Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Self Improvement
Ayu dan Canang yang Tak Sempurna
4
Suka
5,818
Dibaca

Setiap pagi, Gita membuka jendela kamar menghadap laut. Udara asin menempel di kulit, tapi di balik desir ombak, bisik-bisik itu selalu datang: suara tawa lelaki di lorong sekolah yang menyempit, derit engsel pintu gudang usang, dan tangan-tangan yang mengoyak tubuhnya seperti kain lapuk. Di Bali, dia mencoba bernapas tanpa menahan dada. Bibirnya masih sering mengatup rapat saat ingatan itu menggedor—seperti tadi siang, ketika seorang lelaki di warung tersenyum, matanya menyapu tubuhnya dari ujung rambut hingga jari kaki.

Tante Ayu tak pernah memaksa. Perempuan separuh baya itu hanya menata canang sari di beranda, merajut kamboja, melati, dan kuntum kenanga di atas daun pisang. “Lihat, Git,” bisiknya suatu senja, jemarinya menunjuk kelopak mawar yang layu di antara sesapuan dupa. “Siapa bilang kita harus utuh untuk dihaturkan ke langit? Yang patah pun punya doanya sendiri.”

Gita mulai duduk di samping Ayu, menyusun canang. Jarinya gemetar. Setiap helai bunga terasa seperti potongan dirinya yang dulu dirampas—wangi yang dibungkam, warna yang diinjak. Tapi Ayu menenangkan: “Kau yang pilih di mana menaruh bunga ini. Di sini, kau pemilik upacaranya.” Perlahan, Gita menempatkan kelopak yang sobek di sudut canang, lalu sejumput beras kuning di atasnya. Seperti merajut kembali diri dari yang tersisa.

Suatu malam, ia berdiri di tepi pantai. Kain kebayanya berkibar, diterpa angin yang menggigit. Ombak menyapu kakinya, dinginnya menusuk tulang, tapi ia tak mundur. Dari kejauhan, Ayu memandang sambil memegang sanggul hitam yang sudah dihiasi uban. “Berteriaklah,” bisiknya, suaranya lirih seperti doa. Gita menengadah. Langit gelap, tapi bintang-bintang berkelip.

Ia menjerit. Suaranya pecah, hancur, bercampur dengung laut. Tapi kali ini, jeritannya tak terperangkap di gudang usang—ia terbang, dibawa angin, dihanyutkan ombak ke ujung samudra.

Esok pagi, Ayu meletakkan canang baru di beranda. Ada kamboja yang patah tangkai, melati yang layu separuh, dan sejumput garam laut. “Persembahan untuk diri sendiri,” katanya. Gita tersenyum tipis.

Bali tak menghapus luka. Tapi di sini, di antara bunga yang tak sempurna dan doa yang tersekat, ia belajar: kadang penyembuhan hanya perlu ruang untuk bernapas.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (3)
Rekomendasi dari Self Improvement
Flash
Ayu dan Canang yang Tak Sempurna
Margita Kirana Cindy Wulandari
Skrip Film
Registrasi mobile bank sulselbar
Call Center Resmi Permata Bank
Flash
Bronze
Baby Machine
Silvarani
Cerpen
Bronze
Pintu Impian
Sabilla SariFani
Cerpen
Bronze
Aku dan Tenang Pikiranku
Ezra Jo
Skrip Film
Transaksi Pending di Bank Sulselbar
Bank Sulselbar
Novel
Bronze
WOMEN: A Quiet Storm No One Sees
AMANDA LAUDYA YASMINE
Flash
Bronze
AWAN
Y. N. Wiranda
Flash
Bronze
Nostalgia
SIONE
Novel
Bronze
Mengarungi Sunyi
mahmudah romadhona
Cerpen
Yang Dia Pilih Saat Dunia Ditawarkan
Siti Sulha Darmaini
Flash
Satu Langkah Lebih Berani
Penulis N
Novel
Menit yang Tidak Terjadi
Zahran Taufiq Ridwan
Flash
Seplastik Anggur Merah yang Dioplos Keinginan Insaf
Ryan Esa
Flash
Bronze
Setangkai Bunga Sedap Malam yang Tak Berbau Sedap
Silvarani
Rekomendasi
Flash
Ayu dan Canang yang Tak Sempurna
Margita Kirana Cindy Wulandari