Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Komedi
Kampung Suka Salah
3
Suka
5,086
Dibaca

Di Kampung Suka Salah, semua orang selalu salah paham. Bukan karena bodoh, tapi karena... memang begitu tradisinya.

Pagi itu, Pak Lurah mengumumkan lewat pengeras suara dari balai desa:

> "Warga diharap berkumpul di lapangan jam delapan tepat untuk kerja bakti membersihkan kampung!"

Tapi yang terjadi? Jam delapan tepat, semua warga malah datang ke lapangan... membawa alat masak. Ibu-ibu sibuk membawa wajan, panci, ulekan, bahkan ada yang bawa blender. Pak RT sampai melongo.

"Ini kenapa malah kayak mau buka warung serentak?" keluhnya, menggaruk kepala.

Ibu Munah, yang terkenal paling cerewet, menjawab sambil mengibas sapu tangan, "Katanya kerja bakti, Pak! Bukankah kerja bakti itu... makan bersama?"

Pak RT hampir pingsan. Untung saja Pak RW cepat-cepat menenangkan. "Sudah, sudah. Mari kita mulai saja. Nanti kita cari tahu siapa yang salah ngomong."

Akhirnya kerja bakti tetap jalan... dengan alat-alat masak. Mereka membersihkan rumput pakai sendok sup, menyapu daun kering dengan saringan teh, bahkan ada yang iseng ngepel jalanan pakai loyang kue.

Malamnya, diadakan rapat darurat di rumah Pak Lurah. Semua warga hadir, termasuk Ujang, si anak muda yang terkenal paling usil sekampung. Di tengah rapat serius membahas kerja bakti yang gagal, Ujang malah nyeletuk:

"Aku usul, besok kita lomba balap karung sambil makan kerupuk... tapi yang kalah wajib mandi lumpur!"

Semua langsung heboh. Ibu-ibu tertawa sampai berkaca-kaca, bapak-bapak berdebat, dan para remaja malah langsung sibuk latihan tiarap.

Pak Lurah, dengan sabar luar biasa, mengangkat tangan. "Baiklah, besok lomba balap karung sambil makan kerupuk, tapi TIDAK ADA mandi lumpur. Ini kampung, bukan rawa-rawa!"

Semua setuju... atau seharusnya begitu.

---

Besoknya, lapangan desa sudah ramai. Ujang, tentu saja, menjadi ketua panitia. Ia membagikan karung, kerupuk, dan... ember berisi lumpur?

"Lho, ini buat apa?" tanya Pak RT, curiga.

"Tenang, Pak," jawab Ujang santai. "Ini cuma properti. Biar seru."

Begitu lomba dimulai, para peserta melompat-lompat dalam karung sambil berusaha menggigit kerupuk yang diikat setinggi leher. Seru? Jelas. Apalagi saat Bu Wati, yang baru saja ikut senam Zumba seminggu lalu, terlalu bersemangat dan malah berguling sambil bawa karung.

Sorak sorai menggema. Namun, ketika lomba berakhir, Ujang langsung berteriak, "Yang kalah, mandi lumpur sekarang juga!"

Tanpa aba-aba, anak-anak kecil menyerbu ember lumpur, mengambil segenggam, dan melemparkannya ke para bapak-bapak. Situasi kacau balau! Lumpur berterbangan ke mana-mana. Bahkan Pak Lurah, yang baru keluar dari mobil, kena tepat di jidat.

"HADUH! Ini siapa yang mulai?!" geram Pak Lurah, wajahnya seperti topeng tanah liat.

Melihat itu, semua orang... bukannya takut, malah tertawa terpingkal-pingkal.

---

Akhirnya, setelah membersihkan diri seadanya (lebih mirip memperparah kotoran), warga berkumpul lagi. Pak Lurah berdiri di atas kursi, mencoba berbicara tegas.

"Kita harus lebih disiplin! Mulai besok, tidak ada lagi yang salah paham. Setuju?"

