Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Aurora di Petala Langit
2
Suka
17,332
Dibaca

“Kamu harus percaya, Ara,” kata Bahri suatu malam sebelum keberangkatannya. “Setiap pelaut butuh cahaya untuk pulang. Aku punya auroraku sendiri. Dan itu adalah kamu.”

Untuk pertama kalinya Ara akan ditinggal sang pujaan hati. Pergi jauh ke benua orang. Mencari harta karun dengan melewati badai kencang dan ombak raksasa. Terbesit rasa cemas di hati Ara. Tapi Bahri dengan sangat yakin sudah membuat janji itu. Dia bertekad untuk menjadi penunjuk pulang untuk Bahri lewat pintanya kepada Tuhan.

Waktu berlalu tanpa detak. Dingin. Surat yang dikirim Bahri mulai jarang datang. Satu per satu ombak mengikis harapan Ara, meninggalkan ruang kosong yang perlahan dipenuhi rasa takut. Suara jilatan ombak yang terbentur permukaan karang pantai bagaikan cibiran yang selalu menghantui dirinya. Apakah jangkar rasa yang tertanam di hatinya hanyalah ilusi? Atau Bahri memang telah menjadi bagian dari laut, menghilang bersama riak yang tak pernah kembali?

Siang dan malam terus berulang. Dan tidak satupun Ara melewatinya tanpa berharap cahayanya dapat sampai kepada Bahri dan menjadi penunjuk arah pulang bagi dirinya.

Semakin lama, kian banyak orang di desa itu yang mulai membicarakan nasib Ara. Beberapa pelaut yang pernah berpapasan dengan kapal milik Bahri di tengah lautan bahkan lebih banyak memberikan kabar yang tidak mengenakkan. Membuat kesabarannya untuk menunggu semakin menipis. Tapi setiap pagi dan malam, pinta itu tidak pernah berhenti. Hingga cahaya itu benar-benar menuntun Bahri untuk kembali.

Tahun demi tahun berlalu. Hari ini, kabar datang dari seseorang di pasar. Sebuah kapal telah bersandar setelah bertahun-tahun melaut. Di antara awak kapal, disebut-sebut ada nama yang pernah ia tunggu—Bahri. Ara tak tahu harus merasa apa. Harapannya seperti rantai kapal yang lama terbenam, tertarik ke permukaan begitu cepat hingga membuatnya gamang.

Malam turun perlahan, menyingkap tabir langit yang dipenuhi cahaya bintang. Ara masih berdiri di dermaga. Angin laut berembus lebih dingin dari biasanya. Dan kemudian, langkah-langkah berat mendekat.

“Ara?” suara yang begitu ia kenal menggetarkan udara di sekitarnya.

Ia berbalik, dan di sana, di bawah cahaya lampu dermaga, berdiri seseorang yang telah lama ia nanti. Bahri tampak lebih tua dari yang ia ingat. Rambutnya sedikit memutih di sisi pelipis, dan ada garis-garis lelah di wajahnya. Namun, matanya masih sama—mata yang selalu mencari arah pulang.

“Kau benar-benar ada di sini,” suara Ara lirih, hampir tak percaya.

“Aku selalu mencoba pulang,” jawab Bahri. “Tapi laut tak pernah memberi jalan yang mudah.”

Ara terdiam. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan, banyak luka yang ingin ia tunjukkan. Tapi di saat yang sama, ada sesuatu yang lebih besar dari semua itu. Yaitu keyakinan. Keyakinan bahwa mereka masih memiliki kesempatan. Bahwa bahtera yang dulu karam bisa kembali berlayar.

Bahri melangkah lebih dekat. “Masihkah kamu ingin melihat aurora bersamaku?”

Langit malam berpendar. Di kejauhan, cahaya utara mulai menari di petala langit. Seperti takdir yang kembali berpihak, seperti doa yang akhirnya dijawab oleh semesta.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ara tersenyum. “Aku selalu menunggumu, Bahri.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Bronze
Eleanor
Yuvitalya
Flash
Bronze
Jika Rasa Gak Pernah Bohong...
Shabrina Farha Nisa
Flash
Aurora di Petala Langit
Nabil Jawad
Novel
Are You My Twinflame?
Yvonie Oktharia Hutabarat
Cerpen
Sakurawisher
Adinda Amalia
Novel
Cinta Yang Dirindukan Surga
DENI WIJAYA
Flash
You Must (Not) Love Me
Silvia
Novel
EPIPHANY
Rindu Kamu
Novel
Leás
Nara
Flash
Bronze
Tak Ingin Menulis Lagi Tentang Dia
Anjrah Lelono Broto
Flash
Sisa - Sebelum Hujan Turun
Ayuningti
Novel
Past Infinity
Enya Rahman
Cerpen
Bronze
Cerita Anak Kos: Menemukan Arti Keluarga di Tengah Jauh dari Rumah
Vincentius Atrayu Januar Dewanto
Flash
Bronze
JIKA RUMAH BISA NGOMONG....
Shabrina Farha Nisa
Flash
Bronze
Terbawa Suasana ke Dia
Nuel Lubis
Rekomendasi
Flash
Aurora di Petala Langit
Nabil Jawad
Cerpen
Pantang Untuk Mencintai
Nabil Jawad
Cerpen
Mata Cekung Mbah Kukung
Nabil Jawad
Cerpen
Dunia Malam
Nabil Jawad
Cerpen
Jangan Seperti Ibu
Nabil Jawad