Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Thriller
Circle
0
Suka
1,208
Dibaca

Karena aku tidak sedang berada dalam kondisi yang baik untuk berinteraksi dengan manusia, aku ingin menghindari manusia. Aku pun berusaha menghindari diriku sendiri. Tapi sulit sekali untuk tidak bertemu dengan diriku sendiri. Terutama saat aku melihat tanganku sendiri. Ia terlihat begitu manusiawi. Bisa memukulku atau merampas apa yang seharusnya menjadi milikku dengan begitu mudah. Aku membenci tangan ini, jadi aku memotongnya. Dimulai dari tangan kiri dan sekarang aku kebingungan untuk memotong tangan kanan. Apalagi rasa sakitnya begitu luar biasa. Ngilu. Kupikir aku akan mati. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah setelah mati aku tidak akan bertemu diriku lagi? Kalau masih bertemu, itu akan buruk sekali.

Kapan aku bisa tidak bertemu diriku sendiri?

Sayang sekali Tuhan senang mempermainkan kita. Semakin tidak kita inginkan, semakin terang kedatangan hal itu. Semakin kita inginkan, justru semakin jauh hal itu. Menyebalkan sekali. Atau justru, hal itu terasa begitu dekat karena tidak kita inginkan dan hal itu terasa begitu jauh karena kita inginkan. Masalah perspektif.

Aku menatap kebencian yang berdiri di pojok kamar, kebingungan menatap darah yang sudah menggenang di lantai kamarku. “Aku tidak menginginkan darah ini.”

Seseorang mengetuk pintu.

“Oh, selamat datang, Kematian. Kebencian ada di sana.”

“Aku hanya berkunjung. Singgah sebentar.” Kematian masuk. Meraih gelas susu sisa semalam yang belum habis. Menenggaknya sampai habis.

Sambil meringis kesakitan, aku menatap tingkah Kematian.

Kematian meletakkan kembali gelas kaca itu ke atas meja, lalu berjalan ke pojok ruangan. “Hai, teman,” ucapnya ramah sambil mengulurkan tangan pada kebencian.

Kebencian menerima uluran tangan itu sambil berkata sinis, “kita bukan teman.”

Aku menatap mereka berdua yang berbincang cukup akrab. Meski Kebencian terus melontarkan kalimat-kalimat yang menyakiti hati, namun Kematian terlihat tidak masalah. Memang Kematian sangat ramah. Ia mudah menerima siapa saja untuk menjadi temannya.

Oh, tidak. Aku merasa pusing. Pandanganku mulai kabur. Aku ambruk. Kebencian dan kematian mengabaikanku. Sementara di bawah bingkai pintu Rasa Sakit berdiri menatapku. Tersenyum. “Aku akan menyelamatkanmu,” katanya.

Kumohon, berhenti menyiksaku.

Aku kehilangan kesadaran.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Flash
Circle
Fatimah Ar-Rahma
Cerpen
Bronze
Setengah Jam Sebelum Fajar
RaaRion.
Novel
Akhir Dimana Semuanya Bermula
Lyla Iswara
Novel
Gold
The Castle of The Carpathians
Mizan Publishing
Novel
Deathskull
Rama Sudeta A
Novel
Bronze
True Colour
Yudith Maretha
Novel
Bronze
Dormitory Tales : A Love Story
Nisa
Novel
99 Ways To Ruin My Life (Feat. a Buron)
amelia
Novel
Mencari Kucing Dio
Nur Afriyanti
Skrip Film
TraumatiQ
Mahfrizha Kifani
Skrip Film
I'M NORMAL (script)
Sera Summer
Novel
MANTRA MERAH
Gusty Ayu Puspagathy
Flash
FINDING MICHAEL
Safinatun naja
Novel
Bronze
Alloohu Akbaru
Hermawan
Skrip Film
Pusara Perahu
Mochammad Eko Priambudi
Rekomendasi
Flash
Circle
Fatimah Ar-Rahma
Flash
Jam Pelajaran
Fatimah Ar-Rahma
Flash
Bronze
Catatan Jumat Pagi
Fatimah Ar-Rahma
Flash
Suasana Pedesaan
Fatimah Ar-Rahma
Flash
Bronze
Perjalanan Menuju Kampung Halaman
Fatimah Ar-Rahma
Flash
Danau
Fatimah Ar-Rahma
Flash
Percakapan Dua Ikan Kecil
Fatimah Ar-Rahma
Cerpen
Bronze
Perjalanan
Fatimah Ar-Rahma
Flash
Bronze
Pikiran yang Penuh
Fatimah Ar-Rahma
Flash
Maghrib
Fatimah Ar-Rahma
Flash
Bronze
Kucing Kelas
Fatimah Ar-Rahma
Flash
Bronze
Biskuit Kelapa
Fatimah Ar-Rahma
Flash
Bronze
Takluk
Fatimah Ar-Rahma
Flash
Pada Suatu Pagi
Fatimah Ar-Rahma
Cerpen
Rutinitas
Fatimah Ar-Rahma