Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Sandekala
1
Suka
10,758
Dibaca

Aku melihatnya.

Ada yang berjalan ke arahku. Langkahnya samar, menyatu dalam guratan malam. Namun, derap kakinya seakan mengetuk bumi, menggetarkan lantai yang kupijak. Sosoknya, entah apa, semakin membesar tanpa memperjelas rupa.

Bukkk! Tiba-tiba Ambu menarik kedua daun jendela dan merapatkannya dengan tergesa. "Ambu sudah sering bilang, jangan pernah membuka jendela pas mau maghrib, apalagi setelahnya," ujarnya, memakiku dengan suara terjaga, meski terdengar bergidik.

"Aaa... aku cuma buka sebentar," ucapku terkejut, dibarengi emosiku yang tersulut. "Dari dulu Ambu selalu melarang, tapi tidak pernah mengurai alasannya secara jelas."

Aku sekadar penasaran, ingin mengungkap rahasia yang diesembunyikan oleh pantangan itu. Selama lebih dari dua puluh tahun, aku kerap dihantui cerita-cerita yang kian tak masuk akal—semacam dongeng tak berujung yang hanya berani berbisik saat gelap. Salahkah jika sekarang aku menggugat gulita yang diwariskan oleh desa ini dari generasi ke generasi?

Ambu menatapku lama. Pandangannya tampak berat, seolah menyimpan luka dan cerita yang tak bisa dibagikan. Lalu, ia menarikku dari tepian jendela. Seketika itu juga, ketukan kasar berkobar bak bara yang meledak di dinding. Gaungnya mengguncang seisi rumah.

Nalarku masih meraba-raba, berusaha mencari penjelasan di balik kengerian ini. Ambu melintangkan kayu panjang di tengah jendela. Auman keras meronta-ronta dari luar. Napasku diburu ketakutan serta keingintahuan yang tinggi.

Ambu kemudian memejamkan mata. Mulutnya komat-kamit dengan raut kalut. Ia mengatakan bahwa yang tengah terjadi bukanlah perkara biasa. Bahaya besar tidak hanya mengintaiku, tetapi juga warga desa.

“Cukup, Ambu! Aku tidak mau terus bersembunyi seperti ini!” tegasku.

Aku menyentak tangan Ambu dan berlari menuju pintu. Jika aku yang membuat makhluk itu datang, maka aku yang harus mengakhirinya. Aku tidak peduli lagi pada rasa takut. Aku lebih muak hidup dalam kutukan yang tak pernah dijelaskan ini.

“Berhenti!” teriak Ambu.

Aku menoleh, tetapi tanganku sudah memutar gagang pintu. Ambu mengejar, mencoba menghalangiku.

“Tidak semua yang gaib harus dibuktikan keberadaannya,” ucap Ambu, mencengkeram tanganku dengan sangat kuat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Sandekala
Jasma Ryadi
Flash
Bronze
judul
Udang laut
Skrip Film
R. 508
Kinanti Atmarandy
Cerpen
Bilasan Terakhir.
P12
Flash
Bronze
Studio 3
Afri Meldam
Flash
Foto
aleu
Cerpen
Bronze
Loloh dari Truyan
gungkeris
Novel
Parasomnia
Alfian N. Budiarto
Novel
Bronze
DOSA
Ahmad Rusdy
Flash
Bronze
Horor
Rere Valencia
Flash
Gadis di Dalam Cermin
Irma Susanti Irsyadi
Flash
Bronze
Rencana Besar
Carolina Ratri
Flash
GOSIP MISTIS
Sarjana MIPA
Flash
Tatapan
Ariq Ramadhan Nugraha
Cerpen
Bronze
KETINDIHAN
Nisa
Rekomendasi
Flash
Sandekala
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Gamophobia
Jasma Ryadi
Flash
Mengapa Aku Belum Mati?
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Mereka Bilang Aku Durhaka
Jasma Ryadi
Flash
Pukul 01:10
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Mana Paket Saya?
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Ketika Kata-Kata Kembali
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Penelitian di Dimensi Lain
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Inang
Jasma Ryadi
Flash
Dahlia
Jasma Ryadi
Flash
Teras
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Firasat Mimpi
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Data dan Mereka
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Giant's Heart
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Adam
Jasma Ryadi