Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Lagu Persahabatan
5
Suka
21,647
Dibaca

Sebentar lagi, kami akan lulus SD. Kami takkan bertemu lagi, karena berada di SMP yang berbeda. Maka dari itu, sebelum pengumuman kelulusan, kami berencana membuat lagu perpisahan.

“Kita bikin lagu versi kita sendiri, nggak boleh menjiplak,” usul Velincia.

“Betul. Kita harus punya ciri khas dan karakteristik lagu sendiri. Berpura-puralah ini adalah band, tapi nggak ada yang main musik, hahaha,” seperti biasa, Zamora memulai leluconnya.

“Oh, iya, yang pinter bikin lagu, kan, Kirana. Kita suruh dia aja bikin lagu, terus kita diskusikan gimana nadanya,” usul Zeline.

“Haah? A-aku?” tanyaku setengah kaget.

“Betul. Gimana, setuju, nggak?” tanya Zeline.

Velincia dan Zamora mengacungkan jempol. Aku akhirnya menyetujui meskipun terpaksa.

“Kita kasih waktu berapa, ya?” Zeline berpikir-pikir.

“Jangan cepet-cepet amat, loh, ya, guys. Dipikir, bikin lagu itu semudah membalik telapak tangan?” aku menunggu jawaban mereka.

“Tiga hari saja!” teriak Velincia.

“Tiga hari? Emang cukup? Cukup aja buat kamu, Vel. Buat seorang Kirana, bikin lagu selama tiga hari itu nggak cukup!” aku membantah.

“Seminggu ajalah. Gimana?” usul Zamora.

“Nah, yang ini oke buat aku,” kataku.

Baik Zeline maupun Velincia tidak keberatan. Aku diberi waktu satu minggu untuk menulis judul dan memikirkan lirik lagunya.

***

Di rumah, aku mondar-mandir saking bingungnya dengan lagu apa yang harus kubuat. Aku berusaha agar tidak mencontek lirik-lirik lagu dari artis terkenal. Bahkan, aku berusaha bertanya ke Meta AI, namun hasilnya malah tidak memuaskan.

Mendadak, aku punya ide. Aku menelepon teman-temanku satu per satu, untuk meminta satu kata.

“Satu kata buat laguku,” kataku saat menelepon Zamora.

“Bunga,” jawab Zamora.

“Satu kata buat laguku,” kataku saat menelepon Zeline.

“Jiwa,” jawab Zeline.

“Satu kata buat laguku,” kataku saat menelepon Velincia.

“Pelukan,” jawab Velincia.

Usai mengumpulkan tiga kata, aku berpikir lama di kamarku. Tiba-tiba, aku tersenyum. Tanganku bergerak lincah menuliskan lirik lagu yang kubuat.

***

Seminggu telah berlalu. Di sekolah, aku bertemu dengan Zamora, Zeline, dan juga Velincia.

“Nah, mana lagunya, Kir?” tanya Velincia.

Kuserahkan kertas berisi lirik lagu yang telah kukarang selama seminggu ini. Kubiarkan ketiga temanku membacanya dan mencoba menyanyikannya.

Renungkan hatimu

Renungkan dirimu

Kau mungkin bahagia

karena tlah lulus

 

Bagaimana dengan sahabatmu?

Kau lupakan mereka begitu saja

Kau lupakan jasa mereka

yang tlah menemanimu di sini

 

Biarpun aku tlah lulus

takkan kulupakan sahabatku sendiri

Dialah bunga yang selalu mekar

Di saat aku butuh

Cobalah tuk kenang dirinya

Jangan simpan saja dalam kertas

Mereka kan juga rindukanmu

Berilah maaf atas salahnya

 

Peristiwa itu tlah berputar di otakku

Ku teringat bagaimana pelukanmu

Senyummu

Saat kita bertemu

Jangan coba lupakan sahabatmu, wahai kawan

Merekalah yang duduk di sampingmu

Saat kau sedih

Merekalah yang mendukungmu

Saat kau senang

Cobalah senangkan hatinya

sebelum perpisahan ini

 

Biarpun aku tlah lulus

takkan kulupakan sahabatku sendiri

Dialah bunga yang selalu mekar

Di saat aku butuh

Cobalah tuk kenang dirinya

Jangan simpan saja dalam kertas

Mereka kan juga rindukanmu

Berilah maaf atas salahnya

 

(Oh, oh, oh, oh, jangan lupakan sahabatmu sendiri)

 

Aku takkan lupakan dirimu (oooooh)

Meskipun kau lupa, aku takkan lupa (takkan lupa)

Dirimu tlah lekat dalam diriku (oh ya)

Jiwamu tlah rasuki jiwaku

Sahabat selamanya (oh, oh, oh)

 

“Sumpah, lagu ini bagus banget, Kir,” puji Velincia, “beneran. Tanpa musik pun kita bisa. Gimana yang lain?”

“Ini… wah, kamu dapet kata-katanya dari mana, Kir? Baca liriknya aja aku udah mau nangis, nih. Ini akan jadi lagu perpisahan yang hebat,” kata Zeline.

“Betul. Ini khas karya Kirana. Pakai kata-kata pendek, tapi mengena. Eh, yang bagian ‘Peristiwa itu’ itu kalau nggak salah itu namanya rap, ya?” tanya Zamora.

 “Yap. Itu khusus buat aku, karena aku suka nge-rap. Gimana, gimana, setuju, nggak, sama lagunya?” aku bertanya girang.

Semuanya setuju. Kami sepakat untuk berdiskusi soal nadanya dan juga menyanyikannya di depan kelas.

Kalau menurut teman-teman pembaca, kira-kira lagunya oke, nggak, ya?

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Skrip Film
Spesimen Tanpa Wajah
Kinanthi (Nanik W)
Flash
Lagu Persahabatan
Kiara Hanifa Anindya
Cerpen
Bronze
Kabayan; Harmonisasi sosial
Moch Agni Nuryahya
Cerpen
Bronze
Bingkai Tak Berujung
Jasma Ryadi
Novel
Bronze
KELINDAN
Hilda KiandraAesha
Novel
444 km
Gya Daneo
Novel
Balada Mahasiswa: FRNDS
Gie Salindri
Flash
Betina Bodoh
Donquixote
Skrip Film
KOMPLEKSITAS
Albert Stefanus
Skrip Film
BALIK
Alfian N. Budiarto
Flash
Pertemuan
Ika nurpitasari
Novel
Ditengah Jalan
Sepi Sunyi
Novel
The Anonymous Message
Erika Hasan
Flash
Bronze
Sentrifugal dan Sentripetal Keimanan
Silvarani
Skrip Film
Rawon Rowena
revin palung
Rekomendasi
Flash
Lagu Persahabatan
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Karyawan yang Malas Membaca
Kiara Hanifa Anindya
Flash
2025 dan 2026
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Sebuah Gambar dan Sebuah Puisi Untuk Tahun Baru
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Bronze
Pak Guru Says!
Kiara Hanifa Anindya
Cerpen
Lawakan Geri
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Daging yang Menitipkan Rasa
Kiara Hanifa Anindya
Cerpen
Bronze
Trend
Kiara Hanifa Anindya
Cerpen
Seandainya Hujan Tahu Apa Keinginanku
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Bronze
2024 dan 2025
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Bullying
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Isi Bekal Amel
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Ceroboh
Kiara Hanifa Anindya
Cerpen
Bronze
Penulis Cilik
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Cerdas Cermat
Kiara Hanifa Anindya