Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Sandekala
1
Suka
11,916
Dibaca

Aku melihatnya.

Ada yang berjalan ke arahku. Langkahnya samar, menyatu dalam guratan malam. Namun, derap kakinya seakan mengetuk bumi, menggetarkan lantai yang kupijak. Sosoknya, entah apa, semakin membesar tanpa memperjelas rupa.

Bukkk! Tiba-tiba Ambu menarik kedua daun jendela dan merapatkannya dengan tergesa. "Ambu sudah sering bilang, jangan pernah membuka jendela pas mau maghrib, apalagi setelahnya," ujarnya, memakiku dengan suara terjaga, meski terdengar bergidik.

"Aaa... aku cuma buka sebentar," ucapku terkejut, dibarengi emosiku yang tersulut. "Dari dulu Ambu selalu melarang, tapi tidak pernah mengurai alasannya secara jelas."

Aku sekadar penasaran, ingin mengungkap rahasia yang diesembunyikan oleh pantangan itu. Selama lebih dari dua puluh tahun, aku kerap dihantui cerita-cerita yang kian tak masuk akal—semacam dongeng tak berujung yang hanya berani berbisik saat gelap. Salahkah jika sekarang aku menggugat gulita yang diwariskan oleh desa ini dari generasi ke generasi?

Ambu menatapku lama. Pandangannya tampak berat, seolah menyimpan luka dan cerita yang tak bisa dibagikan. Lalu, ia menarikku dari tepian jendela. Seketika itu juga, ketukan kasar berkobar bak bara yang meledak di dinding. Gaungnya mengguncang seisi rumah.

Nalarku masih meraba-raba, berusaha mencari penjelasan di balik kengerian ini. Ambu melintangkan kayu panjang di tengah jendela. Auman keras meronta-ronta dari luar. Napasku diburu ketakutan serta keingintahuan yang tinggi.

Ambu kemudian memejamkan mata. Mulutnya komat-kamit dengan raut kalut. Ia mengatakan bahwa yang tengah terjadi bukanlah perkara biasa. Bahaya besar tidak hanya mengintaiku, tetapi juga warga desa.

“Cukup, Ambu! Aku tidak mau terus bersembunyi seperti ini!” tegasku.

Aku menyentak tangan Ambu dan berlari menuju pintu. Jika aku yang membuat makhluk itu datang, maka aku yang harus mengakhirinya. Aku tidak peduli lagi pada rasa takut. Aku lebih muak hidup dalam kutukan yang tak pernah dijelaskan ini.

“Berhenti!” teriak Ambu.

Aku menoleh, tetapi tanganku sudah memutar gagang pintu. Ambu mengejar, mencoba menghalangiku.

“Tidak semua yang gaib harus dibuktikan keberadaannya,” ucap Ambu, mencengkeram tanganku dengan sangat kuat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Sandekala
Jasma Ryadi
Flash
Wajah-wajah Sang Aktor
Ravistara
Novel
Gold
Fantasteen: Kuchisake
Mizan Publishing
Flash
Makam Keluarga
Ahmad R. Madani
Novel
FRIENDS!
Emma N.N
Novel
Senandung Rumah Tua
riwidy
Novel
NUMPANG HIDUP
Indra S Miraj
Cerpen
PEMBELI TERAKHIR
Freya
Cerpen
Lorong yang Menganga
Aulia umi halafah
Cerpen
Bronze
Terkutuk
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pak Suryo
Christian Shonda Benyamin
Novel
Bronze
Break My Loneliness
nur aeni
Cerpen
Bronze
Indigo
Christian Shonda Benyamin
Novel
Erau: Festival untuk yang Hidup dan Mati"
Muhammad Agra Pratama Putra
Novel
DENTING
Denting Project
Rekomendasi
Flash
Sandekala
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Unfinished Business
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Setan-Setan dalam Rumah
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Kota Kosong
Jasma Ryadi
Flash
Dekapan yang Hilang
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Tidak Menikah?
Jasma Ryadi
Flash
Maaf, Aku Lelah
Jasma Ryadi
Flash
Pukul 01:10
Jasma Ryadi
Flash
Rumah Tanpa Isinya
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Tanganku di Timur, Hatimu di Barat
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Izinkan Aku Menginap Semalam
Jasma Ryadi
Flash
Dahlia
Jasma Ryadi
Flash
Mengapa Harus Ada Cinta dalam Pernikahan
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Menjadi Umbi-Umbian?
Jasma Ryadi
Flash
Layangan di Langit Hitam
Jasma Ryadi