Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
LANGIT SETELAH HUJAN
4
Suka
27,399
Dibaca

Langit sore itu kelabu, seperti biasa. Kota kecil di pinggiran selatan ini memang suka mengurung matahari terlalu lama, menyembunyikannya di balik awan dan diam.

Naira berdiri di balik jendela, menatap hujan yang turun seperti luka yang tak kunjung sembuh. Rumah ini sunyi, dan hanya suara ketukan rintik air di kaca yang jadi teman. Sudah tiga minggu sejak ibunya pergi. Bukan karena marah atau menghilang. Tapi karena ajal datang seperti kereta malam yang tak memberi peringatan.

Naira masih ingat hari itu: suara pecahan gelas, napas yang memendek, dan tubuh ibunya yang tergelincir di lantai dapur. Waktu seolah membeku, bahkan teriakan pun tak cukup cepat untuk menahannya.

Sejak itu, hujan seperti menetap. Tidak hanya di luar, tapi juga di dalam dirinya.

Hari ke-21 sejak pemakaman. Naira duduk di halte bus, tangan gemetar menggenggam payung biru tua yang pegangan bawahnya hilang. Benda itu peninggalan ibunya, dan entah kenapa, ia terus membawanya ke mana pun. Mungkin karena payung itu satu-satunya hal yang membuatnya merasa masih bisa “melindungi” seseorang—walau sudah tak ada lagi yang dilindungi.

Di halte itu, duduk seorang pria tua. Diam, dengan mata yang berkabut seperti langit senja.

“Kamu bawa payung rusak,” katanya tiba-tiba.

Naira menoleh, sedikit kaget.

“Itu kenangan,” jawabnya singkat.

“Kadang yang rusak lebih jujur,” balas si pria. “Karena ia tak pura-pura utuh.”

Naira menunduk. Air matanya hampir jatuh, tapi ia tahan.

Si pria mengeluarkan secarik kertas dari sakunya, menyerahkannya.

“Kalau kamu mau melihat langit, datanglah ke tempat ini. Jangan biarkan hujan terus jadi rumahmu.”

Sebelum Naira sempat bertanya, pria itu sudah berjalan pergi. Meninggalkan jejak di lantai yang basah dan hati yang mulai retak sedikit demi sedikit.

Alamat di kertas itu membawanya ke sebuah taman tua di pinggiran kota. Di sana, sebuah panggung kecil berdiri di tengah, setengah lapuk, seperti tak pernah dipakai lagi. Tapi ada sesuatu yang ganjil—di atas panggung, tergantung ribuan kertas kecil yang terikat benang, melayang-layang seperti hujan yang dibekukan oleh waktu.

Naira melangkah pelan. Ia memandangi satu per satu kertas itu. Semua bertuliskan hal yang sama: cerita kehilangan.

“Ayah saya pergi di hari saya ulang tahun.”

“Ibu saya meninggal saat sedang membuat sarapan.”

“Anak saya tak pernah kembali dari sekolah.”

Di antara kertas-kertas itu, Naira merasa seperti berdiri di tengah samudra luka. Tapi anehnya, ia tidak tenggelam.

Seorang wanita muncul dari balik pohon, tersenyum pada Naira.

“Selamat datang. Ini tempat orang-orang yang pernah patah,” katanya. “Kami tidak menyembuhkan. Kami hanya duduk bersama luka, dan mengakui bahwa ia ada.”

Naira menangis malam itu. Untuk pertama kalinya, bukan karena hancur. Tapi karena merasa tidak sendirian.

Dua bulan kemudian, langit mulai membuka diri. Matahari menampakkan wajahnya, dan daun-daun mulai berani tumbuh kembali.

Naira kini duduk di atas panggung kecil itu, memegang pena dan secarik kertas. Di sekelilingnya, anak-anak muda datang satu per satu. Membawa cerita, tangis, bahkan senyuman kecil yang baru tumbuh.

Ia menuliskan kalimat di kertasnya:

"Ibuku pergi, tapi hujan tidak membunuhku. Ia hanya mengajariku cara berenang dalam kenangan."

Kertas itu digantung bersama yang lain. Menjadi bagian dari atap langit itu. Bukan untuk menyembunyikan luka, tapi untuk menunjukkan bahwa luka pun bisa diterima.

Seorang anak perempuan duduk di sampingnya. Tangannya menggenggam payung patah gagang, yang terlihat familier.

“Kamu tahu?” kata Naira, tersenyum pada anak itu. “Kadang, kita tak butuh payung yang utuh. Yang kita butuh... hanya tahu ada seseorang yang mau berbagi tempat di bawahnya.”

Langit sore itu jingga. Hujan sudah berhenti. Dan di dalam dada Naira, ada sesuatu yang tumbuh. Bukan luka. Bukan air mata.

Tapi harapan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
RAFIAN
Arissa
Novel
Gagal move on
Suyanti
Novel
La Chica (Gadis itu)
Fitri Handayani Siregar
Novel
Iam Young Teacher
Kurnia Maya Sari
Komik
Pristine Spring
Izumi
Skrip Film
Absurd, Abstrak, dan Aling (Script)
KOJI
Skrip Film
Serenada Cinta
syafetri syam
Flash
LANGIT SETELAH HUJAN
Penulis N
Flash
Harapan Ayah
nirjana
Novel
Bronze
MY WAITING LIST : THE ORIGIN
Axel Bramasta
Novel
Bronze
Thin Is My Love
Diena Mzr
Novel
UPIK ABU VS DRUNELLA dan BARBETTA
Diana Tri Hartati
Flash
Bronze
Janji Palsu
Nabil Bakri
Novel
THE PORTRAIT OF DEATH
Nurul Hidayati
Novel
Bronze
Dilema Istri Pengganti
Aydhaa Aydhaa
Rekomendasi
Flash
LANGIT SETELAH HUJAN
Penulis N
Flash
Sepotong Senja di Halte Lama
Penulis N
Cerpen
Senja Selalu Pulang ke Halte Nomor Tiga
Penulis N
Novel
Neon Drift
Penulis N
Flash
SATU MALAM UNTUK BERTINDAK
Penulis N
Flash
Arsip Lantai Enam
Penulis N
Novel
Afterimage
Penulis N
Novel
Veil of Roses
Penulis N
Novel
Lelaki Berpayung Merah
Penulis N
Novel
Kanvas Hati
Penulis N
Novel
Chrono Prisoner
Penulis N
Cerpen
Langit Masih Menunggu Doamu
Penulis N
Flash
Lukisan Tanpa Nama
Penulis N
Flash
MISI TERAKHIR
Penulis N
Novel
Phantoms Eclipse
Penulis N