Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Ketika Doa Tak Mengubah Takdir
7
Suka
22,028
Dibaca

Angin malam itu berbisik pilu, membawa kabar-kabar sedih yang tak berani kudengar. Rumah kami yang dulu selalu riuh dengan tawamu, kini sunyi. Hanya diisi oleh detak jam dinding dan desah napas yang berat.

Lalu, tiba-tiba, handphone ku berdering.

Sheilla, adik bungsuku yang kini sedang ganti berjaga di ruang ICU, kulihat ia menyandarkan handphone di sisi dengan wajahnya yang pucat diterangi lampu. Kamu ada di sana, Mama. Tersenyum lemah, matamu berbinar meski tubuhmu terjepit di antara selang-selang dan mesin-mesin yang terus berbunyi. "Ini jam besuk, Mama lagi pinjem hape Sheilla," katamu pelan, seolah itu alasan yang cukup untuk mengabaikan rasa sakitmu.

Suaramu pecah, terpotong oleh napas yang pendek. Tapi kau tetap berbicara tentang banyak hal. Tentang kami dan tentang cucu-cucumu yang kau rindukan.

Aku tak sanggup menjawab. Mulutku terkunci, tenggorokan ini mengeras menahan rintih. Hanya air mata yang lancar mengalir, membasahi pipi. Jari-jemariku gemetar menekan rekam. Aku tahu, ini mungkin terakhir kalinya aku mendengar suaramu yang hangat, yang selalu bisa menenangkan badai dalam dadaku.

Dan aku benar.

Kini, di kamarku yang gelap, aku memutar rekaman itu lagi dan lagi. Suaramu mengisi kehampaan, seolah kau masih di sini, masih bisa memelukku erat. Tapi setiap kali sampai pada pertanyaanmu yang terakhir, dadaku sesak seperti ditusuk ribuan pisau.

"Ta, Mama bakal sembuh, kan? Mama pengen panjang umur, Ta..."

Suaramu kecil, penuh keraguan, seperti anak kecil yang meminta kepastian sebelum tidur. Aku menggigit bibirku hingga tak sengaja berdarah, memaksakan kata-kata yang bahkan tak bisa kubohongi diriku sendiri.

"Ya, Ma. Mama pasti sembuh. Mama pasti panjang umur."

Tapi kita semua tahu, kita semua tahu, bahwa doa tak selalu mengubah takdir.

Hari ini, kami, anak-anakmu yang kau tinggalkan, berusaha memenuhi janji itu dengan cara kami. Kami menjawab pertanyaanmu melalui tawa anak-anak yang kami beri makan, dari tiap "aamiin" yang terucap dari orang-orang yang pernah kau tolong. Semua ini adalah detak jantungmu yang masih berdenyut di dunia. Kini, panjang umurmu bukan lagi hitungan detik, menit, dan tahun. Tiap doa yang kami panjatkan adalah hembusan napas yang tetap hidup untukmu.

Mama akan selalu ada di setiap bantuan kecil yang kami bagi kepada orang-orang yang Mama cintai. Mama akan selalu ada di setiap senyum anak yatim yang kami usap kepalanya. Mama ada di setiap kali kami berkumpul dan bercerita tentang kebaikan-kebaikanmu.

Insya Allah, Mama...

Kami masih mendengar suaramu.

Di setiap sunyi, di setiap rindu, di setiap kali kuucap "Mama" dengan suara yang gemetar.

Kau hidup.

Selamanya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
JELAGA
Novia Sakura
Flash
Ketika Doa Tak Mengubah Takdir
tita agnesti
Skrip Film
Before Tomorrow (SCRIPT)
Noor Cholis Hakim
Cerpen
Anak Kidal
Chie Kudo
Cerpen
Bronze
Sahabat Di Ujung Senja
lionelliang
Flash
Pulkam
Rahmatul Husni
Novel
Turiyan Runtuh (Bukan Durian Runtuh)
Ais Aisih
Flash
Motivasi
Nurai Husnayah
Cerpen
Bronze
Sepotong Senja untuk Dina
Hauradivaneira
Cerpen
Bronze
Polemik Tanpa Pamrih
Wachyudi
Skrip Film
Tentang Hidup
Indra Putra Riyanto
Skrip Film
Beauty And The Boss
Herlan Herdiana
Skrip Film
Pirau
Matrioska
Flash
Terserah kamu!
Tri Wulandari
Cerpen
Bronze
Sekolah di Tahun 1973
Ron Nee Soo
Rekomendasi
Flash
Ketika Doa Tak Mengubah Takdir
tita agnesti
Flash
Cerita hujan
tita agnesti
Flash
Kisruh di grup wali murid
tita agnesti
Flash
Catatan harian yang tidak pernah tertulis
tita agnesti
Flash
Monolog sunyi untuk mama
tita agnesti
Flash
Pahitnya lidah mertua, manis kasih sayangnya
tita agnesti
Flash
Ibu Rumah Tangga, Superhero Tanpa Jubah
tita agnesti