Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Lagu Persahabatan
5
Suka
22,263
Dibaca

Sebentar lagi, kami akan lulus SD. Kami takkan bertemu lagi, karena berada di SMP yang berbeda. Maka dari itu, sebelum pengumuman kelulusan, kami berencana membuat lagu perpisahan.

“Kita bikin lagu versi kita sendiri, nggak boleh menjiplak,” usul Velincia.

“Betul. Kita harus punya ciri khas dan karakteristik lagu sendiri. Berpura-puralah ini adalah band, tapi nggak ada yang main musik, hahaha,” seperti biasa, Zamora memulai leluconnya.

“Oh, iya, yang pinter bikin lagu, kan, Kirana. Kita suruh dia aja bikin lagu, terus kita diskusikan gimana nadanya,” usul Zeline.

“Haah? A-aku?” tanyaku setengah kaget.

“Betul. Gimana, setuju, nggak?” tanya Zeline.

Velincia dan Zamora mengacungkan jempol. Aku akhirnya menyetujui meskipun terpaksa.

“Kita kasih waktu berapa, ya?” Zeline berpikir-pikir.

“Jangan cepet-cepet amat, loh, ya, guys. Dipikir, bikin lagu itu semudah membalik telapak tangan?” aku menunggu jawaban mereka.

“Tiga hari saja!” teriak Velincia.

“Tiga hari? Emang cukup? Cukup aja buat kamu, Vel. Buat seorang Kirana, bikin lagu selama tiga hari itu nggak cukup!” aku membantah.

“Seminggu ajalah. Gimana?” usul Zamora.

“Nah, yang ini oke buat aku,” kataku.

Baik Zeline maupun Velincia tidak keberatan. Aku diberi waktu satu minggu untuk menulis judul dan memikirkan lirik lagunya.

***

Di rumah, aku mondar-mandir saking bingungnya dengan lagu apa yang harus kubuat. Aku berusaha agar tidak mencontek lirik-lirik lagu dari artis terkenal. Bahkan, aku berusaha bertanya ke Meta AI, namun hasilnya malah tidak memuaskan.

Mendadak, aku punya ide. Aku menelepon teman-temanku satu per satu, untuk meminta satu kata.

“Satu kata buat laguku,” kataku saat menelepon Zamora.

“Bunga,” jawab Zamora.

“Satu kata buat laguku,” kataku saat menelepon Zeline.

“Jiwa,” jawab Zeline.

“Satu kata buat laguku,” kataku saat menelepon Velincia.

“Pelukan,” jawab Velincia.

Usai mengumpulkan tiga kata, aku berpikir lama di kamarku. Tiba-tiba, aku tersenyum. Tanganku bergerak lincah menuliskan lirik lagu yang kubuat.

***

Seminggu telah berlalu. Di sekolah, aku bertemu dengan Zamora, Zeline, dan juga Velincia.

“Nah, mana lagunya, Kir?” tanya Velincia.

Kuserahkan kertas berisi lirik lagu yang telah kukarang selama seminggu ini. Kubiarkan ketiga temanku membacanya dan mencoba menyanyikannya.

Renungkan hatimu

Renungkan dirimu

Kau mungkin bahagia

karena tlah lulus

 

Bagaimana dengan sahabatmu?

Kau lupakan mereka begitu saja

Kau lupakan jasa mereka

yang tlah menemanimu di sini

 

Biarpun aku tlah lulus

takkan kulupakan sahabatku sendiri

Dialah bunga yang selalu mekar

Di saat aku butuh

Cobalah tuk kenang dirinya

Jangan simpan saja dalam kertas

Mereka kan juga rindukanmu

Berilah maaf atas salahnya

 

Peristiwa itu tlah berputar di otakku

Ku teringat bagaimana pelukanmu

Senyummu

Saat kita bertemu

Jangan coba lupakan sahabatmu, wahai kawan

Merekalah yang duduk di sampingmu

Saat kau sedih

Merekalah yang mendukungmu

Saat kau senang

Cobalah senangkan hatinya

sebelum perpisahan ini

 

Biarpun aku tlah lulus

takkan kulupakan sahabatku sendiri

Dialah bunga yang selalu mekar

Di saat aku butuh

Cobalah tuk kenang dirinya

Jangan simpan saja dalam kertas

Mereka kan juga rindukanmu

Berilah maaf atas salahnya

 

(Oh, oh, oh, oh, jangan lupakan sahabatmu sendiri)

 

Aku takkan lupakan dirimu (oooooh)

Meskipun kau lupa, aku takkan lupa (takkan lupa)

Dirimu tlah lekat dalam diriku (oh ya)

Jiwamu tlah rasuki jiwaku

Sahabat selamanya (oh, oh, oh)

 

“Sumpah, lagu ini bagus banget, Kir,” puji Velincia, “beneran. Tanpa musik pun kita bisa. Gimana yang lain?”

“Ini… wah, kamu dapet kata-katanya dari mana, Kir? Baca liriknya aja aku udah mau nangis, nih. Ini akan jadi lagu perpisahan yang hebat,” kata Zeline.

“Betul. Ini khas karya Kirana. Pakai kata-kata pendek, tapi mengena. Eh, yang bagian ‘Peristiwa itu’ itu kalau nggak salah itu namanya rap, ya?” tanya Zamora.

 “Yap. Itu khusus buat aku, karena aku suka nge-rap. Gimana, gimana, setuju, nggak, sama lagunya?” aku bertanya girang.

Semuanya setuju. Kami sepakat untuk berdiskusi soal nadanya dan juga menyanyikannya di depan kelas.

Kalau menurut teman-teman pembaca, kira-kira lagunya oke, nggak, ya?

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Lagu Persahabatan
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Bulan ke-10
Jasma Ryadi
Novel
Bronze
Madu yang Beracun
Dara Kirana
Flash
Bronze
Number One
Aylanna N. Arcelia
Novel
Senandung Angin
rudy
Novel
Bronze
DI TITIK 8760
Dalilah Razan, Rauf Adila
Novel
Bronze
Tapak Kecil Gayatri
Rinmunchhhii
Novel
Klamer Adam
Sukron Tajudin
Novel
Berada dalam Waktu
Tania Sawa
Novel
Sejak 1965
Seto Yuma
Novel
Mbah
Nanas Nanas 🍎
Skrip Film
Nge-Band! 109
Yorandy Milan Soraga
Cerpen
Mendadak Vin Diesel
Braindito
Cerpen
Zulfikar
Ezra Jo
Novel
Taraka
Siska Ambar
Rekomendasi
Flash
Lagu Persahabatan
Kiara Hanifa Anindya
Novel
Even They Can Cry
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Secangkir Kopi untuk Kakek Husni
Kiara Hanifa Anindya
Novel
Bronze
The Veil of Forgotten Kings
Kiara Hanifa Anindya
Cerpen
Bronze
Penulis Cilik
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Peri Gigi Marah
Kiara Hanifa Anindya
Cerpen
Bronze
Gosip yang Terhenti
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Ceroboh
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Cerpen Rara
Kiara Hanifa Anindya
Novel
Mind vs. Machine
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Gadis Tunarungu
Kiara Hanifa Anindya
Cerpen
Bronze
Trend
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Belanja
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Ditakuti Anak-anak
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Rindu
Kiara Hanifa Anindya