Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
One, Two, Lost You
0
Suka
12,984
Dibaca

Sapaan tetangga dengan mudah membuyarkan lamunanku. Entah telah berapa lama aku mematung sambil memegang kunci yang telah masuk ke lubang silinder pintu. Setelah klik, kuputar kenop searah jarum jam. Engsel pun berderit.

"Baru pulang? Pasti parkur lagi! Sudah kubilang sehabis dari lokasi konstruksi itu langsung pulang!"

Seorang wanita yang rambutnya dicepol asal berdiri di depan pantri. Mengeluarkan sepiring telur dadar yang disiram saus asam manis, meletakkannya pada meja pendek di samping tempat tidur yang muat untuk dua orang.

Ieke berkacak pinggang. Mengangkat dagunya tinggi-tinggi. "Sudah dingin, tuh! Terserah mau makan apa nggak!"

Cukup berjalan empat langkah untuk dapat memeluknya dari belakang. "Ngambek? Iya, iya. Lain kali aku langsung pulang."

Ieke bergerak melepas dekapanku kepadanya. "Lain kali itu kapan? Kalau aku sudah mati?"

"Kalau aku sudah mati," selorohku asal.

Ieke melebarkan matanya, mengangkat kepalan tangan seperti hendak memukul. Dan ... dia benar-benar memukulku. Tetapi tentu saja tidak serius. Sebab yang serius baru datang setelahnya.

"Kau sungguhan tidak bisa berhenti parkur?" Ieke duduk di tepi tempat tidur, sedangkan aku menyantap masakannya.

"Kalau kubilang, nggak bisa, kau akan bagaimana?" Aku meliriknya sekilas. Kemudian menyendok sesuap lagi.

"Kita berpisah saja."

Sedetik, dua detik, aku belum bereaksi. Masih belum benar-benar percaya tentang apa yang baru saja masuk ke telingaku. Terus berusaha meyakinkan diri bahwa aku salah dengar.

"Raja, kita berpisah saja, ya?"

Tiba-tiba aku tersadar, dan gelagapan. "Nggak lucu, Ike...."

"Nggak ada yang lucu, Ja. Aku nggak lagi bercanda." Kutatap mata almond di hadapanku. Terlihat lelah dan berkaca-kaca. "Aku ... aku sudah memikirkannya."

Aku tahu, ini tidak sesederhana perihal Ieke yang tidak suka aku berlatih parkur. Ini juga perihal waktuku yang habis di luar dan jarang menemaninya. Ini juga perihal rendahnya semangatku untuk meraih kebebasan finansial seperti yang dia inginkan. Ini juga perihal ada begitu banyak kontradiksi kepribadian dari masing-masing kami yang tidak tersampaikan, sehingga mengendap dan menumpuk.

"Ja...?"

"Ah, iya. Aku pikir ini agak mendadak. Boleh kah jika sementara kita mengambil jarak untuk memikirkannya baik-baik?"

Engsel pun berderit. Dan Ieke benar-benar telah meninggalkanku.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
SETIAP KAU DAN AKU BERTEMU
Ricardo Marbun
Flash
One, Two, Lost You
Syafira Muna
Novel
Gold
To You
Noura Publishing
Novel
Teman Hidup
Nandita Aprilias
Novel
The Lolipop Girl
Nia Ramadani
Novel
Life for Love
Fatimatuzzahro
Novel
PUTIH YANG KELAM HITAM YANG BERSINAR
feby handayani
Novel
Titik temu
Ulfi Nurul F
Novel
Relokasi Rasa
anggi
Novel
TAKE MY HAND
Al
Novel
ISLAM
AkuOsa
Flash
Delusi
Feby Irawan
Flash
Bronze
JIKA SURGA NGOMONG SAMA KAMU...
Shabrina Farha Nisa
Flash
Kesempatan Kedua
lidia afrianti
Novel
Gold
The Coffee Memory
Bentang Pustaka
Rekomendasi
Flash
One, Two, Lost You
Syafira Muna
Flash
Hanya Saja yang Mana?
Syafira Muna
Flash
Wherever You Are, I'll Find You
Syafira Muna
Novel
Limit: Rahasia Si Pencuri
Syafira Muna
Flash
One, Two, Still Love You
Syafira Muna
Flash
Back to The Day Before Today
Syafira Muna
Flash
Engklek
Syafira Muna
Flash
Dari Serulian, Untuk Rehan
Syafira Muna
Flash
A Cup of Roselle Tea
Syafira Muna
Flash
Cita, Cinta, dan Realita
Syafira Muna
Flash
Bronze
Lambat Bukan Berarti Tak Berguna
Syafira Muna
Flash
Egoisme Imajiner
Syafira Muna
Flash
Hayyin Itu Spesial
Syafira Muna
Flash
Cinta Tak Terdefinisi
Syafira Muna
Flash
Mom's Fiftieth Birthday
Syafira Muna