"SETUJU!" jawab semua.

Lalu Pak Lurah melanjutkan, "Besok, jam enam pagi, kita akan senam bersama di lapangan!"

Keesokan harinya, jam enam pagi, warga sudah berkumpul... lengkap dengan baju adat. Ada yang pakai kebaya, ada yang pakai blangkon, ada juga yang membawa keris. Bahkan Ujang berdandan ala pendekar silat.

Pak Lurah sampai ternganga melihat pemandangan absurd itu.

"Apa-apaan ini?" serunya.

Pak RT menjelaskan polos, "Bukannya tadi Bapak bilang kita mau SENAM BUDAYA?"

Pak Lurah menghela napas panjang, hampir pasrah pada nasib kampungnya.

"Bukan SENAM BUDAYA! SENAM BIASA! Kayak di TV itu... yang joget-joget sehat!"

Tapi sudah terlanjur. Ibu-ibu sudah membentuk lingkaran, bapak-bapak menghunus keris mainan, dan Ujang sudah siap membuka "jurus angin ribut".

Mau tidak mau, akhirnya Pak Lurah ikutan. Hari itu, Kampung Suka Salah resmi mencetak rekor dunia: Senam Tradisional Tanpa Musik.

---

Sore harinya, di warung kopi Mang Dudung, warga ramai bergosip.

"Kalau kita terus begini," kata Bu Munah sambil menyeruput kopi, "nanti kampung kita terkenal!"

"Iya," sahut Pak RT, "terkenal... kampung paling ngawur di peta."

Semua tertawa lagi.

Ujang, yang duduk di sudut sambil mencoret-coret sesuatu di buku catatannya, diam-diam tersenyum. Di halaman bukunya tertulis:

> Rencana Besar: Hari Raya Kampung Suka Salah — Festival Salah Kostum Nasional.

Dan seperti biasa, di Kampung ini... salah bukan masalah, melainkan tradisi yang dijaga turun-temurun dengan tawa.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Komedi
Flash
Kampung Suka Salah
Penulis N
Flash
Bronze
Tak Bisa Memilih
Rere Valencia
Flash
KUE 1.. 2.. 3..
Kiki Isbianto
Flash
Bronze
HP Jatuh di WC
Risti Windri Pabendan
Cerpen
Cemburu
cahyo laras
Komik
Lelaki Koin
Ockto Baringbing
Cerpen
Bronze
Segelas Matcha di Siang Hari
Rizki Mubarok
Flash
AWAS ADA ORANG
Tirani K. C.
Cerpen
Bronze
Lestari Pedagang
Aviskha izzatun Noilufar
Cerpen
Me Vs Trio Mokondo Sok Kaya
cahyo laras
Cerpen
Tetangga Masa Elo?!
Venus
Cerpen
Bronze
Kevin
krkawuryan
Cerpen
Testosteron
raras
Flash
Truth or Dare
Noer Eka
Flash
Suara Misterius
Saifan Rahmatullah
Rekomendasi
Flash
Kampung Suka Salah
Penulis N
Flash
Suara dari Kamar 213
Penulis N
Cerpen
Warkop Sebelah
Penulis N
Flash
Langkah Kecil, Perubahan Besar
Penulis N
Cerpen
BAYANG-BAYANG DI BALIK JENDELA
Penulis N
Cerpen
Lorong ke Hari Rabu
Penulis N
Cerpen
Senja & Luka
Penulis N
Novel
Kanvas Hati
Penulis N
Flash
Kopi Terakhir di Stasiun 12
Penulis N
Novel
Veil of Roses
Penulis N
Flash
Selembar Tikar di Masjid Tua
Penulis N
Novel
Ruang Kosong di Meja Nomor 9
Penulis N
Cerpen
Dari Lelah Menuju Lega
Penulis N
Flash
LANGIT SETELAH HUJAN
Penulis N
Novel
Fading Heartbeats
Penulis N