Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
BAJINGAN
4
Suka
16,645
Dibaca

Aku memilih duduk beberapa meja di seberangnya.

"Kopi pancong satu," Pesanku pada waiters, lalu aku menenggelamkan diri dengan gadget, dan mulai berselancar dengan scrolling mencari apa pun yang bisa mengalihkan perhatianku darinya.

Melihat mukanya membuatku kesal dan muak.

Di seberang sana, ia merasa bingung mengapa aku tidak duduk satu meja dengannya. Ia berusaha mencari kesempatan, berharap untuk memanggil atau tersenyum, mengajak duduk mengobrol, tapi aku sudah terlanjur dipenuhi dendam kepadanya.

***

Suatu malam, ia bertamu. Ia bilang sudah lama mencari aku hingga seseorang mengatakan bahwa aku tinggal di sebuah kota kecil, sehingga ia datang malam itu ke rumah.

"Masih ingat saya Pak? Saya Udin, Udin Awek," ujarnya mencoba membantu mengingatkan.

Dia sekarang punya bisnis, katanya, yang ia jalankan usai pergi merantau ke Riau. Di sana, ia bekerja di pabrik sawit, lalu belajar investasi pada seorang pekerja keuangan pabrik yang korup tentang investasi. Saat pandemi datang, ia pulang.

Dan di sinilah kemudian kami bertemu. Aku mengenalnya sebagai OB, hidup prihatin dengan keluarga di kampung yang kurang memadai. Aku membantunya hingga selesai kuliah, karena atas dasar itu ia datang dan berkata bahwa ia ingin membalas budi baik itu.

Dia menawarkan bisnis yang bisa membantuku, karena bisnis terlilit masalah sejak pandemi saat itu. Pucuk dicinta ulam tiba, dan dimulailah petualangan itu.

Uang pertama aku pinjam dari kerabat, katanya dikembalikan seminggu, tapi sebulan setelahnya belum kembali. Ia meminta aku mencarikan investasi agar dia bisa membantu menjadi penjamin bank. Aku menyanggupi, karena waktunya hanya sepuluh hari hingga sebulan.

Begitu seterusnya, karena alasan investasi dan aku mengenalnya, sambil berharap bantuan akan datang, uang investasi terus masuk ke perusahaannya, hingga berpuluh juta.

Tapi di sanalah ia mulai menjadi bajingan, selalu dengan janji setiap Senin dan Jumat, lalu Senin dan Jumat lagi hingga ke bulan berikutnya.

Tiba-tiba, ia menjadi bisu seakan ada peluit di telinganya. Bahkan, ia hanya bisa mengatakan beberapa patah kata yang dapat didengar jelas: "Uangnya sedang dalam proses." Kata yang sama itu selalu diucapkannya seperti orang idiot yang sulit bicara. Padahal sekarang sudah enam bulan, tanpa satu kepastian sama sekali.

Segala sumpah serapah, dari "bajingan," "bangsat," hingga "jahanam," sudah menyumpal di telinganya dan membuatnya tuli.

Mata jahatnya akan berputar-putar jika ia berbicara dengan kita, tapi anehnya, ia selalu merasa menjadi orang baik—katanya: "Jangan ucapkan kata jahat, aku tidak seburuk itu." Begitulah selalu ia katakan. Aku selalu tertawa mendengarnya, karena ketika ia mengatakan itu mukanya jadi terlihat tolol.

"Pak, Senin ini semuanya akan saya bayar, uangnya pasti ada," katanya. Aku pikir ia pasti sedang membual lagi, jadi aku acuh saja.

Pada hari Senin, aku tunggu kabar sejak pagi, ternyata nihil, rekeningku tetap sama saldonya. Aku berpikir, apa yang aku kira hanya kata-kata dari orang idiot ternyata memang benar. Hingga sebulan setelah mengatakan itu ia kembali menjadi munafik sama seperti kemarin. Cuma bisa mengatakan janji yang sama tapi tidak pernah ditepati.

