Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Jadilah anak soleha. Rajin sekolah dan mengaji. Berulang pesan itu terlontar dari mulut para orang dewasa di rumah, di sekolah dan tempat suci, maupun rumah mengaji.
Bibir Marin tertarik memamerkan senyum. Alquran kecil menempel di dadanya.
"Assalamualaikum, Ibu. Aku pamit pergi mengaji." Gadis kecil itu menyalami ibunya yang sedang sibuk menjahit kain berwarna biru. Ibu mengusap kepala putrinya.
"Rajin ngaji ya. Insya Allah Alquran itu akan menuntun hidupmu,"ucap Ibu lembut. Marin mengangguk. Melangkah kecil menuju tempat mengaji yang berjarak beberapa rumah. Letaknya di lorong depan.
Suara merdu para penuntut ilmu agama terdengar dari sebuah rumah bercat cokelat muda. Seorang guru mengaji dengan wajah mulai keriput mendengar lalu mengoreksi bacaan murid-muridnya yang duduk lesehan di karpet merah kusam. Di sanalah Marin berada.
Gadis berkudung kuning itu tersenyum sendiri di pojok ruang. Gurunya berjanji jika dia berhasil naik bacaan, maka dia akan dapat hadiah. Ini adalah harinya. Waktu berlalu dan matahari mulai memerah. Semerah wajah Marin saat mendapatkan hadiah yang tak pernah dibayangkannya.
"Bagaimana rasanya?" tanya sang guru parau. Marin diam seribu bahasa.
"Kau bisa belajar dari yang kulakukan tadi. Iya kan?" Lagi-lagi Marin membisu. Gadis yang terlihat rambut hitam ikalnya kini, tersenyum. Menatap kain kuning yang tergeletak di pangkuannya.
Dia menyeringai. "Aku tak dapat merasakan apapun, Guru," lirihnya. Lalu Marin berdiri memegang ujung ranjang di dekatnya. Menarik kain hijab kuning yang telah kusut dan perlahan melangkah pergi. Menutup pintu kamar berwarna putih.
"Aku pulang, Bu," ucap gadis kelas enam sekolah dasar itu, dengan hati perih. Dalam kebisuan malam dia terus berjalan. Bayangan sang guru merambati tubuhnya yang tiada daya membuatnya mual dan kesal. Sang Ibu menanti cemas kedatangan putrinya hingga di malam gulita. *)