Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
One, Two, Lost You
0
Suka
19,703
Dibaca

Sapaan tetangga dengan mudah membuyarkan lamunanku. Entah telah berapa lama aku mematung sambil memegang kunci yang telah masuk ke lubang silinder pintu. Setelah klik, kuputar kenop searah jarum jam. Engsel pun berderit.

"Baru pulang? Pasti parkur lagi! Sudah kubilang sehabis dari lokasi konstruksi itu langsung pulang!"

Seorang wanita yang rambutnya dicepol asal berdiri di depan pantri. Mengeluarkan sepiring telur dadar yang disiram saus asam manis, meletakkannya pada meja pendek di samping tempat tidur yang muat untuk dua orang.

Ieke berkacak pinggang. Mengangkat dagunya tinggi-tinggi. "Sudah dingin, tuh! Terserah mau makan apa nggak!"

Cukup berjalan empat langkah untuk dapat memeluknya dari belakang. "Ngambek? Iya, iya. Lain kali aku langsung pulang."

Ieke bergerak melepas dekapanku kepadanya. "Lain kali itu kapan? Kalau aku sudah mati?"

"Kalau aku sudah mati," selorohku asal.

Ieke melebarkan matanya, mengangkat kepalan tangan seperti hendak memukul. Dan ... dia benar-benar memukulku. Tetapi tentu saja tidak serius. Sebab yang serius baru datang setelahnya.

"Kau sungguhan tidak bisa berhenti parkur?" Ieke duduk di tepi tempat tidur, sedangkan aku menyantap masakannya.

"Kalau kubilang, nggak bisa, kau akan bagaimana?" Aku meliriknya sekilas. Kemudian menyendok sesuap lagi.

"Kita berpisah saja."

Sedetik, dua detik, aku belum bereaksi. Masih belum benar-benar percaya tentang apa yang baru saja masuk ke telingaku. Terus berusaha meyakinkan diri bahwa aku salah dengar.

"Raja, kita berpisah saja, ya?"

Tiba-tiba aku tersadar, dan gelagapan. "Nggak lucu, Ike...."

"Nggak ada yang lucu, Ja. Aku nggak lagi bercanda." Kutatap mata almond di hadapanku. Terlihat lelah dan berkaca-kaca. "Aku ... aku sudah memikirkannya."

Aku tahu, ini tidak sesederhana perihal Ieke yang tidak suka aku berlatih parkur. Ini juga perihal waktuku yang habis di luar dan jarang menemaninya. Ini juga perihal rendahnya semangatku untuk meraih kebebasan finansial seperti yang dia inginkan. Ini juga perihal ada begitu banyak kontradiksi kepribadian dari masing-masing kami yang tidak tersampaikan, sehingga mengendap dan menumpuk.

"Ja...?"

"Ah, iya. Aku pikir ini agak mendadak. Boleh kah jika sementara kita mengambil jarak untuk memikirkannya baik-baik?"

Engsel pun berderit. Dan Ieke benar-benar telah meninggalkanku.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
One, Two, Lost You
Syafira Muna
Novel
That Little Promise
achamrsha
Flash
Bronze
Apakah Cinta itu Berpola?
Nuel Lubis
Novel
Candu Sampai Ke Nadi
Syafina novita sari
Novel
Bukan Badboy Penyelamat Sekolah
Muhammad Azhar
Novel
Bronze
Bidadari Senjaku
Bagas Hanggara
Novel
Bronze
My First and Last
fransisca Lukito
Novel
Haruskah Aku Menikahi Sahabatku?
Jorachan
Cerpen
Bronze
HASRAT REMAJA, CINTA IBU0IBU
Beds jay
Cerpen
Art-A Latte
Dear An
Novel
Renata Keyla
Fiha Ainun
Novel
AKAD
Dini Kirani
Cerpen
Wonder Blossom
Adinda Amalia
Cerpen
Bronze
Buah Hatiku
OvioviO
Cerpen
Sansuyu Tumbuh Di Kepalaku
Deharuka
Rekomendasi
Flash
One, Two, Lost You
Syafira Muna
Flash
Mom's Fiftieth Birthday
Syafira Muna
Flash
Dari Serulian, Untuk Rehan
Syafira Muna
Flash
Back to The Day Before Today
Syafira Muna
Flash
One, Two, Still Love You
Syafira Muna
Flash
Cita, Cinta, dan Realita
Syafira Muna
Flash
Cinta Tak Terdefinisi
Syafira Muna
Flash
Hayyin Itu Spesial
Syafira Muna
Flash
Hanya Saja yang Mana?
Syafira Muna
Flash
Wherever You Are, I'll Find You
Syafira Muna
Cerpen
Identitas Kedua Sang Master
Syafira Muna
Flash
Bronze
Lambat Bukan Berarti Tak Berguna
Syafira Muna
Flash
Engklek
Syafira Muna
Flash
Egoisme Imajiner
Syafira Muna
Novel
Limit: Rahasia Si Pencuri
Syafira Muna