Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Ceroboh
8
Suka
26,457
Dibaca

Dua keping uang seribuan langsung dimasukkan ke dalam kaleng bekas minuman. Tanpa berlama-lama, pengamen berambut gondrong itu berterima kasih dan pindah ke orang lain. Sambil menyanyikan lagu-lagu galau, si pengamen menyodorkan kaleng yang sudah hampir terisi oleh uang receh. Sebagian orang menolak, sebagiannya lagi memberikan uang kepada pengamen itu.

Lampu berganti warna. Si pengamen segera menghampiri trotoar, lalu membiarkan kendaraan-kendaraan melaju. Dia duduk di bawah pohon, sibuk menghitung uang pendapatannya. Tak lama kemudian, saku pengamen itu bergetar. Dia merogoh HP jadulnya dan berbicara dengan si penelepon.

"Halo, Bro! Kau dapat duit berapa?"

"Dua puluh ribu, Bro. Bayangin!!"

"Wih, buset. Rajin banget, ya, ngamennya?"

"Haha, nggak juga, sih. Lu sendiri dapet berapa?”

“Makanya ke sini aja. Kumpul bareng yang lain!”

“Oke, tunggu aku, ya.”

Setelah selesai menelepon, pengamen itu memasukkan HP-nya ke dalam saku. Dia berjalan sambil memanggul gitar di tangan kanannya, dan kaleng uang di tangan kirinya.

Sesampainya di taman, ada sekitar tiga pengamen yang berkumpul di sudut. Mereka sama kumalnya seperti pengamen pertama. Baju mereka robek-robek, bahkan dua di antaranya tidak memakai alas kaki.

“Halo, sobat!” sapa pengamen kedua, yang berkulit gelap. “Lu dapet duit berapa?”

“Dua puluh ribu, Bos! Kau dapet berapa?”

“Ah, punyaku sedikit sekali. Halah, paling dapetnya lima ribuan. Gue males sama orang-orang yang selalu nolak kasih duit. Kata mereka, ‘Nggak ada uang receh!’.”

Pengamen pertama tertawa. “Lu aja kali yang nggak punya bakat nyanyi. Mereka pasti males sama suara cempreng lu, makanya nggak kasih duit.”

Pengamen kedua memukul pelan bahu temannya. Pengamen ketiga ikut nimbrung.

“Keren banget lu, ya, pintar main gitar. Suaramu juga kayak idol K-Pop gitu. Pantes aja dapat uang dua puluh ribu!”

“Loh, gue, kan, ngamennya dari pagi tadi. Gue juga keliling-keliling lama banget, cari lampu merah. Jangan-jangan kalian nggak ngamen, cuma nongkrong di sini doang?!”

“Heh, enak aja ngomong!” Pengamen keempat menghampiri pengamen pertama. “Kami juga sama, cari lampu merah. Sekalinya dapet, orang-orangnya nggak mau kasih. Kebanyakan, sih, ngomong ‘Nggak punya uang receh!’. Tapi minimal kami usaha terus, nggak mandek gitu.”

Pengamen pertama angkat bahu. “Ya, sudahlah! Sekarang kita ngapain?”

“Makan, yuk? Kebetulan ini udah siang, cari makan aja. Seenggaknya ke supermarket gitu, cari biskuit yang murah,” ajak pengamen ketiga.

Semuanya setuju, dan segera berangkat. Mereka mencari lama sekali, sampai kaki mereka capek dan tidak kuat untuk jalan lagi.

“Gue capek, Bro… kaki gue nggak mau disuruh jalan. Udah, ya, berhenti aja dulu?” pinta pengamen kedua.

“Hus, nggak mau makan, ya?” kata pengamen pertama. “Kita belum makan siang, tahu. Mau kelaperan di sini terus, sampai malam?”

Keempatnya berjalan terus, sampai menemukan sebuah warung kopi. Mereka menyerbu warung kopi itu, memesan teh jahe dan kopi.

“Duitnya cukup, nggak, ya?” bisik pengamen keempat.

“Cukuplah, tadi, kan, gue kan…” pengamen pertama merogoh-rogoh sakunya. Dia terkejut dan panik saat menyadari uangnya hilang.

“ASTAGFIRULLAH! Duitnya hilang!” jeritnya.

“Duh, bikin panik aja, nih, orang. Heh, kau taruh mana duitnya?” tanya pengamen ketiga.

Semuanya ikut mencari. Mereka bahkan menelusuri jalan yang tadi dilalui. Ternyata, uangnya sama sekali tidak ada.

“Barangkali diterbangkan angin,” bisik pengamen pertama dengan khawatir.

“Aduh, harusnya kau taruh betul-betul, dong! Yah, padahal duitmu itu yang seharusnya dipakai buat beli makan!” kata pengamen kedua.

Semuanya putus asa dalam mencari. Mereka terpaksa membatalkan pesanan dan pergi mengamen lagi. Si pengamen pertama bekerja keras mengumpulkan uang yang banyak untuk tebusan atas kecerobohannya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Ceroboh
Kiara Hanifa Anindya
Cerpen
RESCUE
ibupertiwi
Novel
Setitik Cahaya Yang Meredup
sandra firnawati
Novel
Bronze
Rain Puddles
Rakell
Novel
Tujuh Versi Ibu
Miska Tsabitha Fikri
Cerpen
Bronze
Topeng
Apriana Liunome
Novel
Bronze
Sebatas cinta, Sedalam Luka
Ulfah Pauziah
Flash
Mata Seorang Pemungut Sampah
Neo
Novel
ALFA
Alfasrin
Novel
Bronze
RUMAH MELODI: 3 PEREMPUAN 3 GENERASI
Kagura Lian
Flash
JADI ORANG JANGAN TOXIC!
Maria Cecilia W T
Novel
Bagaimana Cara Bahagia Selamanya?
kanun
Novel
Air mata istri
Mawar Hitam
Novel
Di bawah Pohon Pinus
Ati Raah
Novel
TITIK KEMBALI
Karla SB
Rekomendasi
Flash
Ceroboh
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Bronze
2024 dan 2025
Kiara Hanifa Anindya
Novel
Mind vs. Machine
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Bullying
Kiara Hanifa Anindya
Cerpen
Seandainya Hujan Tahu Apa Keinginanku
Kiara Hanifa Anindya
Cerpen
Bronze
Jalan yang Kamu Pilih Adalah Jalan Menuju Kebaikan
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Isi Bekal Amel
Kiara Hanifa Anindya
Novel
Bronze
The Veil of Forgotten Kings
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Belanja
Kiara Hanifa Anindya
Cerpen
Gara-gara Uang
Kiara Hanifa Anindya
Cerpen
Lawakan Geri
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Rindu
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Guru Marah
Kiara Hanifa Anindya
Flash
2025 dan 2026
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Bronze
Pak Guru Says!
Kiara Hanifa Anindya