Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Memotret Hujan (2)
4
Suka
24,938
Dibaca

Aku tak pernah menyerah memotret hujan. Selalu kucari cara untuk bisa memiliki fotonya yang estetis. Kemarau panjang kadang menghantam tanpa ampun. Banyak bunga yang mati karena layu.

Aku tak mau mati karena merindu. Tekadku sudah bulat. Sebelum musim hujan berakhir, aku harus sudah memiliki potretnya.

Aku harus memotret hujan!

Begitu gerimis turun, kulari keluar rumah dibalut jas hujan seraya kubuka payungku. Kuyakin hujan akan mengira aku gadis lain. Atau bahkan laki-laki. Ia tidak akan tahu penyamaranku.

Payung-payung berwarna-warni mengembang dengan cantiknya di jalan ketika hujan mulai deras. Tetes demi tetes air tergelincir ke bumi dengan cepat dan rapat.

Kuambil kameraku dari balik jas hujan dengan hati-hati. Jangan sampai hujan tahu apa yang akan kulakukan. Aku harus bergegas sebelum ia memanggil petir seperti dulu.

Kubidik objekku dengan konsentrasi penuh.

Jantungku berdebar tak wajar.

Sasaran sudah tepat.

Tinggal pencet tombol...

Wusss!!!

Angin kencang sekonyong-konyong datang dan menarik payungku. Aku tak bisa menahan tubuhku untuk tetap berdiri. Aku terseret, dan jatuh. Kameraku luput dari tanganku.

Kedokku terbongkar. Hujan menatapku. Tapi ia tidak menghindar. Hujan menerjang bumi semakin deras. Melampiaskan amarahnya dalam banjir. Menenggelamkan kameraku dalam lumpur.

Pupus harapan.

Sirna impian.

Kupejamkan mata. Kudengar hujan tertawa. Derainya bak tabuhan serdadu yang menang perang.

Saat kusadari, banjir semakin tinggi. Tak kukira hujan bakal begini gusar hanya gara-gara aku berusaha mengabadikan gambarnya.

Hujan mulai reda. Mungkin sadar kemarahannya terlalu agung. Orang-orang pasrah harta mereka tergenang.

Aku diam, teringat kameraku. Tak bisa aku mencarinya dalam genangan air ini.

Kulepas jas hujanku. Basah kuyup rasanya sampai ke tulang. Aku menggigil.

Kudapati bunga-bunga di bajuku tetap bersemi. Tak pernah layu ataupun membusuk.

Hujan kini gerimis.

Syahdu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Pengarang Idola
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
MALAM BERSAMA MALING
Anjrah Lelono Broto
Flash
Memotret Hujan (2)
Rie Yanti
Flash
Bronze
Pulang
Rere Valencia
Flash
Bronze
Aku, Dia dan Sahabatku
Christya Dita Yeskiaulina
Cerpen
Bronze
Kejutan Nanit untuk Hilmi, Sebelum Menikahkan Yulia
Habel Rajavani
Novel
Biru
Lintang Chandra
Novel
Bronze
TAHTA
Deasy Astari Dawangga
Novel
Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan
Erika Hasan
Skrip Film
MONA
Arienal Aji Prasetyo
Flash
Maghrib
Fatimah Ar-Rahma
Flash
Gerbong Kereta No 3
Sika Indry
Flash
Bronze
Lebih Jenjang
Yuisurma
Novel
Dia Pergi
Dina Ivandrea
Flash
Dewasa
Lentera jingga
Rekomendasi
Flash
Memotret Hujan (2)
Rie Yanti
Flash
Bronze
Bolu untuk Awan
Rie Yanti
Cerpen
Dan Semua Orang Bertepuk Tangan
Rie Yanti
Flash
Bronze
Memotret Hujan
Rie Yanti
Novel
Benang yang Tak Putus
Rie Yanti
Flash
Sepasang Kacamata di Ruang Tunggu
Rie Yanti
Cerpen
Peringkat Palsu
Rie Yanti
Novel
Orasi di Balik Pelaminan
Rie Yanti
Cerpen
Seminggu tanpa Gawai
Rie Yanti
Cerpen
Ami Sakit Perut
Rie Yanti
Cerpen
Standar Kenyang Indonesia
Rie Yanti
Cerpen
Kakek yang Suka Duduk di Tepi Jalan
Rie Yanti
Cerpen
Laki-laki yang Menyukai Perempuan Berambut Pendek
Rie Yanti
Cerpen
Sehari Sebelum Melati Masuk Sekolah
Rie Yanti
Cerpen
Balada Ikan Siap Goreng
Rie Yanti