Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Misteri
Suara dari Kamar 213
3
Suka
10,744
Dibaca

Kamar 213 sudah lama kosong.

Setidaknya itu yang diberitahukan oleh Pak Raji, penjaga penginapan tua di pinggiran kota Malang, saat Niko check-in untuk urusan kerja. Penginapan itu berlantai dua, bergaya kolonial, dengan dinding kayu yang sudah lapuk di beberapa sudut dan koridor panjang berbau kapur barus. Terlihat sepi, tapi entah kenapa, Niko justru menyukainya.

Ia menempati kamar 215, dua pintu dari kamar kosong itu.

Malam pertamanya berjalan biasa. Ia menyelesaikan laporan hingga larut, lalu tidur dengan tubuh lelah tanpa mimpi.

Namun, malam kedua—semuanya mulai aneh.

Sekitar pukul dua dini hari, ia terbangun karena mendengar suara ketukan dari arah lorong. Tok. Tok. Tok. Pelan, tapi teratur. Ia pikir mungkin hanya tamu lain. Tapi ketika ia membuka pintu, lorong itu kosong. Lampu temaram berkedip-kedip, dan angin sejuk meniup bau lembap ke wajahnya.

Ia mengunci pintu kembali.

Beberapa menit setelah ia berbaring, suara itu terdengar lagi. Kali ini dari sebelah kamarnya.

Dari kamar 213.

Niko berdiri, memandang dinding tipis yang memisahkan kamarnya dengan kamar itu. Lalu terdengar suara yang lebih aneh—gumaman lirih. Seperti seseorang sedang berbicara pada dirinya sendiri, berulang-ulang.

Ia coba mengabaikannya.

Namun suara itu terus datang. Setiap malam. Dan setiap kali ia mencoba mengetuk kamar itu atau memanggil—tak ada jawaban.

Akhirnya, pagi di hari keempat, Niko bertanya langsung pada Pak Raji.

“Pak, saya sering dengar suara dari kamar 213. Ada yang menempati, ya?”

Pak Raji berhenti menyapu. Wajahnya menegang sesaat, lalu berusaha tersenyum.

“Ah, enggak, Mas. Itu kamar lama. Udah nggak dipakai sejak... ya, lama lah.”

“Lalu kenapa saya denger suara orang tiap malam dari sana?”

Pak Raji terlihat ragu. Ia menurunkan sapu perlahan.

“Dulu, pernah ada tamu. Perempuan. Namanya Lela. Guru honorer yang nginap seminggu karena pelatihan. Ramah orangnya. Tapi malam terakhir sebelum pulang, dia... hilang.”

“Hilang?”

“Ngilang dari kamarnya. Barang-barangnya masih di sana. Dompet, ponsel, semuanya lengkap. Tapi orangnya nggak ada.”

Niko bergidik. “Dan sejak itu?”

“Kadang ada tamu ngeluh dengar suara. Tapi pas dicek, kosong. Makanya kamar itu dikunci sekarang.”

Niko mengangguk pelan, tapi pikirannya dipenuhi tanya. Ia tak percaya pada hantu. Tapi juga tak bisa menjelaskan suara-suara itu.

Malam kelima, ia memutuskan melakukan sesuatu yang bodoh.

Ia menunggu sampai pukul dua, lalu berdiri di depan kamar 213. Suara gumaman itu kembali terdengar—lebih jelas sekarang. Suara perempuan, mengulang kalimat yang sama berulang kali.

“Aku harus pulang. Aku harus pulang.”

Niko memeriksa gagang pintu. Terkunci.

Ia menempelkan telinga ke pintu. Jantungnya berdegup cepat.

“Aku harus pulang... Aku harus...”

Mendadak, suara itu berhenti.

Dan dari balik pintu, terdengar suara bisikan sangat dekat—seolah tepat di telinganya dari sisi lain.

“Buka pintunya.”

Niko melonjak mundur. Ia hampir berteriak, tapi menahan napas. Tubuhnya gemetar.

Ia kembali ke kamarnya. Tapi tak bisa tidur. Tidak malam itu. Tidak setelah suara itu.

Paginya, Niko mencari tahu lebih banyak. Ia bertanya pada warga sekitar, berkunjung ke warung kopi di ujung jalan, mengaku sebagai penulis yang sedang mencari inspirasi.

Salah satu pemilik warung, Mbah Lastri, akhirnya membuka suara.

