Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Misteri
Jendela di Rumah Sebelah
4
Suka
7,929
Dibaca

Perumahan Wijaya Asri tampak seperti tempat paling tenang di dunia. Pohon-pohon rindang, pagar putih rapi, dan suara burung yang bersahutan setiap pagi. Bagi Intan, ini terasa seperti awal yang baru. Ia baru saja pindah bersama ibunya setelah perceraian yang melelahkan.

Tapi ketenangan itu hanya bertahan dua hari.

Malam ketiga, saat Intan sedang menggulung tirai kamarnya, ia melihatnya—cahaya dari jendela rumah sebelah yang katanya kosong.

Ia memicingkan mata. Rumah itu gelap gulita sejak hari pertama. Tak ada mobil di garasi, tak ada lampu teras, dan rumputnya tumbuh liar. Tapi malam ini, cahaya kekuningan remang muncul dari lantai dua. Tepat dari jendela yang menghadap ke kamarnya.

Intan berpikir mungkin itu hanya pantulan lampu jalan. Tapi malam-malam berikutnya, cahaya itu muncul lagi—selalu sekitar pukul sebelas malam. Dan lebih anehnya lagi, sebuah siluet berdiri diam di balik tirai.

Ia sempat merekam dengan ponsel, tapi hasilnya buram. Seolah kabut menyelimuti layar setiap kali ia coba zoom.

Penasaran, Intan bertanya pada tetangga kanan-kiri.

“Oh… rumah itu memang kosong,” jawab Pak Burhan, tetangga sebelah kanan. “Sudah lima tahun. Pemiliknya pindah ke luar negeri.”

“Tapi saya lihat ada cahaya dari jendelanya, Pak.”

Pak Burhan menatapnya lama. “Saran saya… jangan terlalu sering melihat ke arah situ, ya.”

Intan menggigit bibir. Ia mencoba bertanya pada ibu, tapi ibunya hanya berkata pendek, “Jangan urusi rumah orang.”

Malam kelima, Intan tak tahan.

Ia naik ke loteng—sebuah ruang kecil berdebu yang lama tak digunakan. Dari situ, ia bisa melihat langsung ke lantai dua rumah kosong itu. Ia menyiapkan kamera ponsel, menunggu dalam diam, detik demi detik, sambil sesekali melirik jam.

Pukul 11.04, cahaya itu menyala. Tirai terbuka sedikit. Dan—di tengah ketegangan, Intan berhasil mengambil foto.

Jantungnya berdetak liar. Ia membuka galeri dan memperbesar gambarnya.

Siluet itu jelas sekali.

Dan ia terdiam.

Itu dirinya. Atau… seseorang yang sangat mirip dengannya, berdiri menatap keluar dengan ekspresi kosong.

Tangannya bergetar. Ia turun tergesa, hampir terjatuh di tangga loteng. “Mungkin itu hanya pantulan? Mungkin itu... mimpi?” gumamnya meyakinkan diri.

Namun siang berikutnya, ia memberanikan diri mengelilingi pagar rumah kosong itu.

Terkunci.

Ia mengintip dari sela jendela lantai bawah. Kosong. Berdebu. Tapi di meja ruang tamu, ada bingkai foto kecil. Ia menyipitkan mata.

Itu foto seorang anak perempuan—yang juga mirip dirinya sendiri.

Keesokan harinya, Intan mengajak ibunya duduk. Ia menunjukkan foto yang ia ambil dari loteng.

Wajah ibunya langsung pucat.

“Ma... siapa gadis ini?” tanya Intan.

Ibu menghela napas panjang, lalu berdiri dan mengambil map tua dari lemari. Ia membuka lembaran demi lembaran—akta kelahiran, dokumen rumah sakit, dan akhirnya sebuah foto bayi kembar.

“Kamu… punya saudara kembar, Intan,” bisik ibunya. “Namanya Nadya.”

“Kenapa aku tak pernah tahu?”

“Ia hilang saat usia dua tahun. Di taman kota. Kami mencarinya bertahun-tahun. Tapi polisi bilang… mungkin dia sudah tak ada.”

Intan menggigit bibir, kaget dan gemetar. “Tapi... kenapa fotonya ada di rumah sebelah? Kenapa dia muncul di jendela?”

Ibunya hanya menggeleng. “Rumah itu… dulunya rumah keluarga asuh yang pernah ingin mengadopsi Nadya sebelum dia menghilang. Tapi entah kenapa, mereka menghilang juga, pindah tanpa jejak.”

Malam itu, Intan kembali ke loteng. Tapi kali ini, ia membawa senter dan keberanian lebih besar. Ia menulis satu catatan kecil, menempelkannya di jendela:

Siapa kamu?

Pukul 11.07 malam, tirai rumah sebelah bergerak. Cahaya menyala. Sosok itu kembali.

Tapi kini, sosok itu mengangkat tangan dan menunjuk ke arah bawah, ke halaman belakang rumah itu.

Intan tertegun. Esoknya, ia memanjat pagar dan menyusuri halaman belakang. Di pojok taman yang hampir tertutup semak liar, ada batu kecil tertutup lumut, dan di bawahnya—jejak bekas galian yang telah tertimbun kembali.

Intan melapor ke polisi. Penggalian dilakukan.

Yang mereka temukan adalah tulang anak kecil, dibungkus selimut, dan sebuah boneka beruang lusuh bertuliskan nama: Nadya.

---

Sejak malam itu, lampu di jendela rumah kosong tak pernah menyala lagi.

Dan Intan tahu, kembarannya akhirnya menemukan jalan pulang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Misteri
Flash
Jendela di Rumah Sebelah
Penulis N
Novel
Gold
Not in Worderland
Bentang Pustaka
Cerpen
Bocah Merah (Mari bermain)
A.F Huda
Novel
I Am The Justice
Erika Angelina
Flash
Bronze
Kematian Tukang Teluh
Omius
Novel
Syarat dari Surat
Yuda Juanda
Novel
Gold
Bird Box
Noura Publishing
Flash
Filter
BANYUBIRU
Novel
Tanda Cinta dari Akhirat
Bamby Cahyadi
Novel
Perempuan Satu Peni
Revia
Skrip Film
Manuscript Hunters
Wirdatun Nafi'ah
Flash
Bronze
Di Balik Dinding
Omius
Novel
99
Dianikramer
Cerpen
Bronze
Mengulang Waktu
Teman Tualang
Cerpen
Bronze
Dia Yang Menjinjing Kepalanya
Lian lubis
Rekomendasi
Flash
Jendela di Rumah Sebelah
Penulis N
Novel
Fading Heartbeats
Penulis N
Cerpen
Alamat yang Tak Pernah Ada
Penulis N
Novel
Bintang di Hari Selasa
Penulis N
Novel
Chrono Prisoner
Penulis N
Novel
Veil of Roses
Penulis N
Novel
Kanvas Hati
Penulis N
Flash
Kopi Terakhir di Stasiun 12
Penulis N
Novel
Deadline dan Perasaan
Penulis N
Novel
Still Breathing
Penulis N
Cerpen
Langit Jingga
Penulis N
Flash
Malam Terakhir di Benteng Kapuran
Penulis N
Novel
Ruang Kosong di Meja Nomor 9
Penulis N
Cerpen
Lembayung di Alas Rawiya
Penulis N
Cerpen
Warkop Sebelah
Penulis N