Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
One, Two, Still Love You
0
Suka
6,444
Dibaca

Berjalan lurus ke arah tempat tidur. Berbalik, jalan lagi ke arah pantri. Berbalik lagi. Sudah lima belas menit jantungku berpacu cepat. Ini pertama kalinya sejak enam tahun. Enam tahun! Mengapa setelah enam tahun aku hampir melupakannya, sepasang mata almond itu justru muncul kembali?

Tidak. Aku tidak mencari apalagi menemuinya. Aku sudah berjanji untuk tidak mengusiknya. Lagipula sepasang mata almond itu juga bukan miliknya. Melainkan milik seorang gadis kecil yang tak sengaja kutemui setelah menyelesaikan pekerjaanku di minimarket.

Ia berdiri cukup lama di depan pintu toko kue. Kepalanya menunduk, menatap jemari mungil yang sibuk dengan beberapa lembar uang kertas, mulutnya kecilnya komat-kamit.

"Empat puluh, enam puluh...."

Aku berhenti di depannya dan gadis kecil itu langsung mundur dua langkah sembari mengatakan, "Maaf." Bermaksud memberiku jalan.

"Apa kau tersesat, teman kecil?" Sapaku setelah menekuk lutut, berjongkok di hadapannya.

"Kau tidak lihat?" Ia mengangkat sejenak tangannya yang penuh oleh uang kertas. "Aku sedang berpikir untuk membeli kue. Hanya saja ... kurang sepuluh lagi. Kue yang kuinginkan harganya tujuh puluh."

"Ayo masuk! Aku bayarkan kurangannya!"

Gadis kecil itu menegakkan kepalanya dan ... mata almond itu bertubrukan dengan indra pengelihatanku. Aku sempat membeku sesaat. Lantas tersadar oleh jentikan jari si gadis kecil di dahiku. "Apa tadi?" tanyaku.

"Kubilang, aku tidak suka berhutang. Lain kali saja aku merayakan ulang tahunku."

"Jangan, dong! Hari se-spesial itu tidak boleh terlewat!" sambarku.

Gadis itu menggumam sejenak. "Baiklah. Kalau begitu, kuanggap sepertujuh bagian dari kue itu adalah hadiah dari Paman. Bagaimana?"

"Oke. Ngomong-ngomong, siapa namamu?"

"Rowena. Mama, Papa dan Kakak memanggilku Wen."

Lalu, Wen dengan riang memilih kue incarannya. Setelah petugas di toko membungkusnya dalam kotak, Wen berpamitan padaku. Katanya, jam bermain di luar sudah hampir habis. Dia bisa kena marah Mama jika tidak segera pulang.

Maka, kami pun berpisah. Namun sepotong hatiku masih tertinggal di sana. Entahlah, rasanya sedikit manis dan sedikit pahit. Apakah waras seorang pria merasakan hal sekompleks ini hanya karena melihat sepasang mata yang mirip dengan matanya?

Lupakan, Raja! Lupakan! Jika Wen tidak ada hubungannya dengan dia, untuk apa kau mencari tahu? Jikalau pun benar Wen adalah putrinya, memangnya kau mau apa?

Ieke, jika itu demimu, kesepian pun aku bersedia....

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
One, Two, Still Love You
Syafira Muna
Novel
Bronze
Menghitung Hari Dalam Isolasi
Rahellya
Novel
Kembali untuk Berubah
Minerva Rosaline
Novel
Don't Forget Me, Please?
William Oktavius
Novel
I'll Never Believe I'm Alone
Art Fadilah
Novel
Bronze
Musim Dingin di Izmir
Diana Dia
Skrip Film
IZINKAN AKU MEMILIKIMU
Sufaat pranduwinata
Novel
REMEDIAL
Andi bulan Rahma nabila
Novel
Seyya
Nadyas Aulia
Novel
GARIS TAKDIR
anis mahdzuroh
Novel
Bronze
Karle Minerva
Gilang Riyadi
Novel
(B) UTUH
Basmalahku
Novel
Bronze
Cakrawala
Cellestine
Novel
Bronze
Sebelum Pagi
Yuli Harahap
Novel
Held To Death
farahatus saniyah al barkah
Rekomendasi
Flash
One, Two, Still Love You
Syafira Muna
Flash
Mom's Fiftieth Birthday
Syafira Muna
Flash
Hanya Saja yang Mana?
Syafira Muna
Flash
Cinta Tak Terdefinisi
Syafira Muna
Flash
Hayyin Itu Spesial
Syafira Muna
Flash
Wherever You Are, I'll Find You
Syafira Muna
Flash
Dari Serulian, Untuk Rehan
Syafira Muna
Flash
Engklek
Syafira Muna
Flash
Back to The Day Before Today
Syafira Muna
Flash
Bronze
Lambat Bukan Berarti Tak Berguna
Syafira Muna
Novel
Limit: Rahasia Si Pencuri
Syafira Muna
Flash
Egoisme Imajiner
Syafira Muna
Flash
Cita, Cinta, dan Realita
Syafira Muna
Cerpen
Identitas Kedua Sang Master
Syafira Muna
Flash
One, Two, Lost You
Syafira Muna