“Lela itu anak baik. Tapi malang. Waktu itu, katanya dia dapat kabar dari rumah—ibunya sakit keras. Tengah malam, dia keluar nyari taksi. Tapi nggak pernah sampai ke rumahnya. Polisi juga nggak bisa lacak.”

“Jadi... dia pergi?”

“Katanya sih begitu. Tapi beberapa orang percaya dia masih di situ. Terperangkap. Entah bagaimana.”

Niko merasa ada sesuatu yang belum selesai. Sesuatu yang tak akan tenang sebelum ditemukan.

Malam keenam, ia membawa obeng kecil yang biasa ia pakai untuk memperbaiki laptop. Ia berdiri di depan kamar 213, dan dengan tangan gemetar, mulai membongkar kunci.

Klik.

Pintunya terbuka.

Ruangan itu gelap dan dingin. Jendela tertutup rapat, tirainya kusut, dan debu memenuhi udara. Tapi yang mengejutkan, kamar itu masih tertata rapi. Bahkan ada cangkir di meja dengan noda teh yang sudah mengering.

Di atas tempat tidur, ada koper kecil warna biru.

Dan di dinding, tergantung kartu nama bertuliskan: Lela Wulandari, S.Pd.

Niko melangkah perlahan. Ia membuka koper itu. Di dalamnya, pakaian lipat rapi, buku catatan, dan surat.

Surat itu belum tersegel. Hanya terlipat dua.

Isi surat:

Ayah, Ibu...

Aku dapat kabar dari tetangga kalau Ibu sakit. Aku sudah pesan tiket kereta, tapi entah kenapa aku takut. Aku merasa ada yang mengikutiku sejak kemarin. Di lorong. Di depan kamar. Aku tak berani keluar. Kalau kalian baca ini, maaf aku tak sempat pamit.

Lela.

Tiba-tiba, suara ketukan keras menggema dari belakang Niko.

Tok. Tok. Tok.

Ia menoleh cepat. Pintu kamar menutup sendiri.

Dari balik jendela, bayangan samar seorang perempuan berdiri menatapnya. Wajahnya pucat, mata kosong, dan bibirnya bergerak tanpa suara.

“Aku harus pulang,” gumam Niko, entah kenapa, mengikuti gumaman yang selama ini ia dengar.

Paginya, kamar itu kembali kosong.

Tapi kini, koper biru itu tak ada.

Dan kamar 213—untuk pertama kalinya dalam dua tahun—benar-benar sunyi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Flash
Suara dari Kamar 213
Penulis N
Cerpen
Bocah Merah (Mari bermain)
A.F Huda
Flash
Penghuni Baru (Part II)
Cassandra Reina
Novel
Bronze
Layang-Layang Putus Tak Pernah Salah
DMRamdhan
Cerpen
Bronze
PEREMPUAN LUKISAN
Arina Maulidia
Cerpen
Bronze
MARWAH MENARI DI ATAS BUNGA-BUNGA
Drs. Eriyadi Budiman (sesuai KTP)
Novel
Tahukah Anda...?
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Kerajaan di balik Kabut
nadya angelica
Novel
Stain Of Magic
Klised
Cerpen
Bronze
Mati Lampu
Ron Nee Soo
Cerpen
HARDARIYAM
Reveniella
Cerpen
Dunia Ihsan
Freya
Flash
Lembar-lembar Foto di Bangku Taman
Ryan Esa
Cerpen
Bronze
Pinjam Seratus
Heri Winarko
Cerpen
Bronze
Tragedi yang Indah
Adnan Fadhil
Rekomendasi
Flash
Suara dari Kamar 213
Penulis N
Flash
Pesan di Buku Ketiga
Penulis N
Flash
Rekaman Pukul 03.17
Penulis N
Flash
Kereta Terakhir Jalur Selatan
Penulis N
Flash
Kos-Kosan Paling Ramai Sedunia
Penulis N
Novel
Deadline dan Perasaan
Penulis N
Flash
Rumah yang Menunggu Pulang
Penulis N
Novel
Kanvas Hati
Penulis N
Flash
Satu Langkah Lebih Berani
Penulis N
Cerpen
Beranda Kecil
Penulis N
Flash
Bangku Nomor Tujuh
Penulis N
Flash
Pintu Ketiga Belas
Penulis N
Flash
Surat yang Tak Pernah Salah Alamat
Penulis N
Flash
Malam Terakhir di Benteng Kapuran
Penulis N
Flash
Penghuni Lantai Tiga
Penulis N