryadi
Novel
Bronze
Mereka di Sini
Jasma Ryadi
Flash
Jadikan Aku Selingkuhanmu
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Rasa yang Tak Bisa Kembali
Jasma Ryadi
Flash
Jejak
Jasma Ryadi
Flash
Republik Kucing
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Ketika Milo Mati
Jasma Ryadi
Flash
Aku dan Sebatang Rokok di Tangannya
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Andai Ayah Tak Begitu
Jasma Ryadi
Flash
Surat Untukmu Dariku
Jasma Ryadi
Cerpen
Silsilah Para Penambal
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Setelah Malin Menjadi Batu: Hasnah dan Debur Ombak
Jasma Ryadi
Flash
Pelukan Tanah Basah
Jasma Ryadi
Flash
Kamar 304
Jasma Ryadi