Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
LANGIT SETELAH HUJAN
4
Suka
15,584
Dibaca

Langit sore itu kelabu, seperti biasa. Kota kecil di pinggiran selatan ini memang suka mengurung matahari terlalu lama, menyembunyikannya di balik awan dan diam.

Naira berdiri di balik jendela, menatap hujan yang turun seperti luka yang tak kunjung sembuh. Rumah ini sunyi, dan hanya suara ketukan rintik air di kaca yang jadi teman. Sudah tiga minggu sejak ibunya pergi. Bukan karena marah atau menghilang. Tapi karena ajal datang seperti kereta malam yang tak memberi peringatan.

Naira masih ingat hari itu: suara pecahan gelas, napas yang memendek, dan tubuh ibunya yang tergelincir di lantai dapur. Waktu seolah membeku, bahkan teriakan pun tak cukup cepat untuk menahannya.

Sejak itu, hujan seperti menetap. Tidak hanya di luar, tapi juga di dalam dirinya.

Hari ke-21 sejak pemakaman. Naira duduk di halte bus, tangan gemetar menggenggam payung biru tua yang pegangan bawahnya hilang. Benda itu peninggalan ibunya, dan entah kenapa, ia terus membawanya ke mana pun. Mungkin karena payung itu satu-satunya hal yang membuatnya merasa masih bisa “melindungi” seseorang—walau sudah tak ada lagi yang dilindungi.

Di halte itu, duduk seorang pria tua. Diam, dengan mata yang berkabut seperti langit senja.

“Kamu bawa payung rusak,” katanya tiba-tiba.

Naira menoleh, sedikit kaget.

“Itu kenangan,” jawabnya singkat.

“Kadang yang rusak lebih jujur,” balas si pria. “Karena ia tak pura-pura utuh.”

Naira menunduk. Air matanya hampir jatuh, tapi ia tahan.

Si pria mengeluarkan secarik kertas dari sakunya, menyerahkannya.

“Kalau kamu mau melihat langit, datanglah ke tempat ini. Jangan biarkan hujan terus jadi rumahmu.”

Sebelum Naira sempat bertanya, pria itu sudah berjalan pergi. Meninggalkan jejak di lantai yang basah dan hati yang mulai retak sedikit demi sedikit.

Alamat di kertas itu membawanya ke sebuah taman tua di pinggiran kota. Di sana, sebuah panggung kecil berdiri di tengah, setengah lapuk, seperti tak pernah dipakai lagi. Tapi ada sesuatu yang ganjil—di atas panggung, tergantung ribuan kertas kecil yang terikat benang, melayang-layang seperti hujan yang dibekukan oleh waktu.

Naira melangkah pelan. Ia memandangi satu per satu kertas itu. Semua bertuliskan hal yang sama: cerita kehilangan.

“Ayah saya pergi di hari saya ulang tahun.”

“Ibu saya meninggal saat sedang membuat sarapan.”

“Anak saya tak pernah kembali dari sekolah.”

Di antara kertas-kertas itu, Naira merasa seperti berdiri di tengah samudra luka. Tapi anehnya, ia tidak tenggelam.

Seorang wanita muncul dari balik pohon, tersenyum pada Naira.

“Selamat datang. Ini tempat orang-orang yang pernah patah,” katanya. “Kami tidak menyembuhkan. Kami hanya duduk bersama luka, dan mengakui bahwa ia ada.”

Naira menangis malam itu. Untuk pertama kalinya, bukan karena hancur. Tapi karena merasa tidak sendirian.

Dua bulan kemudian, langit mulai membuka diri. Matahari menampakkan wajahnya, dan daun-daun mulai berani tumbuh kembali.

Naira kini duduk di atas panggung kecil itu, memegang pena dan secarik kertas. Di sekelilingnya, anak-anak muda datang satu per satu. Membawa cerita, tangis, bahkan senyuman kecil yang baru tumbuh.

Ia menuliskan kalimat di kertasnya:

"Ibuku pergi, tapi hujan tidak membunuhku. Ia hanya mengajariku cara berenang dalam kenangan."

Kertas itu digantung bersama yang lain. Menjadi bagian dari atap langit itu. Bukan untuk menyembunyikan luka, tapi untuk menunjukkan bahwa luka pun bisa diterima.

Seorang anak perempuan duduk di sampingnya. Tangannya menggenggam payung patah gagang, yang terlihat familier.

“Kamu tahu?” kata Naira, tersenyum pada anak itu. “Kadang, kita tak butuh payung yang utuh. Yang kita butuh... hanya tahu ada seseorang yang mau berbagi tempat di bawahnya.”

Langit sore itu jingga. Hujan sudah berhenti. Dan di dalam dada Naira, ada sesuatu yang tumbuh. Bukan luka. Bukan air mata.

Tapi harapan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Mbok Kirah
Atsuka D
Novel
Hening - Kebisingan Penuh Warna
fotta
Skrip Film
Justice for Rose (Script)
Ika Karisma
Flash
Sang Penghibur Kerajaan
Jaydee
Flash
Tamu di Rumah Pinggir Kota
Halo Oys
Flash
Bronze
Langit Permen Kapas
eko s
Flash
Mempelai Perempuan
Joshua Vincentius
Flash
LANGIT SETELAH HUJAN
Penulis N
Flash
Back to My Childhood
Kiara Hanifa Anindya
Skrip Film
Untuk Asha
Diah Sari Fitriani
Flash
Cerita-Cerita Ketika Hujan Datang
Artie Ahmad
Cerpen
Mengawini Surtijah
Dina prayudha
Novel
Bronze
Sulung
Puan Purnama
Novel
Bronze
Rindu Yang Tak Terlihat ~Novel~
Herman Sim
Skrip Film
MORE THAN ME
Masella Dwi Lestari
Rekomendasi
Flash
LANGIT SETELAH HUJAN
Penulis N
Cerpen
Delta
Penulis N
Flash
Suara dari Kamar 213
Penulis N
Flash
KEMBALINYA SANG PENUNTUN
Penulis N
Flash
Kopi Terakhir di Stasiun 12
Penulis N
Novel
Kanvas Hati
Penulis N
Flash
Di Balik Surat untuk Kartini
Penulis N
Novel
Still Breathing
Penulis N
Novel
Bintang di Hari Selasa
Penulis N
Novel
Phantoms Eclipse
Penulis N
Cerpen
Jam Setengah Empat
Penulis N
Flash
Langkah Kecil, Perubahan Besar
Penulis N
Novel
Neon Drift
Penulis N
Cerpen
Pencuri Waktu (III)
Penulis N
Cerpen
Asap dan Kopi
Penulis N