Aku lantas mengirim pesan padanya. Aku tidak sepertimu, yang langsung lancar memaki temanmu dengan "bajingan, bangsat, padahal cuma dipinjam uang sebulan"

Aku bilang, "Aku belum mengatakan itu, karena aku orang baik. Mungkin suatu hari nanti aku akan menyumpahimu juga dengan 'bajingan, bangsat, jahanam, dan segala macam binatang buruk yang bisa aku sebut."

"Mungkin nanti aku juga akan menyumpahmu, dapat karma lebih menyakitkan, atas apa yang sudah kamu lakukan pada orang lain." Tapi belum untuk sekarang ini lanjutku dalam pesan itu.

***

Aku duduk di meja, menyesap kopi sambil memandang ke arahnya dengan cuek.

Tak lama setelah itu, dia mengirim pesan, "Kita harus bicara."

"Aku pikir kamu di Medan, itu yang selalu kamu jadikan alasan jika berbohong." Dia tak menjawab.

Jadi, aku mengirim pesan tambahan, "Aku pikir yang duduk di seberang siluman mirip kamu." Dia tahu aku marah besar.

Lalu, di layar WhatsApp muncul pesan: "Pak, uangnya sedang dalam proses. Saya pastikan Senin pasti dibayar."

Pesan itu tidak aku gubris karena seperti text message yang diketik ulang, tinggal copy-paste—persis seperti pesan enam bulan lalu yang biasa dikirim ke whatsApp-ku.

Aku tiba-tiba merasa pitam.

"Sudahlah, semoga Tuhan membuka hidayah dan masih memberi kamu waktu untuk bertobat sebelum mati," itu pesan jawabanku untuknya.

Dia memandang ke arahku, tapi aku cuek, tidak mengacuhkannya sama sekali.

***

Aku urung menarik pistol dari jaketku, dan sejurus kemudian pulang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
BAJINGAN
Hans Wysiwyg
Novel
Gold
My Funny Cousin
Mizan Publishing
Komik
COUNT:ER
Ka2ttekoi
Skrip Film
Mahardika
Ooza
Flash
Surat Penggemar
Pamella Paramitha
Flash
Bronze
Unfol My Idol
Silvarani
Flash
Bronze
Memenangi Perang Diri
alkaladia.
Flash
ORANG DALAM
Hans Wysiwyg
Flash
Memory
Anjas Saputra
Flash
Ketupat Sayur Sudah Basi
Lisnawati
Flash
AKU SUDAH BERJANJI
Linggarjati Bratawati
Novel
The Thing Called LOVE
M Fauzan Alghifari
Skrip Film
Aku, Kamu, Dia , dan Mereka Adalah Kita
Neo Kaspara Widiastuti
Flash
Ratu ghosting
Nuriska Beby
Flash
Bronze
Kakekku Playboy Jadul
Abdi Husairi Nasution
Rekomendasi
Flash
BAJINGAN
Hans Wysiwyg
Flash
ORANG DALAM
Hans Wysiwyg
Novel
DEKUT MERPATI PEMURUNG--The Mourning Dove Calling
Hans Wysiwyg
Flash
RUMAH SUNYI TANPA AKU
Hans Wysiwyg
Flash
Cheese Lovers
Hans Wysiwyg
Flash
Bangku Kosong di Baris Kedua
Hans Wysiwyg
Flash
Rumina dan Dunia yang Membisu
Hans Wysiwyg
Novel
TEDUH DALAM BARA
Hans Wysiwyg
Flash
CINTA MATI
Hans Wysiwyg
Flash
ONLY-- Sometime Truth is Cruel
Hans Wysiwyg
Flash
Cerita Baper
Hans Wysiwyg
Cerpen
SYURGA YANG DILELANG
Hans Wysiwyg
Flash
Luruh Bersama Angin
Hans Wysiwyg
Flash
IBU, AKU DAN DIA
Hans Wysiwyg
Flash
Laut Itu Luka
Hans Wysiwyg