Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Self Improvement
Ayu dan Canang yang Tak Sempurna
4
Suka
2,411
Dibaca

Setiap pagi, Gita membuka jendela kamar menghadap laut. Udara asin menempel di kulit, tapi di balik desir ombak, bisik-bisik itu selalu datang: suara tawa lelaki di lorong sekolah yang menyempit, derit engsel pintu gudang usang, dan tangan-tangan yang mengoyak tubuhnya seperti kain lapuk. Di Bali, dia mencoba bernapas tanpa menahan dada. Bibirnya masih sering mengatup rapat saat ingatan itu menggedor—seperti tadi siang, ketika seorang lelaki di warung tersenyum, matanya menyapu tubuhnya dari ujung rambut hingga jari kaki.

Tante Ayu tak pernah memaksa. Perempuan separuh baya itu hanya menata canang sari di beranda, merajut kamboja, melati, dan kuntum kenanga di atas daun pisang. “Lihat, Git,” bisiknya suatu senja, jemarinya menunjuk kelopak mawar yang layu di antara sesapuan dupa. “Siapa bilang kita harus utuh untuk dihaturkan ke langit? Yang patah pun punya doanya sendiri.”

Gita mulai duduk di samping Ayu, menyusun canang. Jarinya gemetar. Setiap helai bunga terasa seperti potongan dirinya yang dulu dirampas—wangi yang dibungkam, warna yang diinjak. Tapi Ayu menenangkan: “Kau yang pilih di mana menaruh bunga ini. Di sini, kau pemilik upacaranya.” Perlahan, Gita menempatkan kelopak yang sobek di sudut canang, lalu sejumput beras kuning di atasnya. Seperti merajut kembali diri dari yang tersisa.

Suatu malam, ia berdiri di tepi pantai. Kain kebayanya berkibar, diterpa angin yang menggigit. Ombak menyapu kakinya, dinginnya menusuk tulang, tapi ia tak mundur. Dari kejauhan, Ayu memandang sambil memegang sanggul hitam yang sudah dihiasi uban. “Berteriaklah,” bisiknya, suaranya lirih seperti doa. Gita menengadah. Langit gelap, tapi bintang-bintang berkelip.

Ia menjerit. Suaranya pecah, hancur, bercampur dengung laut. Tapi kali ini, jeritannya tak terperangkap di gudang usang—ia terbang, dibawa angin, dihanyutkan ombak ke ujung samudra.

Esok pagi, Ayu meletakkan canang baru di beranda. Ada kamboja yang patah tangkai, melati yang layu separuh, dan sejumput garam laut. “Persembahan untuk diri sendiri,” katanya. Gita tersenyum tipis.

Bali tak menghapus luka. Tapi di sini, di antara bunga yang tak sempurna dan doa yang tersekat, ia belajar: kadang penyembuhan hanya perlu ruang untuk bernapas.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (3)
Rekomendasi dari Self Improvement
Flash
Ayu dan Canang yang Tak Sempurna
Margita Kirana Cindy Wulandari
Cerpen
Neraka bagi Sang Munafik
Yovinus
Novel
DUKA SERENA
Ai Pitriani
Cerpen
Bronze
Langit
Hekto Kopter
Cerpen
Bronze
Mencari Jati Diri
Bang Jay
Flash
Lensa di Balik Tirai Dapur
INeeTha
Cerpen
Berkah
Titin Widyawati
Cerpen
Tanah yang Ditinggalkan
Yovinus
Novel
Bronze
Inheritance
Aylanna N. Arcelia
Cerpen
Bronze
Kisah Simsim yang Pemarah
Lia
Komik
Hidup Sehat ala Haryanto dan Teman-teman
Miftah Faturrachman
Cerpen
Bronze
Tahta Sunyi Sang Antagonis
Ron Nee Soo
Cerpen
Bronze
Bawa Aku, Kemana Kau Pergi
angin lembah
Flash
Bronze
Dunia Tanpa Sapu
Titin Widyawati
Flash
THE UNSUNG MELODY
Flora Darma Xu
Rekomendasi
Flash
Ayu dan Canang yang Tak Sempurna
Margita Kirana Cindy Wulandari